Jumat Berkah Bertemu Jokowi, Agi Sugianto: Beliau Sosok Ramah dan Tanpa Beban

Agi berfilosofi bahwa katanya, hidup itu tanam - tuai. Apa yang ditanam, pasti akan menuai. Seperti yang terjadi di kehidupan Pak Jokowi. Waktu masih menjabat presiden, blusukan dan ketemu takyat, begitu pensiun, rakyat datang berbondong bondong ke kediamannya.

Wartawan Senior Agi Sugianto Berkesempatan Berbincang Santai dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo Foto Tangkapan Layar Akun Facebook @AgiSugianto

Solo, Jawa Tengah, EDITOR.ID,- Wartawan senior yang kini menjadi pengusaha, Agi Sugianto mendapatkan “Jumat Berkah”, mendapat kesempatan sowan dan berbincang dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) pada Jumat (2/1/2026). Momentum istimewa itu sangat terasa berkesan bagi Agi Sugianto.

Pengalaman bertemu Jokowi itu oleh Agi Sugianto diunggah di media sosial Facebook pribadinya @agisugianto.

“Jumat berkah, kami berkesempatan dapat bersilaturahmi di kediaman pak Joko Widodo, ketika beliau sudah jadi rakyat biasa alias mantan pejabat negara,” sebut Agi dalam unggahannya.

“Waktu masih jadi presiden, bahkan sejak gubernur DKI, 15 tahun lalu, saya belum pernah jumpa secara langsung. Meskipun kesempatan untuk bertemu, selalu ada dan dimungkinkan,” tambahnya.

Menurut Agi, mendukung bukan berarti menghamba. Apalagi dengan embel-embel berambisi pada jabatan.

“Dan saya respek dengan beliau yang tetap rendah hati dan tetap memegang filosofi Jawa,” katanya.

Keempat filosofi Jawa itu adalah sebagai berikut ini;

Lamun sira sekti ojo mateni (kalau anda sakti jangan menyakiti),
Lamun sira banter ojo ndisiki (kalau Anda cepat, jangan mendahului),
Lamun sira pinter ojo minteri (kalau anda pintar, jangan sok pintar)

Ia melihat Jokowi adalah sosok yang ramah dan terlihat tak punya beban apapun. Agi merasa bangga bisa ngobrol langsung dan santai dengan Pak Jokowi. Dalam perbincangan tersebut tidak ada agenda khusus. Namun Agi merasakan atmosfer yang luar biasa dari aura Pak Jokowi. Sosok pemimpin yang tenang dan bersahaja.

“Kita ngobrol santai, tidak ada agenda khusus, hanya silaturahmi biasa. Awal tahun, bersilaturahmi, ngobrol santai, sesekali menyinggung kondisi aktual,” ujar Agi Sugianto menceritakan pengalamannya bertemu Jokowi.

Dalam obrolan tersebut Agi merasakan dan menangkap kesan beliau memang humble, tidak punya beban apa-apa.
“Meski dihujat, difitnah baginya sudah biasa. Dalam dirinya, sudah selesai. Pun begitu dengan keluarganya, tidak ada beban, apalagi ambisi. Kalau ada yg bilang masih punya ambisi kekuasaan, itu omongan ngawur,” tegas Agi Sugianto.

Menurut Agi kalau ada yang menuduh Jokowi punya ambisi politik ingin berkuasa kembali itu fitnah keji dan ngawur. Yang mungkin di dasarkan pada cerita atau berita hoax yang sengaja untuk men downgrade beliau dan keluarganya.

“Mungkin karena takut bersaing di 2029. Maklum, ada keluarga pak Jokowi yang bertengger di pusaran elit kekuasaan, sampai saat ini. Padahal kalau mau bersaing ke puncak kekuasaan, cukup lah adu program, adu gagasan. Rakyat juga yang akan menentukan,” papar Agi.

Pertemuan yang semula hanya dijadwalkan 30 menit, malah molor lebih dari satu jam. “Kami nggak enak hati lantaran tamu dari masyarakat terus berdatangan dan antre untuk menunggu giliran berfoto bersama. Kami pun undur pamit,” kata Agi.

“Terima kasih pak Jokowi, sudah menerima kami. Sehat selalu. Berkah dan panjang umur,” imbuhnya.

Hidup Tanam Tuai

Soal Jokowi, Agi berfilosofi bahwa katanya, hidup itu tanam – tuai. Apa yang ditanam, pasti akan menuai. Seperti yang terjadi di kehidupan Pak Jokowi. Waktu masih menjabat presiden, blusukan dan ketemu takyat, begitu pensiun, rakyat datang berbondong bondong ke kediamannya.

“Saya menyaksikan sendiri pada Jumat (2/1/2026) pagi, masyarakat sudah antri di depan rumah pak Jokowi. Luar biasa antusias mereka, datang dari berbagai pelosok,” katanya.

“Ya Allah, saya iri, karena belum bisa melakukan kebaikan seperti yang beliau lakukan. Hidupnya tenang, nggak kemrungsung. Ada yang bilang hidupnya penuh kecemasan, haus kekuasaan. Saya nggak menangkap kesan seperti itu. Ikhlas, semeleh, serba tenang jalani kehidupan sebagai pensiunan dan rakyat biasa,” paparnya.

“Saya malah kasihan sama orang-orang yang berprasangka jelek, selalu memandang sisi buruk, sementara nggak kenal yang diprasangkakan. Menghujat hanya berdasarkan katanya-katanya. Memfitnah karena menganggap yang di fitnah diam tak melakukan pembalasan.

Ingat, tanam – tuai.****

Leave a Reply