Rusia dan Mayoritas Negara di Dunia Marah dan Kutuk Serangan AS ke Iran, Tak Hargai Kedaulatan Negara

Rusia Kutuk Serangan AS ke Iran, Prancis Gelar Rapat Dewan Pertahanan

Donald Trump dan Serangan AS ke Iran

Jakarta, EDITOR.ID,- Mayoritas pemimpin dunia marah dan mengutuk serangan Amerika Serikat ke Iran. Serangan tersebut menunjukkan Amerika tidak menghargai sebuah kedaulatan negara. Amerika menunjukkan sikap arogannya dan sewenang-wenang menghancurkan negara lain, yakni Iran yang tak bersalah terhadap negeri Paman Sam itu.

Sebagaimana diketahui Amerika Serikat (AS) secara mendadak menyerang Iran dengan membombardir tiga fasilitas nuklir negara Islam tersebut, Minggu (22/6/2025). Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan AS telah melakukan serangan yang sangat berhasil terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, yakni situs Natanz, Isfahan, dan Fordow.

“Ini adalah momen bersejarah bagi AS, Israel, dan dunia. Iran sekarang harus setuju untuk mengakhiri perang ini,” tulis Trump di Truth Social.

Reaksi Dunia atas Serangan AS Terhadap Iran

Rusia mengutuk keras serangan Amerika Serikat ke sejumlah fasilitas nuklir Iran dan mengingatkan aksi AS semakin membahayakan situasi di Timur Tengah. Hal senada disampaikan Perancis. Negeri Menara Eiffel ini merespons dengan rencana dialog untuk meredakan ketegangan.

Kremlin juga menyebut serangan AS terhadap Iran sebagai serangan yang tidak bertanggung jawab dan melangkahi hukum internasional.

“Sudah jelas bahwa saat ini eskalasinya semakin berbahaya, semakin merusak keamanan regional dan global,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, dikutip dari AFP.

PBB Peringatkan AS

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa serangan AS terhadap Iran merupakan eskalasi yang berbahaya di wilayah yang sudah tidak stabil, yang menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan global.

“Ada risiko yang semakin besar bahwa konflik ini dapat dengan cepat lepas kendali–dengan konsekuensi yang sangat buruk bagi warga sipil, kawasan, dan dunia,” kata Guterres dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters.

“Pada saat yang berbahaya ini, sangat penting untuk menghindari kekacauan yang terus berlanjut. Tidak ada solusi militer. Satu-satunya jalan ke depan adalah diplomasi. Satu-satunya harapan adalah perdamaian,” katanya.

“Kami mengutuk keras pengeboman AS terhadap fasilitas nuklir Iran, yang merupakan eskalasi berbahaya dari konflik di Timur Tengah. Agresi tersebut secara serius melanggar Piagam PBB dan hukum internasional serta menjerumuskan manusia ke dalam krisis dengan konsekuensi yang tidak dapat diubah.”

Sikap Perancis Atas Serangan AS ke Iran

Sementara itu Presiden Prancis Emmanuel Macron disebut bakal menggelar rapat dengan Dewan Pertahanan merespons serangan Amerika Serikat ke Iran.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot sebelumnya telah menyatakan kekhawatiran atas aksi militer AS terhadap Iran. Dia juga menegaskan Prancis sama sekali tidak terlibat dalam serangan tersebut.

“Kami mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghindari upaya memantik eskalasi dalam bentuk apapun yang dapat mengarah pada konflik yang berkepanjangan,” kata Barrot.

Sejauh ini belum ada pernyataan apapun dari Macron terkait serangan AS ke Iran.

Pada Sabtu waktu setempat, Macron menyatakan bahwa Prancis dan sejumlah negara Eropa berencana meningkatkan dialog dengan Iran.

Sehari sebelumnya, para diplomat top dari Inggris, Prancis, Jerman dan Uni Eropa menggelar dialog di Jenewa dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, terkait keberlangsungan program nuklir negara Mullah tersebut.

Eropa terus mendesak Teheran melanjutkan jalur diplomatik dengan Amerika Serikat untuk menemukan solusi terkait program nuklir Iran.

“Prancis telah berulang kali menyatakan penentangannya yang sangat tegas terhadap akses Iran ke senjata nuklir,” kata Barrot.

“Prancis yakin bahwa penyelesaian yang langgeng dari masalah ini memerlukan solusi yang dinegosiasikan dalam kerangka Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.

Venezuela Kecam AS

Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil mengutuk serangan tersebut dalam sebuah pesan di Telegram.

“Venezuela mengecam agresi militer AS terhadap Iran dan menuntut penghentian permusuhan segera. Republik Bolivarian Venezuela dengan tegas dan tegas mengutuk pengeboman yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat, atas permintaan Negara Israel, terhadap fasilitas nuklir di Republik Islam Iran, termasuk kompleks Fordow, Natanz, dan Isfahan,” katanya.

Kuba Kutuk AS

Sementara Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel juga mengutuk serangan tersebut di platform media sosial X, dengan mengatakan: “Kami mengutuk keras pengeboman AS terhadap fasilitas nuklir Iran, yang merupakan eskalasi berbahaya dari konflik di Timur Tengah. Agresi tersebut secara serius melanggar Piagam PBB dan hukum internasional dan menjerumuskan umat manusia ke dalam krisis dengan konsekuensi yang tidak dapat diubah.”

Hamas Siap Bantu Iran

Hamas mengatakan serangan AS menguntungkan Israel, bersumpah untuk bersolidaritas dengan Iran. “Gerakan Perlawanan Islam mengutuk dengan keras agresi Amerika yang terang-terangan,” kata Hamas.

“Agresi brutal ini merupakan eskalasi yang berbahaya, pengejaran buta terhadap agenda pendudukan Zionis yang nakal,” ujar kelompok tersebut.

“Kami menganggapnya sebagai contoh mencolok dari kebijakan memaksakan hegemoni melalui logika kekerasan, agresi yang berdasarkan hukum rimba,” imbuh Hamas dalam sebuah pernyataan.

“Kami menegaskan solidaritas kami dengan saudara-saudara kami di Republik Islam, baik pemimpin maupun rakyat, dan keyakinan penuh kami pada kemampuan Iran untuk mempertahankan kedaulatannya dan kepentingan rakyatnya, serta untuk menghadapi agresi ini.”

Israel Dukung AS

Namun ada negara yang mendukung serangan Amerika ke Iran. Negara tersebut adalah Israel yang tengah terlibat perang dengan Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji serangan AS.

“Keputusan berani Trump akan mengubah sejarah,” katanya. “Presiden Trump dan saya sering mengatakan: ‘Perdamaian melalui kekuatan’. Pertama datang kekuatan, kemudian datang perdamaian. Dan malam ini, Donald Trump dan Amerika Serikat bertindak dengan sangat kuat,” ujarnya.

Sementara itu, media Iran Tasnim melaporkan bahwa sebagian dari kompleks Fordow memang terkena serangan udara musuh. Media publik Israel, Kan, mengutip seorang pejabat Israel yang menyatakan bahwa serangan AS ini dilakukan dengan “koordinasi penuh” bersama pemerintah Israel.

Trump Ancam Iran

Trump juga mengatakan bahwa ia tidak akan ragu untuk menyerang target lain di Iran, jika perdamaian tidak segera terwujud di Timur Tengah.

Dari pihak Iran juga sudah memberikan respons terhadap serangan Amerika Serikat, yang mengartikan bahwa Amerika Serikat kini resmi bergabung dengan Israel untuk menyerang Iran.

Dengan kondisi yang semakin complicated ini, ditanggapi oleh Iran bahwa pihak Iran mengatakan akan mulai menyerang Amerika Serikat. Menteri Pertahanan Iran mengatakan, semua pangkalan Amerika Serikat yang berada dalam jangkauan Iran akan menjadi target berikutnya.

Saat Serangan Trump Telepon Netanyahu

Sumber Gedung Putih juga menyebut bahwa setelah serangan berlangsung, Trump langsung melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Israel dan Iran selama lebih dari seminggu terakhir, yang telah menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di kedua negara.

Tindakan hari Sabtu itu menempatkan Washington dalam konflik bersenjata langsung dengan Iran, sebuah eskalasi besar di saat Israel masih menyerang Negeri Persia untuk melumpuhkan program nuklir Teheran dan menggulingkan rezimnya.

Keputusan itu juga sekali lagi melibatkan militer Amerika dalam peperangan aktif di Timur Tengah, sesuatu yang Trump janjikan untuk dihindari selama masa jabatan keduanya.

Itu juga menandai perubahan besar dari kurang dari 48 jam yang lalu, ketika Trump mengatakan AS akan membutuhkan waktu “dua minggu” untuk melihat apakah konflik antara Israel dan Iran dapat diselesaikan secara diplomatis atau dengan konflik bersenjata.

“Berdasarkan fakta bahwa ada peluang besar negosiasi yang mungkin atau mungkin tidak terjadi dengan Iran dalam waktu dekat, saya akan membuat keputusan apakah akan melakukannya dalam dua minggu ke depan atau tidak,” kata Trump pada hari Kamis dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih.

Di balik layar, pemerintahan Trump telah berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran terkait program nuklirnya, dan dalam beberapa bulan terakhir Trump dilaporkan mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menunda serangan.

Trump dan presiden Amerika sebelumnya telah lama bersikeras bahwa Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir. Trump pada masa jabatan pertamanya menarik AS keluar dari perjanjian nuklir yang telah ditengahi oleh pemerintahan Obama dan negara-negara lain dengan Iran pada tahun 2015, dengan alasan perjanjian tersebut gagal melindungi Amerika atau menghalangi tujuan pengayaan Teheran.

Israel telah lama mengklaim bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Netanyahu bahkan mengancam akan terus menyerang program nuklir Iran hingga negara itu tidak memiliki teknologi nuklir.

“Setelah Trump mengirim pesawat pengebom Amerika untuk membantu Israel menghancurkan fasilitas pengayaan uranium di Iran, kemungkinan besar hal itu akan memulai fase yang lebih berbahaya dalam perang tersebut,” bunyi ulasan awak The New York Times. (berbagai sumber)

Leave a Reply