Oleh : Nikmatul Mustaidah
Penulis Adalah Mahasiswa Semester 3 Universitas Airlangga.
Remy Silado adalah tokoh sastrawan legendaris yang dimiliki Indonesia. Pria kelahiran Makassar 22 Juli 1945 itu memulai karirnya sejak usia 18 tahun. Karya beliau sangat terkenal dan banyak digemari hingga saat ini.
Puisi beliau yang sangat fenomenal adalah puisi mbeling yang berarti sebuah perlawanan yang sudah ada. Berkat puisi itu juga karir Remy Sylado semakin meningkat.
Salah satu karya terbesar Remy adalah saat ia menjadi sutradara pementasan teater Sam Po Kong tiga tahun silam atau tepatnya 10 Juni 2017. Sebuah pementasan yang sarat akan pesan kebangsaan, keberagaman dan toleransi.
Remy Sylado sebagai sosok penting di balik pementasan teater Sam Po Kong, memang punya daya tarik tersendiri. Naskah cerita yang dibuat menjadi jembatan ilmu sejarah bagi para penonton.
Riset dan pengalaman segunung tidak membuatnya berhenti menyebar ilmu. Sejarah di tangannya tidak lagi menjadi tumpukan buku usang dengan bahasa njlimet hingga membuat pembacanya jadi mules. ’’Teater menjadi jawaban kala banyak orang malas membaca,’’ ucapnya suatu ketika.
Remy juga menekankan pentingnya nilai kebangsaan, toleransi, dan kebhinekaan. Sebab, Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda, tetapi tetap satu. ’’Indo atau Endo artinya blasteran. Jadi, orang Indonesia itu blasteran dari berbagai bangsa,’’ tuturnya.
Seluruh rakyat Indonesia harus menyadari bahwa mereka tidak lahir dari satu nenek moyang. Indonesia adalah bangsa plural. ’’Lantas, mengapa agama saja harus diseragamkan?’’ tambahnya.
Salah satu tokoh yang ikut andil membawa bangsa Indonesia menjadi plural adalah Cheng Ho. Karena itu, pementasan teater Cheng Ho tentu akan menjadi angin segar bagi penonton. Terutama ilmu untuk generasi muda pemegang tonggak perjuangan. Bisa juga sebagai pelarian bagi orang yang tidak gemar membaca buku sejarah.
Salah satu novel Remy berjudul Ca-bau-kan: Hanya Sebuah Dosa pernah dipentaskan. Sutradara pementasan kala itu Dina Ariyani adalah guru bahasa Indonesia. Dina mengambil cuplikan tokoh Tionghoa yang memiliki rasa nasionalis. Menurut dia, cuplikan itu adalah bagian yang paling menarik dan bisa dijadikan pembelajaran bagi siswa.
Menanggapi cerita tersebut, Remy mengaitkan dengan keadaan Jakarta saat ini. Dia mengambil contoh Gerakan Anti Cina. Menurut dia, gerakan tersebut terbentuk dari orang-orang yang tidak membaca sejarah.
’’Mereka tidak tahu kalau dulu ada dua tokoh Cina di Lasem yang ikut melawan Belanda. Justru dua orang Cina itu dikhianati Raja Kartasura. Raja membocorkan misi perlawanan ke Belanda,’’ paparnya. Dari peristiwa itu, jelas diterangkan bahwa Indonesia memang terdiri atas banyak golongan. Tidak semestinya perbedaan dianggap salah dan dipaksa menjadi sama.












