“Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…”
— (QS. Al-Ankabut: 45)
Shalat yang dilaksanakan dengan khusyuk akan membentuk kepribadian seorang Muslim, menjaga dirinya dari perbuatan dosa, serta meningkatkan kesadaran spiritual. Oleh karena itu, jika shalat seseorang baik, maka perilaku dan amal lainnya juga akan terpengaruh positif, dan ini menjadi dasar mengapa shalat diperiksa pertama kali di Hari Kiamat.
5. Hisab Shalat sebagai Awal Penentuan Nasib di Akhirat
Karena shalat adalah amal pertama yang dihisab, hal ini juga memiliki konsekuensi besar bagi nasib seorang Muslim di akhirat. Jika shalatnya diterima, maka ada harapan besar bahwa amal-amal lainnya juga akan diterima. Sebaliknya, jika shalatnya ditolak, amal lainnya bisa jadi mengalami hal yang sama. Oleh karena itu, shalat menjadi ukuran utama dalam hisab amal di akhirat.
6. Makna Spiritualitas di Balik Hisab Shalat
Shalat mengandung dimensi spiritual yang mendalam, yang melibatkan perasaan tunduk dan ketergantungan penuh kepada Allah. Shalat bukan sekadar rutinitas harian, tetapi juga merupakan sarana untuk mendidik jiwa, menumbuhkan kerendahan hati, dan menguatkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Oleh karena itu, perhitungan shalat di Hari Kiamat juga menjadi cerminan dari sejauh mana seseorang telah menjaga hubungan spiritualnya dengan Allah selama hidup di dunia.
Keutamaan Shalat Sunnah
Selain shalat wajib lima waktu yang harus dikerjakan oleh umat muslim, sholat Sunnah juga sangat berfaedah untuk menambah keimanan dan ketakwaan. Shalat Sunnah juga menjadi penyempurna Shalat wajib lima waktu agar amalan-amalan shalat kita makin diterima Allah SWT.
Pertama: Dihapuskan dosa dan ditinggikan derajat
Ma’dan bin Abi Tholhah Al-Ya’mariy, ia berkata, “Aku pernah bertemu Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu aku berkata padanya, ‘Beritahukanlah padaku suatu amalan yang karenanya Allah memasukkanku ke dalam surga’.” Atau Ma’dan berkata, “Aku berkata pada Tsauban, ‘Beritahukan padaku suatu amalan yang dicintai Allah’.” Ketika ditanya, Tsauban malah diam.
Kemudian ditanya kedua kalinya, ia pun masih diam. Sampai ketiga kalinya, Tsauban berkata, ‘Aku pernah menanyakan hal yang ditanyakan tadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
“Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud (memperbanyak shalat sunnah, pen.) karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu’.” Lalu Ma’dan berkata, “Aku pun pernah bertemu Abu Darda’ dan bertanya hal yang sama. Lalu sahabat Abu Darda’ menjawab sebagaimana yang dijawab oleh Tsauban padaku.” (HR. Muslim, no. 488).
Kedua: Akan dekat dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga
Dari Rabiah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dia berkata,












