JAKARTA, EDITOR.ID — Kepergian maestro seni dan budaya Indonesia, Guruh Soekarnoputra, meninggalkan duka mendalam bagi insan musik tanah air. Salah satu ungkapan duka dan penghormatan emosional datang dari gitaris kelompok musik GIGI, Dewa Budjana, yang mengunggah kenangan tak terlupakan bersama almarhum melalui media sosialnya.
Dalam unggahan tersebut, Dewa Budjana membagikan petikan lirik dari lagu monumental “Indonesia Mahardika“—karya kolaborasi legendaris antara Guruh Soekarnoputra dan grup musik Gipsy yang terangkum dalam album Guruh Gipsy (1976). Uniknya, Budjana mengulas struktur lirik awal karya tersebut yang menyembunyikan akrostik nama-nama para personel yang terlibat di dalamnya.
Bagian bait pembuka yang menggunakan bahasa Kawi/Sanskerta hingga bait bahasa Indonesia tersebut rupanya menyisipkan nama-nama musisi besar pembentuk album bersejarah itu:
Oding (Oding Nasution) dari baris “Dingaryan ring sasi karo”
Roni (Roni Harahap) dari baris “Nicitha redite prathama”
Kinan (Keenan Nasution) dari baris “Nanta mami magawe plambang”
Abadi (Abadi Soesman) dari baris “Di nusantara raya”
Chrisye dari baris “Selamat sejahtera”
Guruh (Guruh Soekarnoputra) dari baris “Ruh semesta memuja”
RI (mengacu pada Indonesia/Republik Indonesia) pada penutup lirik “Indonesia tercinta”
Budjana mengungkapkan betapa album Guruh Gipsy memiliki pengaruh luar biasa bagi perjalanan bermusiknya sejak masa muda. Karya-karya progresif seperti Indonesia Mahardika, Chopin Larung, hingga Geger Gelgel diakuinya sebagai mahakarya yang menancap kuat dalam ingatannya.
Rencana Konten yang Tak Sempat Terwujud
Di balik penghormatan tersebut, Dewa Budjana juga menyisipkan rasa penyesalan mendalam. Ia menceritakan bahwa pada Oktober tahun lalu, dirinya sempat berencana dan berjanji untuk bertemu langsung dengan Guruh Soekarnoputra guna membuat konten wawancara khusus.
Budjana mengaku telah menyiapkan deretan pertanyaan mengenai proses kreatif di balik album Guruh Gipsy serta dedikasi almarhum dalam memadukan musik modern dengan unsur budaya Nusantara. Namun, takdir berkata lain; pertemuan tersebut batal terlaksana hingga sang Maestro berpulang untuk selamanya.
“Selamat jalan Maestro, Terima kasih atas karya-karya yang hebat dan tetap membawa budaya Nusantara,” tulis Dewa Budjana menuturkan salam perpisahan.
Selain membagikan kenangan lirik dan penyesalannya, Budjana melengkapi unggahannya dengan dua slide foto bersejarah: foto penampilan band GIGI saat Konser “Lelaki Super” pada tahun 2003, serta momen dokumentasi pernikahan Dewa Budjana yang berlangsung di Klungkung, Bali, pada tahun yang sama.










