Jakarta, EDITOR.ID,- Rumah milik jenderal polisi bintang dua di Perumahan Puri Anjasmoro, Semarang Barat, Kota Semarang, mengalami kerusakan parah hingga sejumlah bagian tidak lagi dapat ditempati. Pengalaman pahit inilah yang harus dirasakan oleh Irjen Pol. Sofyan Nugroho bersama istrinya, dr. Niken Diah Anitasari.
Kediaman mereka yang berlokasi di Perumahan Puri Anjasmoro, Semarang Barat, Kota Semarang, mengalami kerusakan parah hingga sejumlah bagiannya tidak lagi layak huni dan nyaris roboh. Sejumlah bagian bangunan terlihat mengalami keretakan, kemiringan, hingga kerusakan pada struktur.
Kerusakan struktural yang masif ini diduga kuat bermula dari proyek pembangunan rumah tetangga yang berdiri persis di sebelah kediaman mereka. Apa yang awalnya hanya berupa retakan tipis pada dinding seiring waktu semakin melebar menjadi malapetaka bangunan.
Rekahan tersebut kian melebar, memicu kemiringan struktur, hingga puncaknya atap bagian garasi ambruk total pada pekan lalu.
Bahkan, terdapat celah besar di antara tembok yang membuat penghuni rumah dapat melihat langit dari dalam.
Tujuh Tahun Hidup Dalam Cemas Rumah Nyaris Ambruk
Akibatnya selama tujuh tahun Irjen Pol. Sofyan Nugroho dan istrinya, dr. Niken Diah Anitasari, selalu hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran di rumah mereka sendiri. Bangunan rumahnya banyak yang retak dan nyaris ambruk.
“Saya sangat was-was. Mulai dari awal saya selalu was-was, khawatir, takut bercampur aduk. Apalagi kalau pas hujan, dan hujannya pakai angin dan lama. Sampai takut tidur,” ujar Niken saat ditemui di rumahnya, Selasa (8/9/2026).
Atap Garasi Ambruk Jika Hujan Bocor Kemana-Mana
Niken menjelaskan, bagian rumah yang mengalami kerusakan paling parah adalah garasi. Seluruh atap garasi ambruk sehingga bagian atas rumah kini terbuka.
Air hujan pun mudah masuk ke area tersebut. Kondisi itu membuat garasi tidak lagi digunakan untuk menyimpan kendaraan.
“Bocor di mana-mana. Dulu di sini garasi, biasanya buat nongkrong-nongkrong. Terus semenjak ambruk, mobil kita keluarkan semua, enggak ada yang masuk di dalam. Kecuali memang ini sepeda karena kemarin rencana mau untuk sepedaan Bapak. Jadi enggak sempat, setelah digunakan enggak sempat dipindah ke depan,” beber Niken.
Sementara itu, ruang sopir yang berada di atas garasi juga mengalami kemiringan dan dikhawatirkan ikut roboh.
Awalnya Retakan Tipis Kemudian Melebar
Niken mengatakan, kerusakan awalnya hanya berupa retakan tipis pada dinding. Namun, kondisi tersebut semakin parah seiring waktu.
Kerusakan juga terjadi di bagian dalam rumah. Ruang yang sebelumnya digunakan sebagai kamar sopir tidak lagi ditempati dan akhirnya dipindahkan ke area musala.
Ruang makan di bagian tengah rumah juga tidak digunakan secara normal. Area tersebut diberi pembatas agar tidak dilewati penghuni.
“Terus ruang di tengah ini pun sudah tidak kami manfaatkan lagi. Ruang driver sudah kami pindah ke musala yang seharusnya untuk musala, sekarang jadi ruang tidur driver. Terus ruang makan di tengah itu pun kami selalu pagari,” katanya.
“Jadi, saya sebisa saya menyelamatkan. Saya tata kursi-kursi, harapannya enggak ada yang lalu lalang lewat di situ karena sudah, kalau panjenengan bisa perhatikan ini, saya bisa lihat langit dari dalam karena renggang begini,” lanjutnya.
Lantai dua rumah juga terpaksa dikosongkan. Perabot dan barang-barang keluarga dipindahkan ke lantai bawah karena bagian atas dinilai tidak lagi aman untuk ditempati.
“Jadi lantai dua sudah tidak bisa digunakan. Takut kalau ada apa-apa, jadi kami pindahkan semua jadi satu di bawah sini. Jadi berantakan, maaf ya,” imbuhnya.
Di bagian ruang tengah, terdapat rekahan lebar pada dinding. Celah tersebut bahkan memungkinkan penghuni melihat bagian luar bangunan hingga langit.
“Jadi bisa lihat langit dari sini, kan,” ucapnya.
Kondisi tersebut membuat Niken mengaku selalu merasa waswas ketika berada di dalam rumah. Kekhawatiran semakin besar ketika hujan deras disertai angin.
Sudah Dilaporkan ke Polisi
Sofyan dan Niken mengaku telah melaporkan tetangganya kepada polisi pada 2022. Laporan tersebut dibuat atas dugaan perusakan rumah dan bangunan setelah upaya penyelesaian secara kekeluargaan melalui beberapa kali mediasi tidak menemukan titik temu.
“Kami lapor karena kami sudah berinisiatif mengundang mereka untuk mari selesaikan secara baik-baik karena kami berprinsip tetangga itu saudara yang terdekat. Kalau ada apa-apa pasti yang pertama kali akan bergerak itu adalah tetangga. Tidak mungkin menghubungi saudara yang jauh dari kita,” ujar Niken.
Namun, menurut Niken, upaya tersebut tidak mendapatkan respons yang diharapkan.
Ia mengeklaim bahwa tetangganya telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan perusakan bangunan. Perkara tersebut telah dilimpahkan ke kejaksaan, tetapi hingga kini belum ada kejelasan mengenai kelanjutannya.
“Sudah dilimpahkan ke kejaksaan juga, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. Dalam artian kami selaku pelapor tidak menerima pemberitahuan apa pun dari kejaksaan kasus ini mau dibawa ke mana. Kalau memang berhenti, masalahnya di mana?” ungkap Niken.
Menurut Niken, kondisi rumah yang rusak membuat keluarganya kehilangan kenyamanan. Mereka tidak lagi dapat menggunakan sejumlah ruangan di rumah seperti sebelumnya.
Ia berharap tetangganya bersedia bertanggung jawab dan meminta maaf atas kerusakan yang terjadi.
“Saya tidak mau uang, saya mau rumah ini dibangun lagi saja. Harapan saya rumah itu kan tempat kita setelah bekerja, beraktivitas di luar, berkumpul bersama keluarga, bercengkerama, senda gurau. Jadi kami sudah kehilangan itu,” kata Niken. ***












