Jembatan Menuju Dunia Roh: Rahasia Nyanyian-Tarian Sakral ‘Kajer’ Diiringi Sape Daq Doh Masyarakat Dayak

'Kajer' adalah nyanyian suci yang menuliskan sejarah tanpa pena dan Kertas, menonjolkan sisi "kelangkaan" dan kemewahan budaya tradisi lisan agar generasi penerus berkelanjutan akan mendapat ilmu baru dari leluhurnya.

Pontianak, EDITOR.ID – Dalam rumah modern dianggap suasana di rumah panjang, mendadak hening, hanya ada denting alunan alat musik sape Daq Doh yang melankolis. Upacara Kajer, Pun Aja,  punya daya tarik eksotis.

Bukan sekadar nyanyian, rahasia getaran mantra (doa) Dayak Kenyah yang bisa memanggil roh leluhur, dalam tradisi lisan Kajer (Nyanyian Pemujaan) diiringi sape Daq Doh adalah Komunikasi Dayak Kayanpipol memanggil leluhurnya bagian misteri, emosi, dan keunikan budaya yang jarang terekspos. Menolak punah!

‘Kajer’ adalah nyanyian suci yang menuliskan sejarah tanpa pena dan Kertas, menonjolkan sisi “kelangkaan” dan kemewahan budaya tradisi lisan agar generasi penerus berkelanjutan akan mendapat ilmu baru dari leluhurnya.

Momen angka dari tradisi lisan ini sekaligus mengintip ritual sakral Dayak Kenyah yang biasanya terselenggara di “Rumah Panjang’ yang jarang tersorot oleh kamera.

Kedua suku yang tergabung dalam komunitas “Kayanpipol” merupakan harmonisasi alam dan suara suci dalam ritual bertujuan pemujaan pada leluhur mereka diselenggarakan yang mereka anggap “megah”.

Saat dawai sape bertemu jiwa, mengisahkan haru pelestari tradisi lisan komunitas ‘Kayanpipol” merupakan kekayaan budaya Dayak Kenyah yang sangat spesifik dalam tayangan video ini, adalah momen langka sangat menarik perhatian bagian dari arsip kehidupan masyarakat yang terlupakan, terkuak pada mantra-mantra sang pemimpin adalah rahasia di balik alunan sape Daq Doh.

Ritual tradisi lisan ini merujuk pada elemen-elemen sakral petuah dituturkan dari leluhur dalam satu kesatuan tergabung dalam tradisi tari sekaligus tradisi seni musik mereka.

Perlu dipahami bahwa bagi masyarakat Dayak Kenyah, tradisi lisan bukan sekadar hiburan, melainkan cara mereka “menulis” sejarah dan berkomunikasi dengan leluhur.

Kajer (Nyanyian Pemujaan)

Kajer adalah jenis sastra lisan atau nyanyian tradisional yang biasanya dibawakan dalam bentuk syair-syair panjang. Dalam prosesi adat, Kajer berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pesan moral, sejarah silsilah, hingga doa-doa kepada sang pencipta (Amen Tanangan).

Kajer memiliki rima yang teratur dan sering kali dilantunkan secara bersahut-sahutan (responsif) antara pemimpin nyanyian dan masyarakat yang hadir.

Sape Daq Doh (Sape untuk Perempuan). Melodi melankolis sape Daq Doh merupakan cara perempuan Dayak ‘Berbicara’ dengan Nenek Moyang.

Suara dari alat musik sape Daq Doh didendangkan agar dunia lain turut hadir dalam tradisi lisan, nyanyian Kajer dianggap “Jembatan Menuju Alam Roh”.

Istilah Sape Daq Doh secara harfiah merujuk pada permainan alat musik Sape yang ditujukan atau dimainkan untuk mengiringi tarian perempuan (Doh berarti perempuan), fokus pada keindahan, keanggunan perempuan, dan kerinduan pada nenek moyang

Berbeda dengan Sape pria yang mungkin lebih bertenaga, irama untuk Doh cenderung lebih halus, melankolis, dan anggun, menyesuaikan dengan gerakan tari Kancet Lasan atau tari burung enggang yang lemah gemulai.

Pun Udu Bit & Pun Aja, sosok mistis di balik syair-syair kuno Dayak Kenyah.

Istilah Pun dalam bahasa Kenyah merujuk pada sosok “Kakek” atau “Leluhur/Tetua”.

Pun Udu Bit: Biasanya merujuk pada sosok tetua atau pahlawan dalam mitologi/sejarah lisan Kenyah yang memiliki kekuatan atau kebijaksanaan tertentu.

Pun Aja: Sering kali dikaitkan dengan sosok leluhur yang dihormati dalam silsilah keluarga atau kampung. Itu adalah nama-nama yang dilantunkan sebagai bentuk penghormatan dan permohonan restu agar acara berjalan lancar.

Kayanpipol

Komunitas atau identitas sub-suku diantara suku Dayak Kenyah yang sering berhubungan erat dengan suku Kayan (sering disebut rumpun Apau Kayan). Istilah ini mungkin merujuk pada kolektif masyarakat atau gaya seni yang menggabungkan unsur-unsur dari kedua rumpun tersebut.

Makna prosesi tradisi lisan ini secara keseluruhan, saat mereka melantunkan mantra-mantra (doa) hal-hal reaktualisasi identitas penghormatan kepada leluhur: Memanggil nama-nama Pun (leluhur) agar kehadiran mereka dirasakan dalam upacara.

Tradisi Lisan ini biasanya dilangsungkan di rumah Panjang merupakan harmonisasi alam, suara sape dan lantunan Kajer dianggap sebagai jembatan antara dunia manusia dan dunia roh.

Tradisi Lisan “Kajer” ini hingga saat ini terus dilestarikan dalam memori sejarah tradisi lisan kuno, setiap bait dalam Kajer adalah “arsip” hidup mengenai asal-usul mereka.

Jangan Tertawa! Melanggar Aturan Adat Saat Prosesi ‘Kajer’ Bisa Berakibat Fatal?

Tradisi lisan ini sangat sakral, prosesi ini biasanya ada aturan adat tertentu (seperti tidak boleh memotong pembicaraan atau tertawa sembarangan) karena mereka percaya suara adalah getaran doa yang suci. (*)

Leave a Reply