Yahya Andi Saputra Didapuk sebagai Ketua Seminar Internasional & Festival Tradisi Lisan ke-XIII 2026 di Jakarta

Seminar internasional membahas topik-topik krusial seperti hubungan ekologi dengan masyarakat kuno, serta perlindungan warisan budaya tak benda (Intangible Cultural Heritage). ​Festival budaya menampilkan pertunjukan tradisi lisan dari berbagai daerah di Nusantara untuk memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional ditransmisikan antar generasi. ​Publikasi ilmiah hasil diskusi dari para pakar akan diterbitkan dalam prosiding internasional untuk memastikan jejak pemikiran mengenai tradisi lisan tersebar secara global.

Jakarta, EDITOR.IDAsosiasi Tradisi Lisan (ATL) direncanakan akan kembali menggelar agenda besarnya, yaitu Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan (SIFTL) ke-XIII pada tahun 2026 di Jakarta.

​ATL adalah lembaga yang dikenal berkolaborasi menghubungkan pemerintah (Kemendikbudristek), akademisi, budayawan, dan masyarakat umum dalam satu ekosistem kebudayaan. Salah seorang pengurus nya, Yahya Andi Saputra (sering pula disebut Yahya Saputra) didapuk Pengurus Pusat ATL sebagai Ketua Penyelenggara Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan (SIFTL) ke-XIII pada tahun 2026 di Jakarta.

Rapat pada hari Sabtu, 25 April 2026 di Kantor Pusat ATL Jalan Menteng Wadas, Jakarta Pusat yang dihadiri oleh Ketua ATL Prof. Dr. Pudentia MPSS, Kenedi Nurhan (Wartawan senior Kompas, Editor dan Penulis Buku), Djadjat Sudrajat (Wartawan senior Media Indonesia), Jabatin Bangun (Akademisi, Peneliti, dan Pengajar yang memiliki fokus pada bidang seni, budaya, tradisi lisan, dan Etnomusikologi di Indonesia), Heryus Saputro Samhudi (Pemerhati Budaya eks Wartawan Senior Majalah Femina), Susi Ivvaty (Jurnalis, Peneliti, dan Pengamat Kebudayaan, eks Wartawati Kompas), Daniel Hariman Jacob, M.Hum. (Akademisi, peneliti, dan pengajar di Program Studi Indonesia FIB UI), Andi Sulkarnaen (Akademisi, pengurus pusat ATL), Luqman Hakim (Sekretaris Eksekutif ATL) dan Yul Adriansyah (Fotografer Pemerhati Budaya Tradisi Lisan).

Mengingat tingginya minat dari para peneliti dari dalam dan luar negeri, kuota peserta biasanya sangat terbatas. Jika Anda berencana mengikuti seminarnya, disarankan untuk memantau pembaruan resmi melalui kanal ATL.

Acara ini merupakan kelanjutan dari SIFTL XII yang sukses diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki pada Juni 2023.

​Waktu pelaksanaan direncanakan pada akhir Agustus 2026.Tenggat pendaftaran bagi para akademisi dan peneliti, pengiriman abstrak akan dibuka hingga Juni 2026.

​Fokus dan agenda utama pelaksanaan Lisan ke-XIII ini mengusung misi untuk terus mendokumentasikan dan menghidupkan tradisi lisan agar tidak sekadar menjadi artefak sejarah, tetapi tetap relevan di era modern.

​Seminar internasional membahas topik-topik krusial seperti hubungan ekologi dengan masyarakat kuno, serta perlindungan warisan budaya tak benda (Intangible Cultural Heritage).

​Festival budaya menampilkan pertunjukan tradisi lisan dari berbagai daerah di Nusantara untuk memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional ditransmisikan antar generasi.

​Publikasi ilmiah hasil diskusi dari para pakar akan diterbitkan dalam prosiding internasional untuk memastikan jejak pemikiran mengenai tradisi lisan tersebar secara global.

​ATL sebagai organisasi yang merupakan mitra resmi UNESCO, ATL melalui kegiatan ini berupaya menjawab tantangan zaman dengan melakukan pelestarian, mencegah kepunahan tradisi yang hanya hidup melalui ingatan dan ucapan.

ATL berkomitmen memperkuat identitas – karakter bangsa yang terkandung dalam mitos, legenda, nyanyian rakyat, dan hukum adat melalui kearifan lokal mengambil “akar” yang kuat agar bisa tumbuh kembang tanpa mudah tumbang oleh badai zaman.

Sekilas Mengenai Yahya Andi Saputra 

Salah satu tokoh penting dalam pelestarian dan pengembangan budaya Betawi saat ini dalam menyuarakan pentingnya menjaga tradisi lisan dan identitas Jakarta.

​Yahya Andi Saputra sudah diakui sebagai ahli dalam berbagai genre tradisi lisan Betawi, seperti Pantun, Sohibul Hikayat, hingga Gambang Kromong. Beliau sering menjadi narasumber bagi akademisi maupun pemerintah dalam membedah nilai-nilai filosofis di balik kesenian tersebut.

Aktif berperan di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) khususnya di bidang Penelitian dan Pengembangan. Perannya sangat krusial dalam melakukan standardisasi dan dokumentasi berbagai prosesi adat Betawi agar tetap otentik di tengah arus modernisasi.

Fokusnya tidak hanya pada seni pertunjukan, tetapi juga mencakup penelitian, penulisan seperti upacara adat (pernikahan, khitanan) Betawi, Kuliner tradisional Betawi dan Sejarah lokal kampung-kampung di Jakarta.

​Sebagai aktivisme Kebudayaan

​Selain aktif di lembaga formal, Yahya Andi Saputra sering turun langsung dalam kegiatan komunitas untuk membina seniman muda. Beliau merupakan sosok yang konsisten mendorong agar budaya Betawi tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi bagian dari kurikulum pendidikan dan gaya hidup masyarakat Urban.

“Pendek Kate”, Yahya Andi Saputra memang dikenal memiliki jaringan yang luas dengan berbagai asosiasi yang fokus pada pelestarian nilai-nilai intangible (takbenda) di Indonesia.

Setelah segala perencanaan teknis telah matang dibicarakan dalam rapat, keberhasilan akhir tetap membutuhkan restu dari Sang Pencipta. Ini mengubah pekerjaan rutin menjadi sebuah pengabdian yang memiliki makna lebih mendalam. Sebagai penutup rapat pada hari itu, Yahya Andi Saputra memimpin doa bukan sekadar rutinitas spiritual, melainkan sebuah fondasi psikologis dan strategis yang memperkuat langkah tim. Ketika sebuah niat tulus dibarengi dengan doa bersama agar pelaksanaannya nanti berjalan dengan lancar. (*)

Leave a Reply