Jepang Diguncang Gempa 7,5 SR, Puluhan Ribu Warga Pesisir Mengungsi Takut Tsunami

Intensitas guncangan mencapai intensitas "6 atas" pada skala seismik

Gempa Kuat Ungsikan 90.000 penduduk pesisir Jepang
Gempa kuat Ungsikan 90.000 Pesisir Jepang

Jakarta, EDITOR.ID,- Gempa bumi kuat bermagnitudo 7,5 melanda timur laut Jepang pada 23.15 waktu setempat. Pusat gempa berada 80 km di lepas pantai Aomori, pada kedalaman 54 km, memicu peringatan tsunami dan evakuasi ribuan warga.

Lebih kurang ada sekitar 90.000 warga terpaksa harus dievakuasi sebagai tindakan pencegahan.

Intensitas guncangan mencapai intensitas “6 atas” pada skala seismik Jepang di kota Hachinohe, level yang cukup kuat untuk membuat orang sulit berdiri dan berpotensi menyebabkan kerusakan signifikan.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) awalnya mengeluarkan peringatan tsunami setinggi 3 meter, namun status tersebut kemudian diturunkan menjadi siaga.

Otoritas Jepang mencabut seluruh peringatan tsunami pada Selasa (9/12/2025) pagi, beberapa jam setelah gempa berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang wilayah timur laut negara itu.

Gempa tersebut menyebabkan sedikitnya 30 orang luka-luka dan memaksa sekitar 90.000 warga meninggalkan rumah mereka.

Gempa terjadi di lepas pantai pada Senin pukul 23.15 waktu setempat (14.15 GMT).

Badan Meteorologi Jepang (JMA) sempat memperkirakan potensi tsunami setinggi hingga 3 meter yang dapat menerjang pesisir timur laut, termasuk prefektur Hokkaido, Aomori, dan Iwate. Sejumlah pelabuhan melaporkan gelombang tsunami setinggi 20 hingga 70 sentimeter.

Pada Selasa dini hari, JMA menurunkan status peringatan menjadi advisory, sebelum akhirnya mencabut seluruh peringatan tsunami. Tidak ada laporan kerusakan besar.

Pusat gempa berada sekitar 80 km dari pesisir Prefektur Aomori, pada kedalaman 54 km. Pada skala intensitas seismik Jepang (1–7), guncangan tercatat mencapai level “upper 6” di Kota Hachinohe—kekuatan yang membuat orang sulit berdiri atau bergerak tanpa merangkak.

“Sejauh ini kami menerima laporan 30 orang terluka dan satu peristiwa kebakaran,” kata Perdana Menteri Sanae Takaichi kepada wartawan.

Operator kereta East Japan Railway menghentikan sebagian layanan di wilayah terdampak, yang sebelumnya juga pernah porak-poranda akibat gempa 9,0 magnitudo pada Maret 2011.

Layanan kereta lain di Jepang utara juga mengalami keterlambatan.

Pasca-gempa, JMA mengeluarkan advisory untuk wilayah luas mulai Hokkaido di utara hingga Prefektur Chiba di timur Tokyo, mengingatkan warga akan kemungkinan gempa susulan yang lebih kuat selama sepekan ke depan.

“Ada potensi gempa yang lebih kuat terjadi dalam beberapa hari mendatang,” ujar seorang pejabat JMA dalam konferensi pers.

Pembangkit listrik tenaga nuklir yang dioperasikan Tohoku Electric Power dan Hokkaido Electric Power tidak melaporkan adanya gangguan.

Ribuan rumah sempat kehilangan aliran listrik, namun pasokan kembali normal pada Selasa pagi.

Yen Sempat Melemah Setelah Gempa

Nilai tukar yen sempat melemah terhadap mata uang utama setelah laporan gempa muncul, dengan dolar dan euro menyentuh level tertinggi sesi perdagangan.

Jepang merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia, dengan frekuensi guncangan mencapai satu kali setiap lima menit.

Berada di kawasan Ring of Fire, Jepang menyumbang sekitar 20% gempa global berkekuatan 6,0 atau lebih besar.

Wilayah timur laut Jepang pernah mengalami salah satu bencana paling mematikan pada 11 Maret 2011 ketika gempa 9,0 magnitudo memicu tsunami besar yang menewaskan hampir 20.000 orang.

Berdasarkan pengalaman tersebut, pemerintah kini selalu mengeluarkan peringatan “megaquake” selama satu minggu setiap kali terjadi gempa signifikan.

Tsunami 2011 juga menyebabkan kerusakan parah pada Pembangkit Nuklir Fukushima Daiichi, memicu rangkaian ledakan dan kebocoran radiasi dalam krisis nuklir terburuk sejak Chernobyl. ***

Leave a Reply