Settia

Ngopi Pagi: Trah Politik Dalam Pilkada

Oleh : Edi Winarto

Penulis Jurnalis Senior

Menjelang tahapan pendaftaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 pada awal September 2020 nanti, seluruh parpol hampir pasti telah menebar surat rekomendasi ke sejumlah nama pemburu rekom. Yang berhasil dapat bergembira ria, sedangkan yang tidak mendapat rekom hanya bisa gigit jari dan tamat ambisinya untuk merebut jabatan kepala daerah.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 yang serentak digelar pada 9 Desember 2020 dan diikuti 270 Daerah se-Indonesia menjadi menarik karena munculnya atau bangkitnya politik dinasti.

Pada gelaran Pilkada kali ini yang menarik untuk penulis paparkan adalah munculnya suksesor politik yang berasal dari trah politik. Jadi penulis dapat simpulkan sementara bahwa karir politik seseorang itu tak harus dirintis dari bawah.

Namun juga bisa datang dari genetika politik. Bahasa politiknya adalah “darah biru”. Seringkali anak raja menjadi raja, anak pemuka agama biasanya jadi pemuka agama, anak seorang sopir banyak juga yang menjadi sopir mengikuti jejak orang tua atau leluhur. Oleh karena itu nama-nama calon kepala daerah juga tidak bisa dilepaskan dari siapa bapaknya atau siapa ibunya.

Pada Pilkada tahun 2021 ini akan tampil putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka. Ada juga putra Wakil Presiden KH Maruf Amin, Siti Nur Azizah. Kemudian ada anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, calon Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana.

Ada kemenakan mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiah yang juga anak Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, Pilar Saga.

Penulis ingin mengkaji perjalanan politik trah atau politik dinasti dengan mengambil sampel cukup yang ada di Tangerang Selatan. Kebetulan kota ini berdampingan dengan ibukota Jakarta dan daerah penyangga ibukota dimana sebagian besar warganya nyaris beraktivitas di Jakarta.

Selain tetangga Jakarta, Tangerang Selatan cukup seksi untuk dibahas karena di wilayah ini banyak terjadi kejutan politik unik. Mulai dari calon yang terlanjur sudah mengikuti seleksi gagal maju hingga kader partai kalah dengan orang yang baru saja masuk partai.

Unik dan menarik bagi penulis karena di Pilkada Tangsel ini dimunculkan jago-jago dari kalangan birokrat kombinasi dengan politisi dinasti baik lama maupun baru.

Sebut saja Benyamin Davnie, yang punya pengalaman panjang di birokrasi sebagai Sekda dan juga saat ini menjabat Wakil Walikota. Ia didampingi sosok calon wakil yang berasal dari trah politik. Yakni Pilar Saga Ichsan.

Bagi sebagian besar warga Tangerang Selatan terutama kaum urban atau moderat banyak yang tidak kenal siapa itu Pilar Saga Ichsan. Dan apa prestasinya. Termasuk penulis yang sudah 18 tahun jadi warga Tangerang Selatan dan pemilik 4 suara di Pilkada bersama keluarga penulis. Namun Pilar ujug-ujug (tiba-tiba,bahasa jawa) naik jadi Calon Wakil Walikota.

Menurut analisa dan kajian penulis hal ini tidak lepas dari backing politik dan trah politik. Nama besar dibelakang Pilar Saga. Yakni mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Siapa tak kenal Atut. Hampir semua keluarganya mewarisi sang almarhum ayahanda Almarhum Chasan Sochib yang sukses di bidang politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *