Bahkan, jajaran pembantunya pun banyak yang bergerak sendiri tanpa koordinasi satu sama lain sehingga membuat langkahnya kian berat. Ia sempat pula terbentur keadaan yang sulit saat ingin mengganti tim menteri kabinetnya lantaran tak ingin ada gejolak ketika pandemi sedang pada puncaknya.
Pola komunikasinya sempat dianggap sangat buruk ketika timnya justru terlihat berbenturan saat menerjemahkan kebijakannya di lapangan. Masyarakat sempat kebingungan arah ketika kebijakan yang disampaikan pemerintah tumpang-tindih.
Hal itu diperparah dengan kasus-kasus lain, bahkan pelanggaran HAM hingga terorisme, di satu pihak intoleransi makin meruncing. Tuduhan kriminalisasi ulama menjadi isu politik yang paling seksi untuk dituduhkan kepada pemerintahan Jokowi.
Sampai pada puncaknya, ketika dua menterinya dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus korupsi, Jokowi segera mengambil momentum tersebut untuk melakukan perombakan kabinetnya.
Kini timnya telah diperbarui dengan tokoh-tokoh yang populer dan tegas pada kasus intoleransi. Jokowi sudah bulat tekad untuk tak lagi melakukan tawar-menawar dengan interaksi. Kado akhir tahunnya adalah pelarangan organisasi massa yang dianggap radikal, yakni melalui surat keputusan bersama (SKB) pelarangan kegiatan, penggunaan simbol, dan atribut serta penghentian kegiatan FPI.
Menjelang tutup tahun, Presiden Jokowi mengajak masyarakat Indonesia untuk tetap bersyukur karena tetap mampu menghadapi persoalan global tersebut.
“Bangsa Indonesia, kita, juga tak luput dari cobaan yang tidak mudah ini. Tapi, kita harus bersyukur, alhamdulillah, kita mampu menghadapinya dengan ketegaran,” katanya.
Menurut dia, meski diterpa dampak pandemi, Indonesia saat ini masih tetap dapat menjalankan roda kehidupan. Masyarakatnya juga mampu beradaptasi dengan cara-cara baru agar wabah ini dapat segera diatasi dan menyelesaikan satu per satu dampak perekonomian yang ditimbulkan.
Ia optimistis memasuki 2021 Indonesia mampu bangkit dan melahirkan banyak inovasi. Demikian halnya kondisi perekonomian yang akan berangsur membaik.
Vaksin menjadi pekerjaan rumah selanjutnya. Namun, diyakininya bahwa itu akan mengendalikan penyebaran virus corona.
Adapun di sisi masyarakat, Presiden Joko Widodo meminta peningkatan kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan, seperti mengenakan masker, menjaga jarak, dan rutin mencuci tangan serta tidak menganggap remeh penyebaran COVID-19.
“Dengan kesehatan masyarakat yang pulih, kepercayaan dunia meningkat, pemulihan ekonomi akan terjadi pada tahun 2021,” kata Presiden.












