Jakarta, EDITOR.ID,- Di dunia jurnalistik yang serba cepat dan penuh dinamika, ada sebuah pesan sunyi namun sarat makna yang kerap digaungkan oleh para senior: jangan pernah hanya bergantung pada satu sumber penghasilan.
Pesan inilah yang diresapi dan dibuktikan secara nyata oleh Musrifah, atau yang akrab disapa Ifa, seorang wartawati dari majalah Forum Keadilan sekaligus pengurus pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Ifa melangkah dan memberikan inspirasi kepada banyak orang bagaimana usaha menjaga warisan budaya bangsa dalam bentuk sebuah keindahan. Ia mendirikan butik “Batik Selaras”, mengenalkan busana batik sebagai warisan bangsa. Disana Ifa ingin mengenalkan bahwa batik adalah indentitas bangsa yang harus dilestarikan.
Bagi Ifa, merintis sebuah usaha sampingan bukanlah hal tabu bagi seorang jurnalis. Selama dilakukan dengan cara yang halal dan tidak sedikit pun menggadaikan integritas profesi, kerja keras di luar ruang redaksi justru bisa menjadi jalan baru yang membanggakan.
Hari ini, Rabu, 19 Agustus 2026, langkah inspiratif itu menemukan wujudnya yang paling indah. Tepat pukul 11.30 WIB, suasana di Koperasi Primer Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhamnas RI), yang berlokasi di Gedung Panca Gatra, Jalan Kebon Sirih Nomor 24-28, Jakarta Pusat, tampak berbeda dari biasanya.
Gelaran tasyakuran dan grand opening diselenggarakan dengan penuh khidmat, menandai lahirnya sebuah ruang seni dan mode yang dinamai “Butik Selaras”.

Membawa Mahakarya Pembatik Jawa ke Panggung Nasional
Butik Selaras bukanlah sekadar tempat berbelanja pakaian biasa. Di balik rak-rak dan gantungan busananya, tersimpan cerita tentang keringat, ketekunan, dan guratan tangan para perajin lokal di tanah Jawa. Ifa mendedikasikan butik ini untuk memperkenalkan mahakarya handmade dari para pembatik tradisional langsung ke panggung nasional.
Melalui Butik Selaras, pengunjung disuguhkan ragam corak batik autentik yang membawa karakter khas dari berbagai daerah sentra batik legendaris. Mulai dari keanggunan motif Solo, kedalaman filosofi Yogya, keelokan detail Pekalongan, hingga pesona khas Semarang.
Setiap helai kain dirancang untuk memancarkan nuansa yang anggun dan berwibawa bagi siapapun yang mengenakannya.
Menjaga Marwah Leluhur Lewat Identitas Budaya
Mengusung tema besar “Warisan Budaya Dalam Keindahan”, Ifa tidak hanya ingin berbisnis, melainkan turut merawat denyut nadi kebudayaan bangsa. Batik, bagi Ifa, adalah identitas hidup yang harus terus dijaga kelestariannya di tengah arus modernisasi.
Di sela-sela acara syukuran hari ini, dengan penuh kerendahan hati, Ifa memohon doa restu serta dukungan dari rekan-rekan jurnalis, sahabat, dan seluruh masyarakat luas.
Ia berharap langkah kecilnya ini mendapat sambutan hangat, sehingga masyarakat semakin bangga mengenakan busana batik sebagai wujud kecintaan terhadap peninggalan luhur nenek moyang.
“Terima kasih dan saya mohon doanya agar butik ini dicintai masyarakat dan menjadi rujukan bagi orang yang ingin memakai baju bercorak batik sebagai warisan dan khazanah budaya bangsa Indonesia yang sangat luhur,” ujar Ifa dalam keterangannya.
Kini, dari jantung ibu kota, Butik Selaras berdiri sebagai bukti bahwa seorang jurnalis tidak hanya mampu menuliskan sejarah lewat tinta dan kata-kata, tetapi juga mampu merajut dan merawat warisan budaya bangsa lewat keindahan selembar kain batik. ***













