Settia

Facebook Vs Tim Medsos Capres, Menang Siapa?

EDITOR.ID, Jakarta,- Penyedia layanan jasa aplikasi media sosial, Facebook mengklaim telah menghapus 700 juta akun abal-abal demi bantu ciptakan suasana kondusif dalam kontestasi Pemilihan Presiden 2019 di Indonesia.

Namun klaim Facebook mendapat kritikan dan masukan dari Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) Edi Winarto.

“Harus dibuktikan oleh Facebook perubahan tersebut, karena saya memantau ternyata akun-akun palsu dan sebaran ujaran kebencian masih massif terjadi di halaman media Facebook,” ujar Edi Winarto yang dihubungi di Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Lebih jauh Edi Winarto mengaku prihatin dan sedih karena hingga kini para pemilik akun Facebook masih mengalami ketidaknyamanan dan “terganggu” dengan banyaknya akun abal-abal yang bermunculan di Facebook secara “dipaksa” tanpa bisa dicegah. Salah satunya Edi Winarto sendiri mengaku di FB nya masih banyak tiba-tiba muncul postingan hoaks dan ujaran kebencian.

“Sangat memprihatinkannya akun-akun itu memposting kata-kata yang cenderung memanasi keadaan, bernada mengadu domba. Misalnya, tiba-tiba muncul akun yang menjelek-jelekkan salah satu calon presiden atau cawapres, bahkan cenderung fitnah, dan ketika kami pantau akun-akun mereka itu abal-abal,” ujar Edi Winarto yang juga menjabat Direktur Pemberitaan Kantor Berita Radio BERSAMA MEDIA NETWORK ini.

Edi Winarto yang juga praktisi media digital ini mengapresiasi niat baik pihak Facebook yang akan menghapus akun-akun palsu yang muncul “memaksa” di Facebook guna menepis peredaran hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif lainnya di Facebook.

“Namun Facebook harus bisa membuktikan dengan adanya situasi yang berubah atau berbeda di walnya dengan posting-postingan yang sejuk dan damai, karena saya perhatikan hingga saat ini penyebaran ujaran kebencian, fitnah masih terjadi massif dan merajalela di halaman Facebook,” kata Edi Winarto.

Edi menduga kemungkinan pihak penyebar ujaran kebencian dan hoaks yang berniat mengadu domba dan memecah belah bangsa Indonesia melalui media sosial memiliki “ahli IT” yang lebih canggih untuk tetap masih bisa muncul dan eksis di Facebook. Bahkan bisa jadi mereka menyewa konsultan IT internasional untuk mengobok-obok Facebook.

“Nah sekarang tinggal kita tunggu lebih hebat mana tim IT Facebook melawan tim IT timses medsos capres, jika Facebook memang benar-benar komitmen dan punya kemampuan meredam akun palsu penyebar hoaks dan ujaran kebencian, buktikan sekarang, apakah akun palsu masih marak atau minimal berkurang dalam menyebarkan kebohongan dan fitnah,” kritik Edi Winarto.

Menurut Edi Winarto jika komitmen Facebook ini benar-benar dijalankan dan diwujudkan setidaknya bisa membantu Kepolisian Indonesia supaya tidak dibebani tugas harus melakukan patroli cyber untuk memantau munculnya posting-postingan fitnah atau hoaks.

“Kalau Facebook ga bisa meredam maka penjara akan penuh karena disesaki para pembuat akun iseng dan menyebarkan ujaran kebencian dan fitnah. Karena mereka melanggar UU ITE tapi tetap dibiarkan bebas memposting ujaran kebencian akibatnya mereka itu banyak ditangkapi polisi,” kata Edi Winarto.

Seharusnya jika di hulu (pencipta aplikasi media sosial,red) Facebook bisa memfilter akun palsu dan penyebar hoaks minimal polisi terbantukan tugasnya.

Sebagaimana diketahui Facebook, Instagram, dan WhatsApp baru saja menggelar acara di Jakarta, Senin (21/1/2019).

Acara tersebut berkenaan dengan persiapan ketiga platform menghadapi tahun politik di Indonesia. Dalam sebuah sesi media, pihak Facebook mengaku sudah menghapus lebih dari 700 juta akun palsu awal 2019 ini.

Director Global, Politic and Government Outreach Facebook Katie Harbath memaparkan, sebanyak 753,7 juta akun palsu di platform-nya secara global telah take-down alias dihapus.

“Kami ingin membuat platform kami lebih sehat. Kami juga ingin mempersempit ruang gerak informasi palsu alias hoaks, serta ujaran kebencian yang banyak beredar di sana,” ungkapnya.

Lebih jauh, dirinya menyebut salah satu cara ampuh untuk menepis peredaran hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif lainnya di Facebook adalah dengan menghapus akun-akun palsu yang banyak beredar.

“Keseriusan kami menghadapi peredaran hoaks juga kami tunjukan lewat menambah personel di bidang keamanan. Mulanya, jumlah orang yang bekerja mengatasi akun palsu hanya 10 ribu orang. Namun demi memerangi hoaks dan ujaran kebencian, jumlahnya kami tambah menjadi 30 ribu orang pekerja,” imbuhnya.

Seperti kami beritakan sebelumnya, Harbath menjelaskan bahwa Facebook memiliki langkah khusus dalam mengidentifikasi akun palsu yang diduga kuat berperan dalam peredaran hoaks dan konten negatif lainnya. Metodenya adalah dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi perilaku menyimpang saat ada akun baru yang didaftarkan.

Lantas apa hubungan akun palsu dan hoaks? Harbath mengatakan, orang-orang tak bertanggung jawab biasanya menggunakan nama atau akun palsu untuk menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian.

Menurutnya, perilaku menyimpang itu ketika seseorang baru membuat akun, kemudian dia menambahkan siapapun ke daftar pertemanannya. Membuat dan masuk ke sebanyak-banyaknya grup serta mengunggah banyak konten di berbagai grup yang dibuat dan dimasukinya. “Perilaku tersebut abnormal. Itu menjadi sinyal tersendiri bagi engineer dan sistem untuk melacak. Jika ditemukan berperan dalam peredaran hoaks, akan kami hapus. Pun dengan konten hoaks yang sudah dibuatnya,” paparnya.

Terpisah, Communication Lead Facebook Indonesia Putri Dewanti menuturkan, di Indonesia sendiri saat ini terdapat sebanyak 115 juta akun Facebook.

Sayangnya, dari angka 700 juta lebih akun palsu secara global yang sudah dihapus terkait peredaran hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif lainnya, Putri tidak dapat memastikan berapa akun yang sudah dihapus untuk wilayah Indonesia.

Kemudian dalam menghadapi peredaran hoaks, informasi palsu, dan sejenisnya, pihak Facebook Indonesia juga akan bekerja sama dengan pihak ketiga sebagai fact checker melalui fitur baru berbentuk report dan hotline aduan.

“Layanan hotline ini, Facebook dan WhatsApp tidak akan sendirian. Rencananya kami menggandeng ICT Watch dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo),” terangnya. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *