Ribuan Warga Bener Meriah, Aceh Tengah Nekat Jalan Kaki Puluhan Kilometer Demi Sembako dan BBM

Untuk bertahan hidup, ribuan warga terpaksa menempuh perjalanan darat yang sulit, melewati perbukitan terjal dan berlumpur selama berjam-jam, demi membeli sembako dan BBM di daerah tetangga seperti Aceh Utara atau Bireuen.

Ribuan warga dari Bener Meriah dan Aceh Tengah melakukan aksi nekatnya dengan berjalan kaki puluhan bahkan ada yang belasan kilometer, mereka petarung kehidupan tengah berjuang untuk memperoleh kebutuhan pangan maupun BBM dikarenakan akses jalan utama seperti jembatan terputus akibat diterjang banjir bandang bencana ekologis Sumatera

Jakarta, EDITOR.ID,- Menyedihkan! Ribuan warga dari Bener Meriah dan Aceh Tengah harus rela berjuang jalan kaki puluhan bahkan ada yang belasan kilometer. Mereka terpaksa nekat jalan kaki demi memperoleh kebutuhan pangan maupun BBM. Mereka harus jalan kaki karena akses jalan utama seperti jembatan terputus akibat diterjang banjir bandang bencana ekologis Sumatera

Warga termasuk anak-anak dan lansia termasuk petarung kehidupan tengah berjuang untuk memperoleh kebutuhan pangan maupun BBM. Mereka berani menantang alam, berjalan kaki menembus medan sulit untuk mencapai daerah tetangga seperti Bireuen atau Aceh Utara demi membeli kebutuhan pokok.

Mereka tidak punya pilihan lain selain melakukan perjalanan puluhan kilometer dengan berjalan kaki.

Meskipun jembatan dan ruas jalan utama rusak berat, 177 warga Bener Meriah dan Aceh Tengah nekat menjemput bantuan ataupun membeli kebutuhan pokok sembako dengan melakukan perjalanan ekstrim berpuluh hingga belasan kilometer.

Begitulah para petarung kehidupan untuk bertahan hidup, ribuan warga terpaksa menempuh perjalanan darat yang sulit, melewati perbukitan terjal dan berlumpur selama berjam-jam, demi membeli sembako dan BBM di daerah tetangga seperti Aceh Utara atau Bireuen.

Tulisan di belakang sebuah karung yang sedang di panggul seorang warga, bertuliskan, “Nggak jalan nggak makan” menjadi simbol perjuangan warga yang harus berusaha keras secara fisik demi memenuhi kebutuhan dasar mereka sehari-hari.

“Nggak Jalan Nggak Makan” adalah ekspresi nyata dari krisis pangan dan isolasi wilayah parah yang terjadi pascabencana banjir bandang dan longsor pada akhir November dan awal Desember 2025.

“Nggak jalan nggak makan” bisa dibilang juga simbol perjuangan, menjadi simbol visual yang kuat dari perjuangan fisik warga untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka di tengah keterbatasan akses dan infrastruktur yang belum pulih sepenuhnya.

“Nggak jalan nggak makan” bisa juga merupakan ungkapan keputusasaan akibat wilayah mereka terisolasi pascabencana banjir bandang dan longsor, sehingga memaksa mereka berjalan kaki puluhan kilometer demi mendapatkan kebutuhan pokok.

Akses jalan utama di perbatasan kedua kabupaten tersebut, khususnya jalur Bener Meriah–Lhokseumawe (jalur KKA), terputus total selama lebih dari dua minggu.

Kondisi ini menyebabkan distribusi logistik terhambat dan stok pangan di daerah mereka habis, memicu krisis pangan selama lebih dari dua minggu, menghentikan distribusi logistik dan membuat ribuan warga terancam kelaparan.

Situasi krisis tersebut membuat warga menjadi terisolasi secara total. Ada Sekitar 177 ribu warga di Bener Meriah dan Aceh Tengah terisolasi karena akses jalan nasional lumpuh total, dengan jembatan dan ruas jalan utama rusak berat.

Terhambatnya distribusi menyebabkan stok pangan dan Bahan Bakar Minyak (BBM) habis di daerah tersebut, memicu keputusasaan warga.

Perjalanan Ekstrem Demi bertahan hidup, warga terpaksa menempuh perjalanan darat yang sangat sulit, berjalan kaki puluhan kilometer melewati perbukitan terjal, aliran sungai, dan jalur berlumpur selama berjam-jam untuk mendapatkan sembako di daerah tetangga seperti Aceh Utara atau Bireuen.

Bantuan Pemerintah: Pemerintah pusat melalui kementerian dan lembaga terkait, termasuk BNPB dan Kementerian Sosial, menyalurkan bantuan logistik, makanan, dan BBM, meskipun distribusi ke daerah yang masih terisolasi mengalami kendala.

Upaya penanganan darurat terus dilakukan, termasuk pengerahan alat berat untuk perbaikan akses jalan dan pembangunan jembatan darurat (bailey), guna memulihkan konektivitas dan memastikan bantuan dapat menjangkau seluruh korban.

Warga berharap penuh agar pemerintah segera memulihkan akses jalan utama agar aktivitas normal dan distribusi bantuan dapat kembali berjalan lancar, sehingga mereka tidak perlu lagi mempertaruhkan keselamatan mereka untuk mencari makan.

Meskipun bantuan logistik dari pemerintah terus dikirim, namun distribusinya masih terkendala akses.

Lahan pertanian warga juga banyak yang rusak, menambah ancaman krisis pangan jangka panjang.

Pemerintah terus berupaya membuka akses jalan dan menyalurkan bantuan agar aktivitas warga dapat kembali normal.

Masyarakat diharapkan tetap waspada dan berkoordinasi dengan posko bencana setempat untuk mendapatkan informasi dan bantuan terkini.

Upaya penanganan pemerintah terhadap daerah yang terisolasi, Menko AHY dan BNPB, sedang mengupayakan percepatan pemulihan infrastruktur dan pengiriman bantuan logistik, termasuk BBM, melalui jalur udara dan darat alternatif. Namun, kondisi tanah yang labil dan minimnya alat berat (akibat kurangnya BBM) masih menjadi tantangan. (*)

Leave a Reply