Bung Karno, kala itu, sempat hadir, namun sebentar sebagai saksi pernikahan karena statusnya saat itu sebagai tahanan. Kemudian ia kembali lagi ke Wisma Yaso.
Dengan demikian, melalui keterangan, Roso Daras berharap bahwa anak-anak Fatmawati dan Soekarno bisa lebih merawat rumah peninggalan orang tua mereka yang akan diusulkan menjadi cagar budaya.
Roso Daras berharap, benang merah sejarah jangan sampai terlewati dan tidak dikenang oleh generasi berikutnya, sebaiknya b peninggalan bersejarah dilestarikan agar sejarah perjalanan bangsa ini bisa belajar dari masa lalu dengan mengubahnya masa depan menjadi lebih baik lagi
Rumah bersejarah yang kini menjadi sengketa kepemilikannya sudah masuk ke ranah hukum, berikut rumah gambaran rumah yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi itu.
Luas rumahnya saja sekira 718 meter persegi — sedangkan luas tanahnya seluas 1.400 meter persegi dikelilingi tanaman khas terawat apik, meski ada perabotan rumah terkesan kuno terlihat usang, namun justru memiliki nilai history yang kuat keberadaannya.
Konon, luas rumah tersebut oleh ibu Fatmawati — menyambungkan menjadi satu dengan keberadaan rumah yang ada dibelakangnya.
Memasuki rumah milik Guruh Soekarnoputra, ciri khas utamanya rumah tersebut memiliki ruang pustaka khusus, sebagaimana sang ayah kandungnya sebagai bapak Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia hobi membaca buku, dengan sendirinya Guruh Soekarnoputra ikut pula membaca buku-buku koleksi milik pribadi yang dijuluki sang Putera Fajar Bapak Proklamator Kemerdekaan RI sekaligus Presiden pertama RI.
Hal itu terbukti dari sebuah ruang khusus pustaka yang ada di dalam rumah tersebut.
Di ruangan pustaka tersebut lah Guruh Soekarnoputra menyempatkan waktu membacanya, buku-buku yang masih tertata rapi di dalam rak lemari yang di dusain secara khusus pula.
Tak jauh dari ruang pustaka, disebelahnya ruang tamu di disain elegan — mewah dipadu tembok diberi sentuhan warna hijau muda dengan dihiasi ukiran khas berwarna kuning keemasan.
Diruang tamu sengaja dipajang lukisan berukuran cukup besar bergambar mendiang Soekarno dan almarhumah Fatmawati.
Sebelum menuju ruang tamu, terdapat sebuah selasar penghubung yang terbuat dari kayu yang diukir dengan motif khas sangat klasik.
Ukiran-ukiran di kayu tersebut menghiasi sisi selasar rumah milik Guruh Soekarno Putra yang terletak di jalan Sriwijaya 2 nomor 9, Kebayoran Baru, Jaksel.
Melihat ruang keluarga terkesan kuat artistik – klasik banyak furniture berukiran kayu Jati khas Jawa.
Ruang sebelahnya merupakan ruang makan memiliki kesan serupa dengan ruangan – ruangan lainnya.












