Settia

Tol Jatim Macet Parah Gara-Gara Bayar Tunai

Macet di Exit Tol Bandar Jombang, Ternyata Aturan Ini Jadi Salah Satu Faktor Antrian Panjang (Sumber Foto: SuryaMalang.com)

EDITOR.ID, Kertosono,- Pengguna jalan tol benar-benar tersiksa gara-gara ketidakprofesionalan pengelola jalan Tol di Jawa Timur dalam pelayanan. Akibatnya, jalur tol menjelang pintu keluar (Gerbang Exit Tol) Kertosono-Wilangan macet parah sepanjang 5 kilometer. Kendaraan yang akan keluar pintu tol nyaris tak bergerak.

Antrean panjang kendaraan terjadi selama empat hari terakhir di sepanjang tol Kertosono-Wilangan. Tepatnya perbatasan Kabupaten Nganjuk-Madiun, Jawa Timur. Volume kendaraan sama-sama padat, baik dari arah Surabaya ke Madiun maupun sebaliknya. Namun hingga beberapa hari belum juga ada solusi bagaimana mengurai kemacetan antrian menjelang pintu tol.

Kemacetan juga terjadi di Gerbang Exit Tol Bandarkedung Mulyo dan persimpangan jembatan Kayen, Kecamatan Bandar kedungmulyo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur pada H plus 2 (H+2) Lebaran 2018 Minggu (17/6/2018).

Pantuan di lokasi, kemacetan sepanjang 3 kilometer tampak terjadi di gerbang Exit Tol Jombang – Mojokerto (Jomo) di Bandarkedung Mulyo. Bahkan, juga menyebabkan kemacetan di jalur Arteri Surabaya – Madiun.

Ini terjadi, akibat adanya antrian pembayaran di Gerbang Exit Tol Bandar, hingga menyebabkan kemacetan kendaraan yang masih didominasi pemudik dari arah Surabaya menuju ke Madiun. Kemacetan juga terjadi di arus balik tepatnya Gerbang Exit Tol Wilangan sebelum Rest Area Perhutani Wilangan. Kendaraan nyaris tak bergerak karena harus antri menuju pintu tol Wilangan untuk melakukan pembayaran tol.

 Salah satu pengguna jalan tol Edo mengaku kecewa dengan pengelola Tol. Pasalnya sejak awal masuk pintu tol, ia “dipaksa” harus menggunakan kartu e-Tol. Ada papan himbauan dan antri panjang karena harus diperiksa apakah pengemudi sudah siap membawa kartu e-Tol dengan saldo yang cukup atau tidak.

Tapi ketika dia keluar pintu gerbang tol untuk menggesek kartu e-Tol, pengelola justru meminta dia untuk membayar tunai. Bukan menggunakan saldo yang ada dalam kartu yang dipegangnya. Padahal isi saldonya sangat cukup untuk membayar tol.

Alasan petugas pintu tol, saat itu katanya sistem online dan IT pembayaran kartu e-Tolnya sedang rusak. Inilah yang menyebabkan kendaraan kemudian antre panjang menunggu pembayaran tunai. Kemacetan pun tak terhindarkan sepanjang lima kilometer hingga tempat rest area Perhutani, Wilangan.

“Tapi kenyataannya kami harus macet parah dan panjang selama hampir 3 jam. Penyebabnya tak lain karena pas keluar di Exit Gerbang Tol kami diminta membayar tunai bukannya menggunakan kartu e-Tol, lantas buat apa kami tadi mengalami macet parah dan antre panjang hanya gara-gara harus diperiksa apakah bawa kartu e-Tol atau tidak,” keluh warga Surabaya ini yang sedang dalam perjalanan dari Yogya ke Surabaya.

Yang membuat Edo prihatin, ketidakprofesionalan pengelola jalan tol ini juga akan berdampak pada kerawanan penyimpangan keuangan Jasa Marga dan pendapatan negara dari pengelolaan jalan tol.

“Bayangkan bagaimana pendapatan negara akan hilang karena puluhan ribu kendaraan membayar tol dengan cara tunai, artinya ada sebagian data yang bisa dimanipulasi, kan kita ga bisa mengontrol dan menghitung berapa jumlah kendaraan kalau data ITnya dimatikan,” katanya.

Daripada pendapatan tol disalahgunakan Edo menyarankan jika sistem online pintu gerbang tol rusak maka tanggung jawab harus ada di Jasa Marga. Kompensasinya, konsumen pengguna tol sebaiknya diberikan gratis keluar tol tidak usah membayar untuk memperlancar kemacetan.

“Tapi kalau kita membayar tunai bagaimana petugas itu hitungannnya dengan manajemen dan Departemen Keuangan untuk menghitung pendapatannya, kan sistem IT dan onlinenya mati, jadi uang itu bisa disalahgunakan tanpa bisa diawasi siapapun,” kata Edo.

Padahal dalam pandangan Edo jumlah kendaraan yang melintas jalan tol baru di jalur Mojokerto, Jombang, Kertosono, Nganjuk hingga Solo mencapai jutaan kendaraan. “Berapa miliar negara akan dirugikan kalau data pembayaran tidak valid karena Kartu e-Tolnya rusak dan menggunakan cara konvensional dengan membayar tunai,” papar Edo.

Selain itu, pembayaran tunai ini menjadi penyebab kemacetan luar biasa kendaraan yang akan keluar pintu Gerbang Tol. “Harusnya Jasa Marga memberikan kompensasi bebas membayar agar kendaraan bisa cepat keluar bukan mengantre cukup panjang,” pungkas Edo

Kemacetan juga terjadi karena adanya penyimpitan jalan sebelum Jembatan Kayen, membuat persimpangan di Gerbang Exit tol dan pertemuan arus lalu lintas di jalan arteri dari arah Surabaya – Madiun, macet parah dari ketiga arah, yakni Exit Tol Bandar dan Jalur Surabaya – Madiun, dan sebaliknya.

Di sepanjang jalur arteri, kemacetan terjadi hingga 2 kilometer dari arah Surabaya menuju Madiun. Menurut Wibowo (45) salah satu pemudik dari Jombang menuju Solo, mengaku terjebak kemacetan di pintu Gerbang Exit Tol Bandar hingga 3 jam.

“Berhenti di Gerbang Exit Tol Bandar mulai pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB. Antrian sangat panjang. Macetnya begitu parah. Mungkin karena banyaknya pemudik seperti saya yang baru mudik ke kampung halaman usai lebaran,” terangnya saat ditemui di lokasi.

Untuk mengurai kemacetan, sejumlah petugas kepolisian yang berada di lokasi, melakukan rekayasa arus lalu lintas, baik dari arah pintu keluar tol, maupun dari jalur arteri Surabaya menuju Madiun.

“Agar kemacetan bisa terurai sedikit demi sedikit, kita lakukan rekayasa dengan Contra Flow, dari arah Madiun – Surabaya dan sebaliknya. Selain itu, kita juga melakukan pengalihan arus kendaraan dari arah Surabaya untuk dialihkan menuju Kediri melalui pertigaan Jatipelem Kecamatan Diwek,” terang Ipda Sartono, petugas lalu lintas di lokasi kemacetan.

Kemacetan yang terjadi di Gerbang Exit Tol Jombang – Mojokerto (Jomo) Bandarkedung Mulyo, dan persimpangan Jembatan Kayen di Kecamatan Bandarkedung Mulyo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, membuat polisi terus melakukan rekayasa arus lalu lintas untuk mengurai kemacetan yang terjadi hingga pukul 14.17 WIB, Minggu (17/6/2018).

Informasi terakhir, petugas melakukan pembukaan jalur Tol Fungsional Kertosono – Wilangan dari arah Surabaya (timur) menuju ke arah ke Ngawi (barat). Meski sebelumnya, jalur Tol fungsional Kertosono – Wilangan pada H plus 2 lebaran, diberlakukan satu jalur, yakni dari arah Wilangan ke Kertosono.

Ini dilakukan untuk mengurai kemacetan yang terjadi di Gerbang Exit Tol Bandarkedung Mulyo dan persimpangan Jembatan Kayen di Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

“Untuk mengurai kemacetan yang terjadi gerbang tol fungsional kita buka dua jalur, yakni dari arah Surabaya menuju ke timur dan sebaliknya. Sehingga kepadatan dari arah timur (Surabaya) bisa segera terurai. Sebab, pengendara bisa masuk ke jalur tol fungsional melalui barat (Wilangan) dan bisa masuk melalui pintu gerbang timur (Gerbang Bandar),” ujar AKP Inggal Widya Perdana, Kasatlantas Polres Jombang.

Selain memberlakukan dua jalur di Jalan Tol Kertosono – Ngawi, untuk mengurai kemacetan di jalur arteri dari arah Surabaya ke Madiun, petugas juga melakukan rekayasa arus lalu lintas dengan cara contra flow atau buka tutup jalur.

“Selain itu, kita juga melakukan pengalihan arus dari arah Surabaya melalui jalur persimpangan Jatipelem untuk menuju ke Madiun melalui Kediri,” terangnya.

Seorang pengendara bernama Budi (50) mengatakan antrean kendaraan mulai ditemui begitu mau masuk ke Gerbang Tol Bandar di Kabupaten Jombang. Dari Surabaya, ia hendak bersilaturrahim ke sanak saudara di Solo dan memilih jalur tol.

“Sebelum masuk gerbang Tol Bandar, kami diarahkan putar balik ke jalur tol fungsional Kertosono-Wilangan,” katanya. “Kami mengalami kemacetan panjang di pintu tol Wilangan, setelah itu dari Madiun ke arah Solo lancar sekali,” katanya. (tim)

Leave a Reply