Settia

Satgas Minta Unair Jelaskan Uji Klinis Obat Covid Temuannya

EDITOR.ID – Jakarta, Universitas Airlangga (Unair) berhasil mempersembahkan karya besar obat anti Covid-19 yang dalam uji klinis mampu menyembuhkan pasien hingga 98 persen. Temuan ini bahkan diklaim yang pertama di dunia. Namun anehnya temuan ini bukannya direspon positif oleh para ahli di tanah air yang bangga dengan temuan ini, namun justru terus dipertanyakan dan disoal.

Setelah Ahli Epidemologi UI Pandu Riono mengkritik dan menyoroti temuan para peneliti kesehatan Unair tersebut, kini Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito giliran meminta pihak Universitas Airlangga dapat menjelaskan kaji etik dan uji klinis terkait pernyataan penemuan obat COVID-19.

“Tentunya Universitas Airlangga dibantu dengan BIN (Badan Intelijen Negara) dan TNI AD pasti tidak keberatan untuk menjelaskan bagaimana kaji etik berlangsung dan uji klinis yang sedang dijalankan,” kata Wiku dalam konferensi pers di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (18/8).

Sebelumnya tim gabungan antara Universitas Airlangga, Badan Intelijen Negara (BIN), dan TNI AD mengklaim sudah menemukan obat COVID-19 pertama di dunia.

Rektor Universitas Airlangga Mohammad Nasih menjelaskan bahwa obat tersebut merupakan kombinasi dari berbagai macam obat, yakni Lopinavir/Ritonavir-Azithromycin; Lopinavir/Ritonavir-Doxycycline; serta Hydrochloroquine-Azithromycin.

Kombinasi-kombinasi dari obat yang sudah beredar di pasaran itu diklaim telah teruji memberi hasil efikasi menyembuhkan pasien COVID-19 non pengguna ventilator hingga 98 persen.

“Tentu uji klinis harus dijalankan dengan protokol yang benar sesuai standar internasional agar obatnya aman dan efektif untuk menyembuhkan,” kata Wiku.

Wiku mengatakan upaya untuk menemukan obat yang tepat telah dilakukan berbagai pihak di dunia termasuk di Indonesia, dan tidak hanya obat tunggal tapi juga berbentuk regimen (kombinasi).

“Unair dalam menjalankan testing atau uji klinis dari obat yang dikembangkan berupa redimen tersebut sudah melalui kaji etik di universitasnya dan transparansi publik sangat diperlukan,” ungkap Wiku.

Sampai saat ini menurut Wiku belum ada izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk obat yang dikembangkan Unair tersebut.

“Karena masih dalam proses uji klinis dan setelah disampaikan Unair kepada pemerintah dalam hal ini BPOM bisa jadi bahan review dan bisa untuk uji edar dan prinsipnya adalah aman dan efektif. WHO sampai sekarang belum menentukan obat standar paling efektif untuk menyembuhkan COVID-19,” ujar Wiku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *