Masih Tiga Tahun Isu Pilpres 2029 Memanas: Elektabilitas Prabowo Anjlok, Dedi Mulyadi Melejit, Apa Benar?

Dalam simulasi semi-terbuka SMRC, elektabilitas Prabowo tercatat sebesar 34,9 persen pada November 2025. Di tengah perubahan angka elektabilitas tersebut, nama Dedi Mulyadi juga ramai dikaitkan dengan Pemilu 2029.

Prabowo Subianto Vs Kang Dedi Mulyadi. Ada Kuda Hitam Gibran Rakabuming Raka

Jakarta, EDITOR.ID,- Peta politik menuju Pemilihan Presiden 2029 mulai menghangat, meskipun pesta demokrasi tersebut masih berjarak tiga tahun lagi. Bursa nama tokoh yang memiliki dukungan luas mulai bermunculan ke publik. Ada nama Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi.

Kemudian ada sosok Gibran Rakabuming Raka. Juga muncul nama Purbaya Yudhi Sadewa. Nama-nama yang baru muncul ini adalah wajah-wajah baru dan bukan stok politisi masa lampau.

Nama Prabowo Subianto yang saat ini menjabat Presiden RI juga masuk tokoh yang sangat diperhitungkan. Dengan modal menjadi penguasa negara, kans Prabowo untuk terpilih kembali sangat besar. Dan Prabowo kemungkinan besar akan maju lagi untuk periode yang kedua Pilpres 2029.

Hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pertengahan tahun ini sukses mencuri perhatian publik nasional.

Berdasarkan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode November 2025 hingga Juli 2026, peta elektabilitas sejumlah tokoh politik nasional mengalami perubahan signifikan.

Bagaimana tidak. Dikutip dari Youtube Tribunnews pada 23 September 2026, dalam survei tersebut, angka elektabilitas Presiden petahana Prabowo Subianto tercatat mengalami penurunan signifikan, sementara popularitas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), justru melesat tajam hingga memimpin bursa simulasi head-to-head.

Perubahan tersebut kemudian kembali menjadi perhatian setelah muncul wacana mengenai kemungkinan Dedi Mulyadi berpasangan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Namun, Dedi membantah bahwa dirinya tengah mempersiapkan langkah politik menuju Pilpres 2029.

Naik Turun Elektabilitas: Dari Angka ke Realitas Politik

Berdasarkan data SMRC periode November 2025 hingga Juli 2026, dinamika dukungan publik bergerak secara drastis. Pada November 2025, elektabilitas Prabowo berada di angka 34,9 persen, sempat terkoreksi tipis ke 33,3 persen pada Februari-Maret 2026, sebelum akhirnya merosot ke 14,5 persen pada Juli 2026.

Sebaliknya, tren positif dicatatkan oleh Dedi Mulyadi. Dari 19,7 persen di akhir 2025, elektabilitas KDM merangkak naik menjadi 23,3 persen pada awal 2026, dan menembus angka 35 persen pada Juli 2026.

Bahkan, dalam simulasi dua nama (head-to-head) yang diuji SMRC pada Juli 2026, Dedi Mulyadi memimpin dengan perolehan 59 persen, meninggalkan Prabowo di angka 28,3 persen, sementara 12,7 persen lainnya belum menentukan pilihan.

SMRC melakukan survei nasional pada 5-19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang memiliki hak pilih. Survei menggunakan wawancara melalui telepon dan tatap muka dengan margin of error sekitar 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pengamat Sebut Elektabilitas Bersifat Dinamis

Menanggapi fenomena ini, pengamat politik Universitas Katolik Parahyangan, Kristian Widya Wicaksono, menilai bahwa fluktuasi angka tersebut merupakan hal yang wajar dalam ekosistem demokrasi.

“Penilaian masyarakat terhadap tokoh politik dapat berubah mengikuti perkembangan situasi politik dan penyelenggaraan pemerintahan,” ujar Kristian menganalisis pergeseran dukungan yang terjadi.

Kristian Widya Wicaksono mengaitkan penurunan elektabilitas Prabowo dengan evaluasi masyarakat terhadap kinerja pemerintah.

Sementara kenaikan elektabilitas Dedi Mulyadi, menurutnya, tidak terlepas dari kedekatan Dedi dengan masyarakat serta pemanfaatan media sosial dalam membangun komunikasi dan citra politik.

Pandangan tersebut merupakan analisis Kristian terhadap hasil survei, bukan kesimpulan bahwa satu faktor tertentu menjadi penyebab tunggal perubahan angka elektabilitas.

Muncul Isu Duet Dedi Mulyadi-Gibran

Lonjakan elektabilitas ini otomatis membuat nama Dedi Mulyadi kian diperhitungkan dalam bursa kepemimpinan nasional. Di media sosial, wacana liar mulai bergulir, salah satunya menjodohkan KDM dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk Pilpres 2029.

Kendati demikian, KDM dengan tegas menepis isu tersebut. Saat ditemui di Gedung Pakuan, Bandung, ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali belum melirik panggung nasional dan memilih untuk fokus menuntaskan mandat rakyat di Jawa Barat.

“Kita lagi mikir bagaimana jadi gubernur yang sukses. Tidak mikir yang lain,” ujar Dedi Mulyadi saat diwawancarai di Gedung Pakuan, Bandung, Selasa (22/9/2026).

Ketika didesak mengenai adanya kemungkinan komunikasi atau lobi-lobi politik untuk berpasangan dengan Gibran, KDM memberikan jawaban penutup yang mencairkan suasana dengan gaya khasnya.

“Pokoknya tidak ada, hari ini saya berfokus bekerja aja memberikan yang terbaik. Mikir besok punya pacar atau tidak aja belum kepikiran,” tegasnya sambil tersenyum.

Dedi Pilih Fokus di Jawa Barat

Dedi mengatakan dirinya saat ini lebih memilih berkonsentrasi menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat.

Ia tidak ingin terlalu jauh membicarakan kontestasi politik yang masih berlangsung beberapa tahun ke depan.

Bahkan, Dedi menggunakan analogi mengenai kehidupan pribadinya untuk menggambarkan bahwa Pilpres 2029 belum menjadi hal yang sedang dipikirkannya.

“Mikir besok punya pacar atau tidak aja belum kepikiran,” ucap Dedi.

Pernyataan tersebut disampaikan Dedi ketika isu mengenai kemungkinan duetnya dengan Gibran tengah ramai diperbincangkan di media sosial.

Dengan demikian, untuk saat ini Dedi menyatakan fokusnya adalah menjalankan pemerintahan di Jawa Barat dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

SMRC Juga Uji Simulasi Dua Nama

Selain simulasi semi-terbuka, SMRC juga menguji simulasi yang hanya mempertemukan Dedi Mulyadi dan Prabowo.

Dalam simulasi tersebut, Dedi memperoleh 59 persen dukungan, sedangkan Prabowo mendapat 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden menyatakan belum tahu atau tidak menjawab.

SMRC juga mencatat perubahan pada simulasi dua nama sejak Februari-Maret 2026. Dukungan terhadap Dedi pada periode tersebut tercatat 42,6 persen, kemudian meningkat menjadi 59 persen pada Juli.

Sementara dukungan terhadap Prabowo pada periode yang sama berubah dari 50,5 persen menjadi 28,3 persen.

Hasil survei tersebut menggambarkan pilihan responden dalam periode pengambilan data Juli 2026. Angka survei tidak dengan sendirinya menunjukkan keputusan politik yang akan terjadi pada Pemilu 2029.

Hingga September 2026, Dedi Mulyadi sendiri menyatakan belum memikirkan pencalonan maupun kemungkinan berpasangan dengan Gibran dan memilih berkonsentrasi menjalankan tugasnya sebagai Gubernur Jawa Barat. ***

Leave a Reply