Novel dan puisi Remy selalu memiliki makna sesuai kehidupan yang sedang kita jalani sekarang. Novel – novel Remy mengajarkan makna kemanusiaan yang sebenarnya. Kemanusiaan bukan yang membeda bedakan suku, keturunan,dan ras, bukan pula yang membedakan laki-laki, perempuan, bukan membedakan gender seksualitas seseorang melainkan apakah ia memang manusia dan masih manusia.

Dari sini kita belajar banyak hal yang bisa kita lihat sesuai keadaan sekarang. Sekarang ini banyak sekali seseorang membeda-bedakan antara laki- laki dan perempuan, dan terkadang terjadi konflik antar ras.
Dan yang paling sering kita lihat sekarang adalah gender seksualitas seseorang, bisa kita ketahui di semua media sosial banyak sekali orang-orang yang mempermasalahkan masalah itu.
Jika kita membaca ulang makna kemanusiaan menurut Remy, itu merupakan hak seseorang kita hanya bisa menghargai saja, kita bisa mengingatkannya tetapi gunakan cara manusia yang baik.
Seseorang menjadi jahat bukan karena keturunannya, bukan karena ras, bukan karena gender, dan bukan karena gender seksualitas mereka. Kesadaran itu menghapus prasangka kita bahwa ada suatu negra atau jenis kelamin tertentu yang diciptakan tuhan untuk menjadi jahat.
Remy seringkali mendapatkan penghargaan dari semua karyanya, beliau telah menulis 50 novel dengan 20 novel bertema novel anak-anak dan 30 novel bertema keluarga.
Semua karya beliau memberi amanat yang sangat berharga, Beliau sering menulis cerita tentang masyarakat pribumi dan sering berhubungan dengan Tionghoa.
Remy juga membuat film yang diadaptasi dari novelnya. Dari sini kita bisa belajar cara beradaptasi dengan lingkungan kita yang beragam, saling toleransi dan menghargai sesama manusia saling memanusiakan manusia.
Kita hidup di suatu Negara atau wilayah juga perlu pertolongan maka dari itu kita harus saling menghargai dan bertoleransi.
Mengutip dari Wikipedia, Remy Silado yang punya nama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong besar di lingkungan keluarga Tambayong di Malino, Ujung Pandang (kini Makassar). Masa kecil dan remaja dihabiskan di Semarang dan Solo.
Sejak kecil hobi bertanya tentang banyak hal terkait dengan urusan agama. Latar belakang agamanya yang kuat membuat orang tua Yapi mengirimnya untuk bersekolah ke seminari.
Ia memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung.
Remy menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi.












