Settia

Semarang Kota Wisata Terbersih Se-Asia Tenggara

Semarang – Warga Kota Semarang patut berbangga. Sebab, Ibu Kota Provinsi Jateng ini merupakan kota wisata terbersih se-Asia Tenggara atau ASEAN Clean Tourist City Standart.

Penetapan ini dilakukan pada ajang ASEAN Tourism Award di Brunei Darussalam, Kamis (16/1) lalu. Penghargaan itu diberikan kepada Sekda Kota Semarang, Iswar Aminuddin mewakili Wali Kota Hendrar Prihadi.

Penghargaan prestisius yang diraih Kota Lunpia ini mengalahkan kota tujuan wisata lainnya di Indonesia, seperti Denpasar, Yogjakarta, Kota Bandung, dan kota-kota wisata lain. Selama dua tahun ke depan hingga 2022, penghargaan ini akan menjadi milik Kota Semarang.

Sebuah kebanggaan sekaligus juga tantangan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan yang bersih di kota ini. Wali Kota Hendrar Prihadi mengungkapkan, keberhasilan meraih penghargaan tersebut karena adanya konsep bergerak bersama. Hal itu baik dari stakeholder, Pemkot Semarang, masyarakat, pengusaha, dan pihak media.

Semuanya bekerja bersama-sama. ”Dengan konsep bergerak bersama, tendangannya jadi lebih kuat,” tegas Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu saat menghadiri acara Warga Guyub Suara Merdeka di Kawasan Taman Wilis, Minggu (19/1). Hendi menjelaskan, konsep bergerak bersama ini telah membuahkan hasil dan orang kemudian mengapresiasi Kota Semarang.

Padahal, Kota Semarang tidak sebesar kota-kota lain. Pergerakan dan perubahan sangat terasa karena hampir semua warganya berkomitmen menjadikan Kota Semarang menjadi lebih baik.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Indriyasari mengungkapkan, Semarang menjadi satu-satunya kota yang meraih predikat Clean Tourist City. Semarang memang jauh lebih ramah dari polusi udara dan sampah.

Kebersihan dan kenyamanannya juga selalu terjaga dengan baik. Ya, masih normalnya emisi gas buang dari kendaraan serta keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) yang mencapai lebih dari 30 persen dari total wilayah menjadi kunci sukses diraihnya penghargaan kota wisata terbersih tersebut. ”Pada 2019 lalu, sekurangnya 7,2 juta wisatawan berkunjung ke Kota Lunpia.

Karena itu, pada tahun ini diharapkan jumlah kunjungan meningkat. Tidak hanya secara kuantitas tapi juga kualitas,” ungkapnya. Perempuan yang akrab disapa Iin itu selanjutnya akan lebih fokus pada peningkatan kualitas, tidak sekadar kuantitas kunjungan wisawatan.

Kualitas yang dimaksud, yakni bagaimana wisatawan bisa menggenjot bergulirnya roda perekonomian warga dari sektor wisata. Adapun lama tinggal wisatawan di Semarang hanya sekitar 1-2 hari. Karenanya, dengan adanya peningkatan kualitas, lama tinggal, jumlah belanja, dan pengeluaran wisatawan serta kualitas kunjungan juga diharapkan naik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *