Apakah Rasulullah Melihat Allah Ketika Isra Miraj?

Perjalanan Isra’ Miraj adalah perjalanan yang agung di mana Rasulullah melihat secara langsung keadaan orang-orang yang disiksa di neraka serta keadaan orang-orang yang berada di surga.

Ilustrasi

Perlu diketahui bahwa Nabi Muhammad melihat Allah ketika Isra’ Miraj memiliki beberapa catatan menurut Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu:

1. Nabi Muhammad melihat Allah bukan berarti Allah menetap ataupun menyatu dengan Sidratul Muntaha karena Allah tidak mungkin membutuhkan pada Sidratul Muntaha yang merupakan ciptaan-Nya sebagai tempat menetap.

Hal ini sesuai dengan sifat Allah berupa Qiyamuhu bi Nafsihi, Allah berdiri sendiri tanpa membutuhkan bantuan makhluk ciptaan-Nya. Seandainya Allah membutuhkan Sidratul Muntaha sebagai tempat menetap niscaya hal ini akan merusak sifat Qiyamuhu bi Nafsihi.

2. Nabi Muhammad melihat Allah bukan berarti Allah terbatasi oleh jihah (arah mata angin) karena tidak mungkin Allah terbatasi dengan jihah (arah mata angin) sebagaimana makhluk-Nya. Hal ini sesuai dengan sifat Allah berupa Mukhalafah lil Hawadits, Allah tidak serupa dengan makhluk ciptaan-Nya.

Seandainya Allah terbatasi dengan jihah (arah mata angin) sebagaimana manusia yang bisa dipastikan menetapnya di arah tertentu seperti arah selatan atau utara niscaya akan merusak sifat Mukhalafah lil Hawadits.

3. Nabi Muhammad melihat Allah bukan berarti Allah terbentuk dari jism (bentuk tubuh) karena tidak mungkin Allah berbentuk jism (bentuk tubuh) sebagaimana makhluknya. Hal ini sesuai dengan sifat Allah berupa Mukhalafah lil Hawadits, Allah tidak serupa dengan makhluk ciptaan-Nya. Seandainya zat Allah berupa cahaya berwarna putih atau memiliki anggota tubuh dan sejenisnya sebagaimana makhluk-Nya niscaya akan merusak sifat Mukhalafah lil Hawadits. (Ad-dardir Ahmad, Syarh Qishah al-Isra’ wal Miraj [Kairo: Maktabah Azhar li Turats, 1999 M], halaman 24).

Nabi Muhammad melihat Allah tidaklah sama dengan proses manusia biasa seperti kita melihat. Akan tetapi, Allah memberikan kemampuan khusus bagi Nabi Muhammad ketika itu sehingga beliau dapat melihat langsung kepada Allah. Hal ini dikarenakan Allah memberikan kemampuan melihat kepada hambanya tidak terbatas dengan perangkat mata kepala saja. Allah memberikan kemampuan melihat kepada hamba-Nya di waktu dan tempat yang telah Allah tentukan. (Al-Laqqani Abdussalam, Ithaf al-Murid Syarh Jauhar at-Tauhid [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2002] hal.202)

Dan melihat Allah adalah sesuatu yang mungkin terjadi (jaiz) karena Allah adalah zat yang maujud (ada), sedangkan perkara yang maujud (ada) mungkin untuk dilihat. Akan tetapi, Allah tidak mengizinkan bagi manusia biasa untuk melihat-Nya ketika di dunia kecuali Nabi Muhammad ketika berada di Sidratul Muntaha.

Leave a Reply