Bersama Tim SAR Gabungan, mereka bergerak menyisir lokasi terdampak longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono.
”Setibanya di lokasi bencana, tim langsung menyisir satu per satu lokasi yang tertimbun reruntuhan bangunan,” tulis Dispenal dalam keterangan resmi.
Tidak lama setelah itu, mereka merasa ada sesuatu di bawah reruntuhan dan material longsor. Saat dibongkar perlahan, petugas melihat ada jenazah korban.
Usai dievakuasi, korban bernama Aurel dengan umur 14 tahun berhasil dievakuasi. Di tempat terpisah, Tim SAR Gabungan juga berhasil menemukan dan mengevakuasi satu jenazah.
TNI AL mengerahkan personel dari Lanal Tegal untuk membantu proses evakuasi dan penyelamatan para korban. Hal itu menjadi prioritas mereka. Selain itu, mereka juga diberi tugas untuk membuka akses jalan yang sempat tertutup oleh material longsor. Tugas lainnya adalah mendistribusikan bantuan logistik ke lokasi pengungsian.
”Saat ini, tim masih berusaha mencari dua korbang hilang lainnya yang masih tertimbun reruntuhan. Kolaborasi antara TNI AL, BPBD, pemerintah daerah, dan instansi lainnya berjalan sinergis dalam menangani bencana tersebut. Selain bantuan fisik, masyarakat juga mendapatkan pendampingan psikologis untuk mengurangi trauma akibat bencana yang mereka alami,” terang Dispenal.
Banjir dan Longsor Pertama Terjadi di Desa Kedungwuni
Di lapangan, Agus Yusuf, anggota tim SAR Bumi Santri Pekalongan, mengatakan kabar pertama longsor terjadi bersamaan dengan banjir bandang di Kedungwuni dan Wonopringgo.
Kapolres Pekalongan AKBP Doni Widamanto dalam keterangan resminya menyebut terdapat beberapa titik lokasi di wilayah Petungkriyono terkena bencana longsor.
“Untuk akses yang ditempuh harus memutar melalui Banjarnegara karena sebuah jembatan terputus. Hal ini menyebabkan petugas membutuhkan waktu yang lama untuk bisa ke lokasi kejadian,” tutur Doni.
Dilansir Kompas.com, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi mengatakan pihaknya masih terus melakukan pencarian dengan Basarnas dan relawan setempat. Curah hujan yang deras turut menghambat proses evakuasi.
Bergas mengakui kondisi ini meningkatkan risiko bencana susulan, sehingga langkah-langkah pencarian dilakukan dengan sangat hati-hati. (tim)












