Jakarta, EDITOR.ID,– Sebuah video liputan langsung memperlihatkan isak tangis jurnalis yang juga produser lapangan CNN Irine Wardhanie meledak saat menyaksikan warga Aceh masih merana dan tak terurus. Ia tak kuasa menahan tangisnya karena merasakan bagaimana warga Aceh masih kesulitan mendapatkan bahan pangan, lokasi yang masih terisolir dan butuh bantuan.
Irine merasa ada beban psikologis dan empati mendalam sebagai pelapor berita saat meliput tragedi kemanusiaan di Aceh Tamiang, bagian dari bencana ekologis Sumatera akhir bulan November 2025.
Menangis karena kecewa terhadap pejabat-pejabat pemangku kebijakan yang dianggap kurang berempati dan lebih mengutamakan pencitraan daripada memberikan solusi nyata bagi para pengungsi.
Jurnalis presenter @cnnindonesia, Irine Wardhanie menangis saat melakukan liputan pascabencana di Aceh Tamiang pada Desember 2025, dirinya tak kuasa menahan tangis saat melaporkan kondisi kemanusiaan di lapangan, terutama ketika melihat anak-anak korban bencana yang belum mendapatkan makanan layak dan masih terjebak di lokasi terdampak.
Liputan tersebut dilakukan di tengah situasi banjir besar yang melanda wilayah Aceh Tamiang.
Selain kesedihan, ia juga membagikan kisah haru tentang kebaikan hati para pengungsi yang tetap bersedia berbagi makanan meskipun berada dalam keterbatasan.
Irine Wardhanie menceritakan kondisi sebenarnya di Aceh Tamiang. “Berat sekali cobaan saudara kami yg terkena musibah banjir dan tanah longsor. Terus ada yg bilang hal ini hanya mencekam di medsos saja. Dan orang yg bilang demikian adalah orang yg seharusnya paling tahu kondisi lapangan”.
Video tersebut viral karena mengungkap kontras tajam antara penderitaan nyata warga Aceh Tamiang dengan sikap abai sebagian pihak.
Video tersebut memicu simpati luas dari netizen, direspon emosional memperkuat dampak pesan sang presenter.
Dia jurnalis CNN Indonesia mengkritisi narasi pejabat yang meremehkan keparahan situasi sebenarnya di lokasi bencana, menegaskan bahwa kondisi di lapangan jauh lebih buruk daripada klaim “mencekam di medsos”, hal itulah bahayanya disinformasi dan perlunya pelaporan berbasis fakta sesungguhnya dari lokasi bencana.
Ia merasa narasi pejabat yang dimaksud (Kepala BNPB, LetJend , Suharyanto) tersebut meremehkan penderitaan korban yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Kekecewaan jurnalis terhadap respons resmi, terutama kritik ditujukan kepada pejabat yang dituduh kurang berempati dan lebih fokus pada pencitraan atau sekadar berfoto, alih-alih memberikan bantuan dan solusi nyata bagi para pengungsi.
Peristiwa ini sekaligus mengingatkan publik terutama para pemangku kebijakan bahwa di balik data statistik bencana, terdapat nyawa dan ruang hidup manusia yang hancur dan membutuhkan penanganan serius, bukan sekadar konten untuk media sosial
Semoga peristiwa ini manjadi panggilan untuk bertindak bagi para pemangku kebijakan agar menangani para pengungsi (korban terdampak bencana) membutuhkan solusi serius dan nyata.(*)












