Dulu Gencar Kritik Tajam Pemerintah, Ehh Sekarang Masuk Istana, Rocky Gerung Resmi Jadi Pejabat Prabowo

Dari Mimbar Bebas ke Kursi Istana: Kala Kritik Rocky Gerung Berujung Jabatan Watimpres

Rocky Gerung

JAKARTA, EDITOR.ID — Panggung politik tanah air mendadak digegerkan oleh sebuah kejutan besar yang membalikkan segala logika oposisi publik.  Rocky Gerung yang selama ini berteriak dengan kritikan tajam di luar tiba-tiba kini masuk ke Istana merapat ke Prabowo sebagai pejabat. Ia dikenal berani mengolok-olok kebijakan pemimpin dengan kata “dungu”

Namun Rocky Gerung, salah satu tokoh oposan senior di Indonesia yang dikenal dengan suara kritik tajamnya, kini resmi dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta, hari ini, Jumat (2/10/2026).

Langkah ini sontak memicu gelombang kejut di ruang publik. Sosok yang selama satu dekade terakhir dikenal sebagai ikon kritikus paling pedas, independen, dan kerap melontarkan diksi tajam terhadap kekuasaan, kini resmi mengenakan lencana pejabat negara.

Pertanyaan besar pun menyeruak: ke mana suara “akal sehat” yang dulu diagung-agungkan ketika kini sang pengkritik duduk di dalam lingkaran kekuasaan?

Dulu Sesumbar, Sekarang Satu Perahu

Publik tentu belum lupa bagaimana Rocky Gerung membangun reputasinya sebagai antitesis dari kebijakan-kebijakan pemerintah. Dengan gaya retorika yang sinis dan filosofis, ia kerap menegaskan bahwa tugas seorang intelektual adalah berada di luar kekuasaan agar tetap objektif.

Kalimat-kalimat tajamnya tentang buruknya tata kelola negara dan bahayanya kolusi kekuasaan menjadi bahan bakar utama kelompok oposisi.

Namun, politik memang memiliki jalannya sendiri. Hari ini, narasi “oposisi abadi” itu runtuh di atas karpet merah Istana Negara. Bergabungnya Rocky ke dalam gerbong Watimpres Prabowo Subianto memperlihatkan bahwa garis demarkasi antara “kawan” dan “lawan” dalam politik Indonesia sangatlah cair.

Kritik pedas yang dulu diteriakkan dari panggung-panggung mimbar bebas kini bermuara di ruang-ruang tertutup Istana. Publik kini menagih: apakah kehadiran Rocky di kursi Watimpres akan benar-benar menjadi katalis perubahan kebijakan dari dalam, atau sekadar langkah strategis untuk meredam suara kritis di luar?

​Pelantikan ini juga mengingatkan jejak digital publik pada pernyataan ikonik Rocky di masa lalu. Pada tahun 2019 silam, ia pernah dengan lantang berjanji akan langsung mengkritik Prabowo hanya “12 menit setelah dilantik”.

Alih-alih melayangkan kritik pedas dari luar pagar kekuasaan, Rocky kini justru berdiri di dalam gerbang istana sebagai bagian dari lingkaran strategis penasihat kepala negara.

Ujian Integritas: Menjaga Akal Sehat atau Masuk Angin?

Pengangkatkan Rocky Gerung sebagai pejabat Istana menempatkan integritas penggiat medsos ini di ambang ujian terberatnya. Selama bertahun-tahun, ia menikmati privilese moral sebagai pengamat independen yang tidak memiliki konflik kepentingan dengan anggaran negara maupun jabatan struktural.

Kini, status itu telah gugur. Sebagai anggota Watimpres, ia bukan lagi pengamat luar, melainkan bagian dari institusi resmi penasihat presiden.

Hilangnya Oposisi Moral: Masuknya figur-figur kritis ke dalam lingkaran kekuasaan dikhawatirkan menciptakan kekosongan oposisi yang sehat di masyarakat.

Kooptasi Intelektual: Publik kini mulai skeptis, apakah gelar “pakar” dan kritikus independen yang selama ini disandangnya akan luntur akibat pragmatisme kekuasaan?

Ujian Keberanian: Bisakah Rocky tetap bersuara lantang menentang kebijakan yang salah jika kebijakan tersebut berasal dari atasan yang melantiknya hari ini?

Pelantikan hari ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan sebuah ironi politik yang mencolok. Pengkritik ulung yang dulu sesumbar akan terus berada di luar untuk menjaga “akal sehat” pemerintah, kini justru memilih masuk ke dalam jantung kekuasaan.

Waktu yang akan menjawab, apakah kursi Istana ini akan mempertajam kontribusi kebijakannya, atau justru menumpulkan lidah tajam yang selama ini diandalkan publik.

​Guyonan “Radical Break” Sebelum Pelantikan

​Kehadiran Rocky Gerung di Istana Negara mengenakan blazer biru rapi dipadu kemeja putih sempat membuat awak media penasaran. Saat dicecar pertanyaan seputar kabar penunjukannya sebagai Wantimpres, Rocky merespons dengan gaya khasnya yang penuh teka-teki dan humor satir.

​”Ini gue lagi acara radical break,” ujar Rocky singkat sembari berlalu meninggalkan kerumunan wartawan tanpa menjelaskan lebih jauh maksud dari kalimat tersebut.

Tak lama berselang, spekulasi terjawab ketika namanya dipanggil resmi dalam prosesi pelantikan pejabat tinggi negara di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

​Kilas Balik: Janji “Kritik 12 Menit” yang Kini Jadi Kenangan

​Pernyataan fenomenal Rocky Gerung terkait Prabowo Subianto pertama kali dilontarkan pada 26 Januari 2019 dalam acara deklarasi alumni perguruan tinggi untuk pemenangan pasangan Prabowo-Sandiaga. Saat itu, ia menegaskan posisi independensinya sebagai seorang intelektual publik:

​”Pak Prabowo itu akan saya kritik 12 menit setelah dia dilantik, catat jejak digital hari ini.” demikian sesumbar Rocky Gerung hingga ia menjadi idola masyarakat karena keberaniannya me

Kala itu, Rocky berargumen bahwa kritik tajam adalah vitamin bagi kekuasaan, dan siapa pun yang memegang tampuk pimpinan tertinggi wajib dikritik agar tidak terbuai oleh absolutisme. Namun, dinamika politik pasca-Pilpres dan langkah terbarunya yang kini merapat ke gerbong pemerintahan mengundang gelombang reaksi luas di media sosial.

​Respon Pengamat dan Rekasi Warganet: Dari “Jangan Kritik, Belajar Memuji” hingga Titik Balik Oposisi

​Perubahan haluan drastis ini mengundang berbagai tanggapan dari kalangan analis politik dan publik:

Pentingnya Keseimbangan Baru

Sejumlah pengamat menilai langkah Rocky menerima posisi di Wantimpres menunjukkan bahwa ruang dialog antara kubu oposisi kritis dan pemerintah semakin cair. Bergabungnya figur kritis ke dalam sistem dianggap sebagai upaya menjembatani gagasan tajam langsung ke dapur kebijakan pemerintah.

Sorotan Warganet

Di berbagai platform media sosial, lini masa mendadak ramai. Banyak warganet yang menagih janji “12 menit” sang pengamat, sementara sebagian lainnya melontarkan candaan segar: “Sebaiknya Rocky Gerung jangan lagi kritik Presiden Prabowo… Mulailah belajar memuji. Dan hal itu sudah diperlihatkan melalui program-program strategis pemerintah yang didukung, selamat bertugas!”

​Dengan dilantiknya Rocky Gerung ke dalam jajaran Wantimpres, publik kini menanti bagaimana kiprah sang filsuf dan kritikus ulung tersebut dalam memberikan pertimbangan langsung bagi kebijakan strategis nasional di bawah kepintahan Presiden Prabowo Subianto. (*)

Leave a Reply