Settia

Ada Skenario Jokowi Akan “Dikeroyok” di Pilpres

EDITOR.ID, Jakarta,- Kepastian siapa figur Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden partai koalisi lawan tanding Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilihan Presiden 2019 hingga kini masih belum bisa diprediksi. Koalisi parpol yang tidak mengusung Jokowi terkesan masih merahasiakan siapa jago yang akan mereka usung selain Prabowo dan seperti apa formasinya.

Hingga kini ada lima parpol non pengusung Jokowi yang punya peluang berkoalisi untuk merebut kursi RI-1. Mereka adalah Partai Gerindra, PKS, PAN, Partai Demokrat dan PKB.

Namun hingga beberapa hari menjelang pendaftaran Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden pada 4 Agustus 2018 nanti, belum bisa diketahui kesepakatan koalisi yang akan dilakukan oleh kelima parpol tersebut.

Meski dipastikan Gerindra akan berkoalisi dengan PKS, namun hingga detik ini kesepakatan secara resmi antara kedua parpol belum final. Masih terjadi deal nego politik.

Demikian pula dengan Partai Demokrat, PAN dan PKB hingga saat ini belum bersikap dan terkesan menunggu pergerakan politik last minute. Belum bersikapnya Partai Demokrat dan PKB akan berpotensi melahirkan koalisi baru. Karena kedua parpol ini memiliki jumlah suara dan kursi yang memenuhi syarat Presidential Threshold (PT) untuk memajukan paslon capres dan cawapres.

Pengamat politik dari Lemdik Phiterindo Institute of Law and Politic, Dr Urbanisasi memperkirakan parpol non pengusung Jokowi tengah menyiapkan strategi membelah koalisi. Tujuannya, mereka ingin memunculkan tiga pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden.

“Analisa saya kemungkinan besar koalisi parpol yang tidak mengusung Jokowi akan menggunakan pola strategi mirip Pilkada DKI. Mereka akan memecah koalisi sehingga muncul tiga kandidat Capres dan Cawapres,” ujar Urbanisasi yang juga staf pengajar Universitas Tarumanegara, Jakarta ini ketika dihubungi Sabtu (14/7/2018)

Strategi ini digunakan untuk memecah dukungan kekuatan suara Jokowi yang dalam berbagai data hasil survei tingkat elektabilitasnya jauh lebih tinggi dari lawan. Misalnya Prabowo atau Anies Baswedan.

“Dengan memunculkan tiga pasangan calon maka suara konstituante atau pemilik hak suara akan terbelah, strategi inilah yang akan dipakai untuk menjadikan Pilpres setidaknya berlangsung dua putaran,” kata Urbanisasi.

Pola tersebut, lanjut Doktor jebolan Universitas Hasanudin ini, pernah berhasil diterapkan dalam Pilkada di DKI Jakarta.

“Kesuksesan kubu lawan politik Jokowi menumbangkan Basuki Tjahaja Purnama yang saat itu tingkat elektabilitasnya sangat tinggi sekali dibandingkan kandidat lainnya, akan mereka ulangi lagi,” katanya.

Menurut Urbanisasi, strategi dan pola mereka memecah suara dengan memunculkan tiga calon berhasil memenangkan paslon Anies Baswedan-Sandiaga dalam Pilgub DKI Jakarta. Setidaknya elektabilitas Ahok yang sangat besar terpecah akibat adanya tiga paslon yang tentunya memiliki segmentasi politik tersendiri.

“Keberhasilan Pilkada DKI akan menjadi tolok ukur dan akan diulang kembali di Pilpres,” ujar Urbanisasi.

Sehingga hingga kini koalisi parpol non pengusung Jokowi belum juga terbentuk. “Mereka sedang membuat kalkulasi politik tingkat efektifitasnya untuk meredam besarnya dukungan publik kepada Jokowi,” kata Urbanisasi.

Urbanisasi kemudian berandai-andai membuat prakiraan skenario kemungkinan besar kelima parpol akan memecah koalisi.

“Misalnya Gerindra akan berkoalisi dengan PKS atau Partai Demokrat, atau sebaliknya Partai Demokrat, PAN dan PKB membuat koalisi baru,” katanya.

Koalisi pertama Gerindra-Demokrat kemungkinan besar akan mengusung misalnya Prabowo-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan koalisi kedua PKS, PAN dan PKB akan menampilkan Gatot Nurmantyo-Muhaimin Iskandar atau Anies Baswedan.

Dengan memunculkan tiga pasangan calon maka tingkat elektabilitas Jokowi yang sangat tinggi bisa digerogoti melalui strategi segmentasi politik. “Salah satu koalisi tersebut akan kalah namun mereka mendapat keuntungan memperpanjang agenda Pilpres melalui dua putaran. “Momen ini digunakan kubu lawan Jokowi untuk melakukan konsolidasi politik melalui penyebaran isu,” katanya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah di tempat terpisah. Politisi PKS ini menyebutkan poros ketiga berpeluang muncul pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019.

Bahkan Fahri memperkirakan koalisi ketiga atau istilahnya poros tengah yang dimaksud akan terbentuk sekitar 9 atau 10 Agustus 2018, bersamaan dengan masa akhir pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

“Poros tengah itu kemungkinan besar terbentuk karena Partai Demokrat dan PKB hingga saat ini belum menentukan sikap, apakah bergabung ke kubu Jokowi atau Prabowo,” Fahri di gedung DPR, Jakarta, Jumat (13/7/2018) silam. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *