KUDUS, EDITOR .ID — Pelataran Halaman Pendapa Kabupaten Kudus menjadi saksi sejarah baru pelestarian budaya lokal pada Sabtu (26/9/2026). Sebanyak 670 penari sukses memecahkan Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) lewat sajian kolosal Tari Lajur Caping Kalo. Momentum ini menegaskan posisi Caping Kalo bukan sekadar kerajinan anyaman bambu, melainkan simbol identitas serta kebanggaan masyarakat Kudus.
Acara megah tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Kudus Sam’ani Intakoris beserta Ketua TP PKK Kabupaten Kudus Endhah Sam’ani Intakoris, Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha, perwakilan MURI, jajaran jajaran Forkopimda, serta perwakilan dari PT Nojorono Tobacco International dan Yayasan Kampung Budaya (YKB) Nojorono.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen yang terlibat dalam mendukung pemecahan rekor sekaligus pemajuan kebudayaan daerah ini.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT Nojorono, YKB Nojorono, para penari, dan seluruh masyarakat Kudus. Ini adalah kerja bersama dalam nguri-uri kebudayaan,” ujar Sam’ani.
Guna memastikan Caping Kalo tidak berhenti sebagai artefak museum, Pemkab Kudus telah menyiapkan skema pelestarian dari hulu ke hilir. Di antaranya melalui pelatihan regenerasi pengrajin oleh Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Kudus, lengkap dengan pendampingan strategi pemasaran digital. Selain itu, kebijakan kewajiban mengenakan pakaian adat Kudus setiap tanggal 23 terus diperkuat sebagai langkah pembiasaan bagi generasi muda.
Kaya Makna Filosofis dan Tradisi Lisan
![]()
Kehadiran Caping Kalo dalam bentuk seni pertunjukan tarian mendapat perhatian khusus dari kalangan akademisi dan peneliti tradisi lisan daerah. Caping Kalo selama ini memegang peranan penting dalam narasi tutur masyarakat Kudus, baik sebagai simbol kesucian, kerapian, maupun keanggunan wanita pesisiran Jawa.
Pemerhati Tradisi Lisan dan Kebudayaan Kudus dari Universitas Muria Kudus (UMK), Dr. Ahmad Saifuddin, M.Hum., menilai tarian massal ini berhasil menjembatani tradisi lisan dengan ekspresi seni modern.
“Caping Kalo bukan sekadar penutup kepala atau atribut busana adat. Dalam ingatan kolektif dan cerita rakyat Kudus, Caping Kalo menyimpan nilai filosofis tentang perlindungan, ketenangan, dan kehormatan wanita. Mengangkatnya ke dalam seni tari kolosal seperti Tari Lajur adalah bentuk ekologis budaya—menghidupkan kembali cerita dan memori tutur yang dulu melekat pada para leluhur agar dipahami oleh anak muda hari ini,” jelas Saifuddin.
Senada dengan hal tersebut, Pengkaji Budaya Lokal dan Maestro Seni Kudus, Ki Sugeng Riyadi, menegaskan pentingnya regenerasi pengrajin yang diimbangi dengan pemahaman nilai historis.
“Kerajinan Caping Kalo sempat berada di ambang krisis karena sedikitnya pengrajin tua di kawasan Desa Gunungsari. Langkah Pemkab melalui pelatihan BLK dan kolaborasi dengan sektor swasta seperti Nojorono sangat krusial. Tradisi lisan dan kriya itu ibarat dua sisi mata uang: kriyanya adalah wujud fisiknya, sedangkan kisah filosofis di baliknya adalah rohnya. Jika penarinya paham sejarahnya dan pengrajinnya terus beregenerasi, Caping Kalo tidak akan pernah punah,” tegas Ki Sugeng.
Dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan RI juga memperkuat komitmen penataan ekosistem kebudayaan di daerah. Wamenbud RI, Giring Ganesha, mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah, komunitas seni, dan pihak swasta dalam memajukan warisan budaya takbenda (Intangible Cultural Heritage) ini.
Lajur Caping Kalo adalah tarian tradisional asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang menjadikan penutup kepala khas wanita Kudus yaitu caping kalo sebagai properti dan simbol utamanya.
Makna dan Filosofi Simbol Perempuan Kudus
![]()
Menggambarkan ketekunan, kesederhanaan, kebersamaan, serta keberanian perempuan Kudus dalam merawat identitas budaya.
Proses Pembuatan: Gerakan tarinya menceritakan proses pembuatan caping kalo dari awal hingga akhir yang membutuhkan keuletan, kesabaran, serta konsistensi.
Pelestarian Budaya
Menjadi media penting untuk mengenalkan kearifan lokal sekaligus langkah menuju pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) nasional.
Melalui helatan Rekor MURI ini, Kudus membuktikan bahwa penghormatan terhadap identitas leluhur dapat berjalan seiring dengan kreativitas masa kini, menjadikan Caping Kalo tetap mekar di tengah arus modernisasi. (*)










