Saat Budi Rahardjo Menimba Ilmu Intelijen dari Sang Maha Guru Jenderal Hendropriyono

Selama bercengkerama bersama, Jojo dan Hendropriyono banyak mendiskusikan tentang berbagai persoalan. Terkadang ringan terkadang serius. Bapak Intelijen Indonesia ini banyak memberi ilmu dan wejangan kepada Jojo berbagai hal yang selama ini tak terungkap di publik dan tentang arah masa depan bangsa ini.

“Bahwa menjalankan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, harus dilaksanakan sesuai sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab,” tambahnya.

Ia mempertegas bahwa hubungan agama dengan Pancasila sebagai falsafah dan asas bernegara.

“Agama dan beragama harus membuat orang sadar bukan sebaliknya. Juga perlu memahami hubungan agama dan Pancasila sebagai falsafah dan asas bernegara,” tulis Hendropriyono.

“Pancasila justru lahir karena agama, bukan di atas agama. Pancasila juga tidak boleh didikotomikan dengan agama,” tutur Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara dan Sekolah Tinggi Hukum Militer tersebut memberikan pendidikan soal Pancasila.

“Jadi ada hubungan tak terpisahkan antara agama dan sila-sila dari Pancasila. Mana bisa kita beragama jika kita membunuhi orang lain, yang jelas-jelas dilarang oleh agama apa pun. Itu namanya tidak sadar beragama alias mabuk,” tulis Hendro.

“Dengan demikian beragama diperlukan disiplin, tunduk pada aturan. Pancasila menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa itu paling atas. Itu diyakini dalam semua agama. Sila pertama itu harus dijabarkan dalam sila-sila lainnya,” tandasnya.

Hendro juga mengingatkan bahwa menjelang tahun politik Pemilu 2024, agenda intelijen dunia terhadap Indonesia harus menjadi perhatian serius segenap pihak. Agenda intelijen yang sifatnya klandestin atau rahasia itu tentu memiliki beragam maksud.

Dijuluki Master Of Intelijen

AM Hendropriyono adalah seorang tokoh intelijen dan militer Indonesia. Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini pernah dianugerahi bintang Tertinggi Timor Leste, Sabtu 20 Agustus 2022. Penghargaan itu diberikan langsung oleh Presiden Timor Leste Jose Manuel Ramos Horta di Dili, Timor Leste.

Hendropriyono dijuluki the master of intelligence karena menjadi “Profesor di bidang ilmu Filsafat Intelijen” pertama di dunia. Kepala Badan Intelijen Negara pertama ini memiliki segudang pengalaman hidup dalam pengabdian pada bangsa dan negara ini. Oleh sebab itu kecintaannya terhadap Indonesia tak diragukan lagi.

Ia pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan.

Pada periode tahun 2001-2004 sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) di Kabinet Gotong Royong. Hendropriyono merupakan penggagas lahirnya Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Sentul, Bogor, Dewan Analis Strategis (DAS) Badan Intelijen Negara, Sumpah Intelijen, Mars Intelijen, menetapkan hari lahir badan intelijen, mencipta Logo dan Pataka BIN, mempopulerkan bahwa intelijen sebagai “ilmu” dan menggali “filsafat intelijen”, serta menggagas berdirinya tugu Soekarno-Hatta di BIN.

Sumbangkan Ilmu dan Pengalamannya Buat Mengajar Generasi Muda

Sekarang ini Hendropriyono menjadi pengamat terorisme dan intelijen, yang kerap diminta untuk menjadi narasumber oleh media massa dan berbagai lembaga, giat menulis bermacam pemikirannya dalam artikel-artikel di berbagai koran, majalah, radio dan televisi.

Leave a Reply