Radikalis Ajarkan Anak Murtadkan Orang Tua Jika Tak Ikuti Paham Mereka

Badri dan Jaringan Al Qaeda Indonesia merencanakan sejumlah aksi teror di antaranya di Markas Korps Brimob Polda Metro, Kwitang, Jakarta Pusat, dan menyerang komunitas Masyarakat Buddha terkait adanya penindasan kaum Muslim Rohingya di Myanmar.

Badri sendiri akhirnya ditangkap Densus 88 di sebuah jalan dekat rumahnya di Desa Griyan RT 05 RW 10 Kelurahan Pajang, Laweyan, Surakarta, pada September 2012 lalu.

Penjual bonsai itu tidak pernah sekalipun dijenguk di penjara, bahkan selama liburan Idul Fitri. Ibu dan bibinya telah dibawa ke panti jompo pada hari penangkapannya dan tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi. Mereka mengira dia sudah mati.

Bergabung kembali dengan masyarakat

Tersiksa oleh kesepian, Chamidi selalu patuh dengan pihak berwenang di balik jeruji besi, dan akhirnya dia dimasukkan ke program ‘deradikalisasi’ di fasilitas yang dibangun khusus di Sentul, Bogor, yang memotong sembilan bulan hukuman penjaranya.

Lima tahun dan tiga bulan setelah hukuman penjara dijatuhkan, dia bebas, dan segera mencari bibi dan ibunya. Dia akhirnya menemukan mereka di Jawa Tengah. Bibinya meninggal tiga bulan kemudian.

Setibanya ia di rumah Chamidi menggadaikan sertifikat tanahnya untuk memperbaiki rumahnya. Chamidi melakukan semua yang dia bisa dengan tangannya sendiri, dan setelah jadi, dia menyewakan beberapa kamarnya, yang sewa bulanannya membantunya membayar utangnya.

Beruntung masyarakat tetangganya telah menerima Chamidi kembali. Bahkan Kepala desa dan anggota masyarakat lainnya percaya bahwa dia hanya korban dalam kasusnya, dan telah memberinya dukungan sederhana kapan pun dan di mana pun.

Dia perlahan beradaptasi dengan kehidupannya yang baru, dan telah menjalin pertemanan dengan beberapa orang baru. Beberapa dari mereka dengan bercanda memanggilnya ‘teman teroris’.

Chamidi yang tulus berteman dengan Badri sama sekali tak menyangka ketika sahabat barunya itu pindah ke rumah sebelah, hidupnya akan berubah selamanya.

Tak terbayangkan olehnya bahwa dia akan terjebak ke dalam komplotan bom yang bertujuan membunuh orang yang tidak bersalah. Dia bahkan tidak benar-benar mengerti apa yang Badrie dan teman-temannya bicarakan dalam pengajiannya.

Pengalaman itu mengajarkan sesuatu pada Chamidi, bahwa hanya ada satu orang yang bisa dia andalkan, yaitu dirinya sendiri. Satu-satunya tujuan Chamidi sekarang adalah menghasilkan uang untuk melunasi hipotek dan lebih sering mengunjungi ibunya di panti jompo. Ia yakin nasibnya akan membaik. (edo)

Leave a Reply