YOGYAKARTA, EDITOR.ID — Ada yang berbeda! Keraton Yogyakarta tahun ini tidak menggelar atau meniadakan upacara tradisi Grebek Besar. Ritual ini biasanya mengarak Gunungan sebagai tradisi Keraton Yogya membagi “sedekah” kepada warga masyarakat. Dan Gunungan biasanya menjadi rebutan warga karena Gunungan yang biasanya berisi hasil panen dan sayur mayur dianggap membawa berkah.
Dalam tradisi Grebek Besar, Keraton juga biasanya menampilkan “Pawai Prajurit”. Namun tahun 2026 ini acara tersebut tidak ada lagi. Ada apa?” Tak seperti biasanya ada arak-arakan publik, apakah ini cara terbaru Sri Sultan Hamengku Buwono X membagikan sedekah Raja di Garebeg Besar Dal 1959?
Sudah menjadi agenda tahunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar upacara Hajad Dalem Garebeg Besar Dal 1959/2026 pada Rabu (27/05/2026) pagi.
Berdasarkan Dhawuh Dalem (perintah resmi) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10, prosesi kali ini dilaksanakan dengan nuansa yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Berikut adalah laporan mendalam mengenai pelaksanaan Garebeg Besar yang berlangsung khidmat tersebut:
Wujud Kesederhanaan di Bangsal Srimanganti
Jika biasanya Garebeg Besar identik dengan kemeriahan yang menyedot perhatian ribuan wisatawan, tahun 2026 ini Keraton Yogyakarta memilih jalan kesederhanaan. Upacara dialihkan sepenuhnya ke dalam kawasan internal keraton, tepatnya di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti, dengan mengutamakan kekhidmatan ritual keagamaan dan budaya.
Tiadanya Gunungan dan Parade Prajurit
Dua ikon utama yang paling dinantikan masyarakat dalam setiap upacara Garebeg, kali ini diputuskan untuk ditiadakan:
Gunungan Fisik: Tidak ada gunungan raksasa yang diarak keluar dari Kedhaton menuju Masjid Gedhe Kauman.
Parade Bregada: Iring-iringan prajurit Keraton yang biasa berparade di sepanjang jalan juga tidak dilaksanakan.
Esensi Sedekah: 4.000 Ubarampe Pareden Dibagikan
Meskipun visualisasi visual gunungan ditiadakan, esensi utama Garebeg sebagai bentuk sedekah raja tetap berjalan teguh. Sebagai gantinya, Keraton menyiapkan 4.000 buah ubarampe pareden yaitu makanan atau sesaji pelengkap gunungan yang telah didoakan.
Seluruh ubarampe ini dibagikan secara merata kepada para Abdi Dalem sebagai simbol keberkahan dan rasa syukur.
Jalannya Prosesi dan Keterlibatan Keluarga Kerajaan
Prosesi pembagian ini berjalan dengan sangat terstruktur dan sakral: Ritual Doa Bersama: Acara dimulai pukul 09.00 WIB, dipimpin oleh Kanca Kaji (Abdi Dalem urusan keagamaan) untuk memohon keselamatan dan berkah bagi semesta.
Keterlibatan Putri dan Menantu Dalem: Penyerahan ubarampe dilakukan langsung oleh para Putri Dalem dan Menantu Dalem, di antaranya GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, serta KPH Wironegoro dan KPH Notonegoro.
Kehadiran Cucu Raja
Tampak hadir pula Wayah Dalem (cucu Sultan), RM. Manteyyo Kuncoro Suryonegoro, di Bangsal Srimanganti.
Sistem Distribusi Internal
Ubarampe diserahkan secara simbolis kepada perwakilan Abdi Dalem, yang selanjutnya mendistribusikannya ke masing-masing Kawedanan Hageng dan Kawedanan (unit kerja internal keraton).
Catatan Redaksi: Keputusan Keraton Yogyakarta untuk menyederhanakan ritual Garebeg Besar Dal 1959/2026 ini membuktikan bahwa hilangnya pawai publik tidak mengurangi nilai spiritual. Ritual ini tetap menjadi wujud nyata dari rasa syukur, doa bersama untuk kesejahteraan, serta kelestarian tradisi sedekah Sultan kepada keluarga besar Keraton. (*)












