Malut, Sulut, EDITOR.ID – Gempa bumi besar 7,7 magnitudo, baru saja mengguncang wilayah Maluku Utara (Malut) dan Sulawesi Utara (Sulut) pada pagi hari ini, Kamis, 2 April 2026. Di Kota Manado, guncangan terasa kuat dan panjang, bahkan menimbulkan korban jiwa di area gedung KONI Sulut.
Korban tewas bernama Deice Lahia (perempuan, usia 70 tahun), kakak dari mantan petinju Sulut, Ilham Lahia. Keluarga ini berwirausaha di sekitar gedung KONI tersebut.
Razid Poli, saksi mata, melihat Deice Lahia beraktivitas menyiapkan jualannya.
“Dia tertimpa bangunan saat hendak keluar menyelamatkan diri,” kata Razid.
Polisi yang dipimpin langsung Wakapolda Sulawesi Utara, Brigjen Pol Awi Setiyono, pun mendatangi lokasi gedung KONI.
“Akibat gempa tersebut, kanopi sebelah utara gedung KONI roboh dan menimpa warga. Satu orang dinyatakan meninggal dunia,” ujar Awi.
Jenazah Deice Lahia kemudian dievakuasi dari balik puing-puing besi dan beton yang berserakan. Dengan hati-hati, petugas mengangkat tubuhnya menggunakan tandu, lalu membawanya ke RS Bhayangkara Manado untuk pemeriksaan forensik.
Hingga kini BPBD/BNPB sedang melakukan langkah-langkah diantaranya menghimbau agar masyarakat diminta tetap tenang namun waspada terhadap gempa susulan. Hingga pukul 10.00 WIT, telah terjadi setidaknya 29 kali gempa susulan.
Evakuasi warga di wilayah pesisir Ternate (seperti di Kayu Merah dan Gambesi) sempat mengungsi ke tempat yang lebih tinggi / pegunungan karena panik dan mengikuti peringatan awal.
BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) melaporkan gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 7,6 terjadi pada pukul 06.48 WIT (atau 04.48 WIB).
Pusat gempa berada di laut, sekitar 127 km tenggara Bitung, Sulut, atau di perairan dekat Pulau Batang Dua, Ternate.
Kedalaman sangat dangkal, tercatat antara 10 km hingga 18 km (sebagian data awal menyebut 62 km namun dimutakhirkan).
Intensitas guncangan dirasakan sangat kuat di Ternate dengan skala V-VI MMI (hampir semua penduduk lari keluar, kerusakan ringan pada bangunan). Di Manado terasa IV-V MMI.
Status peringatan dini datangnya Tsunami sempat dikeluarkan dengan status siaga untuk wilayah Ternate, Halmahera, dan Tidore. Namun, BMKG telah resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 09.56 WIB.
Tsunami kecil memang sempat terdeteksi di beberapa titik melalui alat monitoring seperti terjadi di Minahasa Utara ketinggiannya 0,75 meter. Di Sidangoli (Halmahera Barat) ketinggiannya 0,35 meter. Di Ternate / Halmahera Barat ketinggiannya sekitar 0,30 meter. Dan Bitung ketinggiannya sekitar 0,20 meter.
Penjelasan Otoritas (BPBD/BNPB Maluku Utara) dan tim teknis terkait (dalam konteks ini Anda menanyakan BNPT Malut, namun secara operasional penanggulangan bencana dipimpin oleh BPBD/BNPB).
Kondisi masyarakat dan infrastruktur seperti korban jiwa di Manado (Sulut), dilaporkan ada satu korban jiwa akibat tertimpa reruntuhan bangunan gedung KONI yang ambruk. Di Maluku Utara, hingga saat ini laporan masih difokuskan pada kerusakan material.
Kerusakan bangunan yang terjadi di Ternate, sejumlah rumah warga di Kelurahan Gambesi mengalami kerusakan ringan (dinding retak/plester rontok).
Beberapa fasilitas publik seperti Gereja Kalvari di Ternate dilaporkan terdampak.
Gedung KONI Sulawesi Utara mengalami kerusakan struktural yang signifikan.
BMKG pusat mengklaim telah mengirimkan tim ahli ke Malut dan Sulut untuk melakukan survei makroseismik guna memetakan sebaran kerusakan secara detail. (*)












