Settia

Danang Sangga Buana, Jejak Santri Ponpes Menatap DPR

Pesan bijak guru ngajinya agar ia menjaga kejujuran dan bisa berbuat adil, menjadi modal utama Danang Sangga Buana untuk menapaki dunia politik. Pesan tersebut Danang dapatkan saat memperdalam ilmu agamanya di sebuah Pondok Pesantren termasyur, Al Jauhar yang terletak di kecamatan Sumber Sari, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Meski terbilang wajah baru dalam menerjuni dunia politik tidak memupuskan semangat ayah dua putra satu putri ini agar bisa dipercaya rakyat sebagai Wakil Rakyat di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat di Senayan Jakarta.

Santri muda ini tertarik memasuki dunia politik karena ia punya impian bagaimana bisa mensejahterakan para petani di Jember, Jawa Timur dengan kondisi yang berpihak kepada para petani.

“Saya sejak kecil bercita-cita ingin mengangkat derajat petani dari kemiskinan karena hasil pertaniannya kurang mendapat perhatian, harganya sering dipermainkan tengkulak sementara harga pupuk sangat mahal,” ujarnya Rabu (17/8/2018)

Berlatarbelakang dari rasa keprihatinan itulah yang mendorong Danang mendaftarkan diri sebagai Calon Anggota Legislatif (Caleg) Daerah Pemilihan (Dapil) IV Jember dan Lumajang, Jawa Timur dari Partai Perindo besutan bos MNC Group, Harry Tanoe. Calon wakil rakyat dengan nomor urut 4 ini.

Masih belum sejahteranya para petani desanya dan daerah asalnya selama ini membakar tekad dan semangatnya untuk bisa duduk di kursi legislatif. Danang ingin berbuat banyak untuk memberikan manfaat pada para petani. Ia ingin aturan dan UU yang dibuat DPR berpihak kepada petani, terutama kebijakan subsidi pupuk.

“Saya termotivasi untuk mengubah kondisi ekonomi rakyat di daerah saya menjadi lebih sejahtera dari kondisi saat ini,” katanya.

Memang jika dilihat dari jejak rekamnya di dunia politik, sosok Danang adalah pendatang baru. Namun kiprahnya selama ini sebenarnya sudah sangat besar. Ia banyak malang melintang di jabatan negara. Danang pernah menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) periode 2012-2017.

Selama mondok dan mengaji, Danang banyak mendapat wejangan dan tempaan soal ilmu agama dari sang guru almarhum Prof. DR. KH. Shodiq Mahmud. Tempaan ilmu agama dari sang kiai inilah yang menjadi bekal bagi Danang dalam menapaki kehidupan dan usahanya masuk dunia politik.

Konsep “Trilogi Ukhuwah” tertanam kuat dalam karakter pria kelahiran desa Umbulrejo kecamatan Umbulsari kabupaten Jember ini lantaran terus menerus diajarkan gurunya almarhum kiai Prof. DR. KH. Shodiq Mahmud.

Konsep “Trilogi Ukhuwah” awalnya diperkenalkan oleh tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Shiddiq (1926-1991).

Sementara almarhum Prof. DR. KH. Shodiq Mahmud masih ada hubungan keluarga dengan Ulama kharismatik dan juga menjadi ikon kota Jember yakni KH. Ahmad Shiddiq yang sangat disegani di kalangan warga Nahdhatul Ulama.

Konsep trilogi ukhuwah adalah menyatukan antara ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia).

Singkatnya, KH Ahmad Shiddiq ingin menyatukan antara Ukhuwah Islamiyah, nasionalisme dan pluralisme. Pemikiran brilian ini dikemukakannya menjelang Muktamar NU ke-28 di Krapyak, Yogyakarata pada tahun 1989. Dasar pemikirannya tidak lain adalah rangka menjaga hubungan baik antara masyarakat, agama dan negara.

Danang mewarisi kepemimpinan almarhum ayahandannya tokoh Nahdllatul Ulama Muhammad Dimyati yang sangat dikagumi masyarakat setempat.

Semasa remaja di Desa Umbulrejo kecamatan Umbulsari kabupaten Jember, Danang terbilang sudah belajar mengabdi dan aktif dilingkungannya. Saat masih sekolah di SMP Negeri Umbulsari, Danang sudah menjadi pengurus Remaja Masjid Baitun Naim di kecamatan Umbulsari dan berperan aktif dalam memakmurkan masjid dengan mengadakan berbagai kegiatan keagamaan, selaian itu saat masih SMP Danang aktif di organisasi siswa intra sekolah atau OSIS dan aktif dalam organisasi Pramuka.

Setamat SMP Negri Umbulsari pada tahun 1989 , Danang melanjutkan pendidikan tingkat atasnya di STM Balung dengan mengambil jurusan Mesin karena kepeminatannya dalam dunia outomotif. Di Sekolah ini Danang hanya sempat mengenyam pendidikan selama satu tahun karena harus pindah di SMA PGRI Jatiroto Kabupaten Lumajang.

Selama di SMA inilah Danang sudah berpisah dengan Orang tuanya karena keinginan yang kuat untuk mendalami ilmu agama dengan memilih tinggal di Pondok Pesantren Hasbunalloh, Taman Anyar yang berada di desa Jatiroto lor kabupaten Jember, tempatnya sekitar 2 Kilometer dari Pabrik Gula Jatiroto.

Dibawah Asuhan Almarhum KH, Hasbulloh, Danang remaja banyak mendapat tempaan ilmu dan tradisi di pondok pesantren di Jawa Timur. Selama di pesantren ini Danang termasuk santri yang dekat dengan keluarga Kiai karena sering mengikuti Kiai dan keluarga kemanapun pergi untuk menjalankan aktivitas dakwahnya. Termasuk perjalanan spiritual di pulau Madura dengan berkunjung ke ulama kharismatik di pulau garam ini.

Sekitar tahun 1992 Danang Sangga Buwana Lulus dari SMA PGR I JATIROTO dan melanjutkan studi di STIE Mandala Jember, memilih kampus ini karena Danang yang menginjak usia dewasa tidak terlepas dari jiwa entrepreneurship yang dibawa sejak di banku SMP.

Artinya sembari kuliah, masih ada waktu untuk berusaha bisnis dibidang otomotive meneruskan warisan usaha keluarga dimasa itu.

Selama kuliah, Danang melanjutkan lagi pendidikan Agamanya di Pondok Pesantren Al Jauhar yang terletak di kecamatan Sumber sari, Kabupaten Jember. Pondok ini masih ada hubungan Famili dengan Ulama kharismatik dan juga menjadi ikon kota jember yakni KH. Ahmad Shiddiq yang sangat popular dikalangan warga Nahdhatul Ulama.

Didikan dan tempaan dunia pesantren inilah yang membentuk karakter dan akhlak mulia dari sosok Danang Sangga Buana untuk berprinsip selalu berbuat bagi kepada manusia dan sesamanya.

“Saya selalu diajarkan oleh pak kiai untuk berbuat baik kepada siapa saja, tidak memilih-milih apa suku dan agamanya, karena Allah menciptakan manusia dengan berbagai suku dan agama dan Allah tidak pernah membuat umat atau manusia ciptaannya menderita atau susah hanya karena perbedaan keyakinan,” ujar Danang.

Semasa di kampus kemampuan kepemimpinan Danang mengalami peningkatan dan terasah dengan baik. Danang sempat menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen, pengurus Senat Mahasiswa serta mendirikan lembaga penerbitan Majalah Kampus RELASI. Tidak hanya itu Danang adalah penggagas Utama berdirinya organisasi ekstra Kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/ PMII Komisariat Jember.

Lulus kuliah perjalanan berlanjut di Jakarta untuk mencari suasana baru dan menjajal karier di ibukota Jakarta. Suksesi kepemimpinan nasional pada tahun 1998 mengilhami Danang Sangga Buwana untuk menjejakkan kakinya di pusat kekuasaan.

Untuk menyalurkan aktivitasnya jurnalistik yang dimiliki sejak dikampus, Danang kemudian bergabung dengan situs berita online www.detik.com sejak tahun 1999 hingga 2004. Dari sinilah Relasi Istana mulai di jalain dan dibuka. (Edi Winarto)

Leave a Reply