Settia

Relawan Ahok Deklarasikan Dukung Jokowi

EDITOR.ID, Jakarta,- Barisan Relawan Bhinneka Jaya (BaraBaja), massa relawan yang dulu jadi pendukung Ahok-Djarot di Pilgub DKI Jakarta 2017, kini resmi menyatakan dukungannya kepada pasangan capres-cawapres, Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Deklarasi digelar hari ini Minggu (16/9/2018)

Massa pendukung Ahok melihat sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai sudah tahan banting dalam menghadapi strategi fitnah dan hoax dalam setiap ajang politik yang diikutinya. Relawan ini akan siap menghadapi serangan hoax pihak yang ingin memperkeruh suasana dengan tujuan memecah belah massa pendukung dua capres yang berlaga.

Menghadapi Pilpres 2019, isu politisasi agama diprediksi berkurang. Namun, hoax dan cerita fiktif akan menjadi andalan utama kubu lawan.

Hal itu disampaikan Ketua Umum PKPI, Diaz Hendropriyono, ketika bicara di hadapan relawan Barisan Relawan Bhinneka Jaya (BaraBaja) yang mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf Amin, di Jakarta, Minggu (16/9/2018).

Diaz bercerita, dirinya sudah menjadi relawan pendukung Jokowi sejak menjadi calon gubernur Jakarta pada 2012 lalu. Saat itu, elektabilitas Jokowi belum setinggi sekarang. Kini, popularitas dan elektabilitas Jokowi sudah tinggi.

“Sekarang, kita mendukung Pak Jokowi yang jelas track record-nya dan elektabilitasnya. Namun, tantangan akan tetap ada,” kata Diaz.

Menurutnya, Jokowi terkenal karena ketegasanya memperbaiki Jakarta dengan merelokasi 54 lokasi hunian warga. Selain itu, Jokowi terus membangun infrastruktur, memperbaiki ekonomi dengan menjaga angka inflasi, manajemen resiko utang yang baik, dan berbagai hal lainnya. Semua kondisi itu, dinilainya membuat kubu lawan kebingungan untuk menyerangnya.

‎”Sekarang, tidak bisa lagi isu SARA. Percayalah, kalau Kyai Haji Maruf Amin adalah cawapres yang tepat. Ini membuat kubu sebelah kewalahan. Tantangan berbeda dengan 2014,” tandasnya.

Diaz menambahkan, perlawanan terhadap Jokowi dicoba dilakukan dengan gerakan #2019GantiPresiden yang sudah ditolak dimana-mana.

“Menurut saya, tantangan berubah. Lawan kita berbeda walaupun orangnya sama. Jadi, bagaimana kita mampu melawan cerita fiktif atau hoax akan menjadi kunci utama,” tandasnya. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *