Sosok Helen, Aremanita dan Santriwati Ponpes
Helen Prisela adalah pendukung Arema FC atau akrab disapa Aremanita. Tak disangka ia ternyata mahasiswi dari Akademi Kebidanan. Di samping itu, Helen juga merupakan anggota dari Pondok Pesantren (Ponpes) PPAI Al Aziz Banjarpatoman, Desa Amadanom, Kecamatan Damit, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Paman Helen KH Muhammad Said adalah Pengasuh Ponpes PPAI Al Aziz Banjarpatoman, Desa Amadanom, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.
Helen Sempat Berpindah Rumah Sakit
Helen sempat dibawa ke RS Cakra Husada Turen untuk menjalani pengobatan pasca tragedi Kanjuruhan. Namun, baru satu hari di rumah, Helen mengalami muntah dan pusing. Kemudian, keluarganya membawa Helen ke RS Syaiful Anwar.
Helen Sempat Dijenguk Presiden Jokowi
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendi menyampaikan Helen meninggal dalam perawatan di rumah sakit itu sempat dijenguk Presiden Jokowi saat berkunjung ke Malang.
“Helen meninggal di RS Syaiful Anwar, Malang, Helen adalah salah satu pasien yang sempat dijenguk oleh Presiden Joko Widodo.” ujar Muhadjir dalam keterangannya, pada Selasa (11/10/2022).
Jenazah Helen Sudah Dimakamkan
Helen korban Kanjuruhan sudah dimakamkan. Lokasi makamnya berada di sekitar Ponpes Pengembangan Pendidikan Agama Islam (PPAI) Al Aziz Banjarpatoman, Desa Amadanom, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.
Helen korban Kanjuruhan meninggal dunia setelah sempat dirawat di rumah sakit. Seperti diketahui, Helen menjadi salah satu korban dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur pada 1 Oktober 2022.
Wafatnya Helen menambah total korban Kanjuruhan. Dari 131 orang, jumlah korban tewas tragedi Kanjuruhan kini adalah 132 orang.
Tragedi Kanjuruhan menjadi sejarah kelam sepak bola di tanah air bahkan dunia. Lebih dari 132 supporter Arema FC merenggang nyawa. Ratusan luka-luka.
Sedikitnya 132 supporter setia Aremania meninggal setelah menyaksikan laga Arema FC kontra Persebaya, Sabtu (1/10/2022) malam. Ini karena seusai laga suporter yang turun ke lapangan dipukul mundur aparat dengan menggunakan gas air mata.
Tak hanya di lapangan, aparat juga melepaskan gas air mata ke tribun yang masih penuh penonton. Akibatnya banyak penonton yang panik dan berlarian mencari pintu keluar sehingga banyak orang yang tewas karena terinjak dan sesak napas. (tim)












