Jakarta, EDITOR.ID,- Sungguh tragis dan ironis. Pemerintah Provinsi atau Pemprov DKI Jakarta mengungkapkan fakta mengejutkan. Sekitar 5.000 dana bantuan sosial (Bansos) justru digunakan untuk bermain judi online (Judol). Padahal uang tersebut seharusnya dipakai membeli kebutuhan hidup sehari-hari seperti beras, telor, dll.
Fakta ini diungkap Wakil gubernur Jakarta, Rano Karno. Ia baru saja mengungkap ada 602 ribu warga Jakarta terlibat judi online. Nilai transaksinya fantastis mencapai 3,12 triliun rupiah. Mirisnya 5.000 diantaranya merupakan penerima bantuan sosial.
Lebih dari 500 Ribu Penerima Bansos Terciduk Main Judi Online
Sebelumnya Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap temuan mengejutkan terkait penyalahgunaan dana bantuan sosial (bansos).
Dari total 28,4 juta data Nomor Induk Kependudukan (NIK) penerima bansos yang diperoleh dari Kementerian Sosial, PPATK mencocokkannya dengan 9,7 juta NIK yang teridentifikasi sebagai pemain judi online. Hasilnya, sebanyak 571.410 rekening penerima bansos diketahui digunakan untuk transaksi judi online.
Jumlah tersebut bukan angka kecil. Menurut PPATK, total nilai transaksi ratusan ribu rekening itu mencapai Rp957 miliar dari 7,5 juta transaksi. Jika dirata-rata, setiap penerima bansos melakukan sekitar 13 kali transaksi judi online dengan total nilai mencapai Rp1,67 juta.

Temuan Baru dari Satu Bank
“Ya kita masih dari satu bank ya, baru satu bank, jadi kita cocokin NIK-nya, ternyata memang ada NIK penerima bansos yang juga pemain judol,” kata Kepala PPATK Ivan Yustiavandana usai rapat kerja dengan Komisi III DPR pada Kamis (10/7/2025) silam
Ivan menjelaskan, data ini diperoleh dari proses pencocokan NIK yang dilakukan PPATK terhadap nasabah salah satu bank milik negara (BUMN). Analisis tersebut mengungkap bahwa ratusan ribu nama yang selama ini menerima bantuan dari negara justru menyalahgunakannya untuk aktivitas ilegal.
Mensos Wanti-Wanti Jangan Gunakan Bansos Buat Main Judi Online
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mewanti-wanti agar bansos digunakan sesuai fungsinya.
Hal itu disampaikan Saifullah Yusuf saat meninjau penyaluran bantuan sosial (Bansos) di Kantor Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Senin (27/10/2025).
“Bansos digunakan untuk kebutuhan, dan tidak boleh digunakan untuk hal yang tidak sesuai peruntukannya. Apalagi untuk main judol (judi online), bansos kok dibuat main judol, itu sudah jelas di luar peruntukannya dan melanggar ketentuan,” tegas menteri yang akrab disapa Gus Ipul tersebut ketika berdialog dengan para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tengah mencairkan bantuan miliknya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa pemerintah memiliki bermacam-macam bantuan dari berbagai Kementerian. Di antaranya, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)/Sembako dan Program Keluarga Harapan (PKH), dari Kementerian Sosial (Kemensos).
Terbaru, bahkan ada Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS) dengan total nilai Rp31,54 triliun yang difokuskan untuk 35,04 juta KPM di desil 1 sampai 4 DTSEN. Bantuan sebesar Rp 300 ribu per bulan ini diberikan selama tiga bulan, yaitu Oktober, November, dan Desember, sebagai bagian dari strategi stimulus ekonomi.
“Pak Presiden itu punya perhatian yang luar biasa terhadap keluarga-keluarga yang memang membutuhkan bantuan dari pemerintah,” papar Gus Ipul.
Meski banyak program bansos, ia mengingatkan bahwa bansos hanya bersifat sementara. KPM harus menjadi keluarga yang lebih mandiri dan berdaya. Karenanya, bansos akan diberikan maksimal 5 tahun bagi mereka yang masih dinilai berdaya.
Kegiatan ini dihadiri oleh 50 orang KPM, salah satunya Siti Mariani. Warga Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal ini mengaku sudah menerima bantuan sembako selama setahun.
Siti, sapaan akrabnya, adalah seorang janda. Suaminya sudah lama meninggal. Karenanya, ia merasa sangat terbantu dengan bantuan sembako yang diterima untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
“Bantuannya bermanfaat untuk beli sembako, beli kebutuhan, makanan, vitamin. Kebantu dengan adanya bantuan ini,” ungkapnya. ***












