Pertanyaan Reflektif Peringatan Gestok Guna Menatap Masa Depan Indonesia Yang Lebih Baik

presiden soekarno lagi becanda sama mayjen soeharto

EDITOR.ID, Pertama-tama, mari kita merenungkan dalam batas pikiran, perasaan, dan imajinasi tentang apa yang sesungguhnya telah terjadi di Tanah Suci (Terra Sancta) Indonesia, menjelang peristiwa GESTOK (Gerakan 1 Oktober)

Kita awali dengan mengkaji lebih lanjut dan mendalami essensi formula Bung Karno tentang abad-20 sebagai “Abad Intervensi”, yang selanjutnya dinamai “Abad Intelligence”.

Sebagaimana dinyatakan dalam doktrin Foster Dulles dalam paradigma perang dingin, yang dengan gampang menarik garis kawan dan lawan; yang tidak memihak kepadanya semua adalah musuh! ..Titik. Itulah realitas objektif permainan kartu-kartu domino.

Mungkin kita juga masih ingat bagaimana dua pemimpin visioner: John F. Kennedy dengan wawasan “The New Frontier” dan Sukarno dengan “The New Emerging Forces”, akhirnya tersungkur dan tersingkir….

Inilah realitas globalisme intelligence….

Globalisme intelligence sebagai sebuah keniscayaan berhadap-hadapan dengan globalisme solidaritas “the new emerging force” mondial telah menunjukkan watak aslinya yang bersifat destruktif bagi nilai-nilai kebangsaan dan peri kemanusiaan, peradaban bangsa, dan perdamaian dunia.

Cerita baru dimulai…

Susser, dalam “the historian bureau of public affairs” membagi era 1964 – 1968 dalam empat bagian: 1)konfrontasi Sukarno dgn Malaysia (Januari-November 1964),
2)konfrontasi Sukarno dgn Amerika Serikat (Desember 1964 – September 1965),
3)kudeta dan kontra reaksi (Oktober 1965 – Maret 1966), dan
4) Amerika dan Suharto (April 1966 – Desember 1968).

Bagian yang tampaknya lebih relevan dengan peringatan Gestok adalah bagian kedua. Sekalipun ketiga bagian lainnya memiliki mata rantai yang kuat dengan bagian kedua ini.

Sebagai contoh adanya upaya AS untuk membangun jalur dengan Angkatan Darat (AD) Indonesia, dimana AD lewat Nasution terlihat sangat Pro AS dan anti-PKI (19 Maret 1964).

Konfrontasi Indonesia-Malaysia sesungguhnya dapat diselesaikan dengan cepat bila tidak ada intervensi AS dan Inggris. Penegasan Sukarno, biarlah Asia menyelesaikan masalahnya sendiri.

Hal menarik untuk dicatat adalah terkait dokumen langkah politik, 19 November 1964 yang dikeluarkan oleh Washington. Penyingkapan PKI, bahwa bagi Komunis, Pancasila hanyalah cara bijaksana yang untuk sementara bisa dianggap sebagai sebuah ideologi. Ketaatan terhadap Pancasila merupakan “common denominator” yang dibutuhkan.

Sungguhkah kemunculan “Sukarnoisme” sebagai sebuah gerakan sekitar September-November 1964 merupakan upaya membaktikan diri membela Pancasila, hasil galian Sukarno yang hampir diperlakukan secara mistik atau bertujuan utama untuk menghancurkan pengaruh PKI di dalam pemerintahan dan seluruh negeri.., bahkan ada upaya untuk mengambil alih NASAKOM???

Tampaknya Sukarno berkeinginan kuat mencari elemen Sukarno yang efektif dari Gerakan Sukarnoisme ini untuk dapat digunakan dalam permainannya menyeimbangkan politik dan penyelesaian secara damai isu Malaysia.

Catur yang dimainkan Sukarno diantara Gerakan Sukarnoisme dan kelompok PKI Subandrio tidak menyurutkan prinsip Sukarno menghadapi kepentingan Inggris dan AS yang relatif sama di Asia Tenggara umumnya dan Malaysia khususnya.

Semakin terlihat bahwa Sukarno telah menciptakan “atmosfir psikologis” yang tepat dalam mencari solusi adaptif.

letkol untung diadili di mahmilub sumber foto arsip nasional
letkol untung diadili di mahmilub sumber foto arsip nasional

Sukarno merupakan sosok pribadi yang memiliki prinsip. Sekalipun Sukarno memiliki hubungan yang kuat secara pribadi dengan Presiden J.F. Kennedy, namun tidak mengubah dasar kebijakan Sukarno dalam hubungan dengan AS.

Sukarno adalah Sukarno, Indonesia pada zamannya.Tampaknya, AS semakin menyadari bahwa sebuah ketidakpastian kemungkinan Indonesia tanpa Sukarno. Memorandum khusus dipersiapkan oleh Direktur Office of National Estimate, CIA (26 Januari 1965).

Pemikiran egosentrik dan eksploitatif AS dan prinsip mau menang sendiri terungkap demikian: “jika diktator yang sakit ini meninggal dalam waktu dekat, maka warisannya untuk Indonesia adalah tercabutnya perlindungan hukum internasional, bahkan ada kerusuhan ekonomi, dan melemahnya perlawanan terhadap dominasi Komunis; namun, jika Sukarno hidup beberapa saat lagi, kesempatan PKI untuk nengambil kekuasaan kemungkinan akan terus berkembang”

Ungkapan yang mencengangkan dan sarkastis dari AS ini tentunya membuat mual patriotik-patriotik dan nasionalis-nasionalis sejati di negeri ini..,

Apalagi ditambah dengan pernyataan berikut: “Perebutan pergantian Sukarno telah dimulai; Sukarno harus meninggalkan layar pertunjukan dalam waktu dekat, saya yakin bahwa perjuangan awal untuk menggantikan dia akan dimenangkan oleh Angkatan Darat dan elemen non-Komunis, walaupun Komunis akan terus memainkan peranan penting”.

Mari kita refleksikan apakah pernyataan di atas dapat dibenarkan dan memiliki ruang di sebuah negara yang merdeka dengan pengorbanan, darah dan air mata.

Apalagi bila kita membaca kalimat berikut: “Pemerintahan semacam itu mungkin akan terus bersifat anti-AS, Xenophobia, dan mengancam perdamaian”.

Bagi bangsa beradab seperti Indonesia, tentunya semakin jelas bahwa ini merupakan indikator awal yang kuat konspirasi kebiadaban tengah berlangsung.

Kelihaian nekolim AS dan konspirasinya semakin tampak. Arus informasi yang begitu deras dan kencang menyudutkan Sukarno dengan menyebut bahwa Sukarmo akan melanjutkan kebijakan konfrontasi dan infiltrasinya, bahkan kekerasan militer terhadap Malaysia, perang melawan Inggris dan Persemakmuran, pemerasan diplomatik, serta bermain-main dengan Peking.

Lebih serius lagi, mari kita sikapi dengan kritis ungkapan berupa penegasan dari Sherman Kent yang mengatasnamakan Board of National Estimates: “Jika hal di atas tetap berlangsung, pandangan ini menyesatkan dan mahal, reaksi kekecewaan dari kekuatan Inggris/AS, tipu muslihat Komunis Cina, dan perlawanan dalam negeri”.

Perseteruan Soekarno dan AS tampak semakin memuncak, namun dalam politik kepentingan yang saling berseberangan terlihat logis dan lumrah…

Namun, apakah dapat dibenarkan ungkapan yang merendahkan Sukarno, Sang Proklamator, Penggali Pancasila dengan menyebut bahwa “Sukarno adalah psikopat; Sukarno tampaknya menikmati perasaan-perasaan orang-orang yang menginginkan kematiannya dan kelihatan menggunakannya untuk dirinya sendiri dan semua tindakan-tindakan anti Amerika yang lain.

Memorandum dari Wakil Menlu untuk Presiden Johnson di Washington, 18 Maret 1965 menguatkan persepsi ke arah yang semakin jelas.

Demikian satu bagian isinya: “Hubungan AS dengan Indonesia sedang terpuruk; Sukarno semakin lama semakin berpaling kepada Komunis PKI; Angkatan Darat, yang secara tradisional merupakan kekuatan penahannya, memiliki masalah kohesinya sendiri.

Berdasarkan Laporan dari Dubes Ellsworth Bunker di Washington untuk Presiden Johnson, diketahui bahwa baik AS maupun Sukarno punya alasan kuat dan mendasar atas hubungan Indonesia dan AS yang semakin memburuk.

Alasan bagi Sukarno, diantaranya:
1)pengakuan AS dan dukungan Malaysia lewat ‘komunike’ Johnson-Tunku Abdul Rahman dan bantuan senjata merupakan “suatu tamparan di wajah”,
2)intervensi AS di Vietnam Selatan dan sejumlah basis di belahan dunia sbg bentuk dan manifestasi Nekolim,
3)keyakinan Sukarno dapat menundukkan PKI dgn penekanan pada ide NASAKOM.

syam kamaruzaman diadili dalam gerakan 30 september entah apakah dia tahu adanya gerakan itu foto arsip
syam kamaruzaman diadili dalam gerakan 30 september entah apakah dia tahu adanya gerakan itu foto arsip

Bagi AS, ada sejumlah alasan utama, diantaranya:
1)ambisi Sukarno utk mempererat bangsa2 Asia-Afrika di dalam perjuangan NEFOS (New Emerging Forces) melawan OLDEFOS (Old Established Forces),
2)Pengaruh PKI, yang berpaling ke Peking untuk inspirasi dan tujuan yang diakui mengusir AS dari Indonesia,
3)Tujuan Indonesia yang diakui AS : “Berdiri di kaki sendiri” di dalam membangun ekonomi, bebas dari pengaruh, terutama Barat.

Pertanyaan reflektif utk kita semua, Bangsa Indonesia: “Bagaimana sikap kita atas 2 (dua) alasan yang berbeda di atas?

Apa yang salah dengan Prinsip dan Pemikiran Sukarno?

Masihkah kita berpihak pada AS dan upaya konspiratif dan pengkhianatan yang dilakukan oleh para kompredor kapitalis, neolib, dan nekolim untuk menumbangkan Pemerintahan yang Sah di bawah Kepemimpinan Sukarno?

Jawaban atas pertanyaan reflektif di atas akan menentukan arah dan masa depan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat…

Dalam situasi yang semakin memuncak, Kedubes AS di Indonesia memberikan pertimbangan ke State Department: ….”bahwa akan menjadi tidak bijaksana bagi AS untuk mendeklarasikan bahwa Indonesia adalah Komunis atau mulai memperlakukan Indonesia sebagai sebuah negara Komunis”.

Namun, tampaknya pertimbangan tersebut tidak digubris oleh Washington. Bahkan berulang dengan tegas menyatakan bahwa: …”Makin lama Sukarno hidup, makin lebih banyak peluang PKI untuk memelihara atau meningkatkan posisinya menyusul kematiannya”.

Sementara, Sukarno terus menerus mengumandangkan dan melecehkan semua kehadiran barat di Asia Tenggara, dan bahkan di dalam dunia Asia-Afrika.

Dengan melihat semakin memburuknya hubungan AS dengan Indonesia, Dubes Green pada 3 Agustus 1965 melaporkan dari Jakarta bahwa AS akan bersiap-siap memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia.

Dalam kondisi yang demikian, Sukarno terus menekan dengan kecepatan penuh untuk membentuk sebuah tandingan PBB yang dikenal dengan CONEFO (Conference of Newly Emerging Forces).

Pertanyaan reflektif buat kita semua, atas dasar apa AS demikian seriusnya melakukan intervensi atas eksistensi Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara merdeka?

Pidato Sukarno, 17 Agustus 1965 mempunyai arti bahwa Pemerintah AS terus berada dalam kesulitan di dalam mencoba melakukan bisnis-bisnis normal di Indonesia.

Kita sungguh percaya bahwa Sukarno kembali memberikan sinyal yang jelas bahwa akan tetap menentang AS jika tidak mengubah kebijakan-kebijakan terhadap Malaysia, Vietnam, dan dimana saja sesuai keinginannya.

AS tampaknya mengakui bahwa Sukarno merupakan Pemimpin Indonesia tanpa tandingan dan akan hampir tetap terus sampai kematian atau kelemahan menggesernya.

Lebih jauh AS menganggap Sukarno mengembangkan sebuah pemerintahan otoriter di Indonesia dari tipe “front nasional” dimana PKI memiliki pengaruh yang kuat, meskipun masih di bawah dominasinya.

Bagi AS, Indonesianya Sukarno telah bertindak di dalam hal-hal yang penting seperti sebuah negara komunis dan lebih terbuka memusuhi AS daripada umumnya negara-negara komunis

Pertanyaan reflektif dan evaluatif buat kita semua, mengapa Sukarno demikian seriusnya melakukan perlawanan terhadap setiap upaya intervensi dan eksploitasi AS atas bangsa dan negara Indonesia merdeka dengan Pancasila sebagai Philosophische Grondslag/ Weltanschauung?

Berdasarkan sumber “National Archieves and Records Administration”, RG 59, pada 1 September 1965, Sukarno menanyakan hal serius kepada pihak Kedubes AS, apakah AS memahami Nasionalisme di Asia dan sentimen-sentimen rakyat Asia?

Jawaban AS lewat Dubesnya memastikan bahwa beliau memahami, dan mengungkapkan bahwa “nasionalisme merupakan suatu kekuatan yang harus dihormati di dalam mengembangkan kesadaran dan persatuan nasional serta mendukung sepenuhnya kesatuan teritorial dan menerima kemajuan-kemajuan dan kemandirian ekonominya”.

Terlihat percakapan antara Sukarno dan Green yang dibumbui banyak cerita dan sentuhan-sentuhan ringan membangun harapan hubungan yang akan menjadi lebih baik. Apakah sungguh demikian?? Tampaknya antara hal-hal yang informalitas dan formalitas terlihat ada gap.

Percakapan Menlu AS dengan Dubes Palar pada 10 September 1965, mengajukan memorandum: “Bila Pemerintah Indonesia benar-benar menginginkan berlanjutnya hubungan diplomatik, maka seharusnya dapat memenuhi proteksi yang memadai bagi personil dan instalasi-instalasi AS di Indonesia”.

Dengan kata lain, AS menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia tidak memberikan perlindungan ini. Betulkah demikian?

Sesungguhnya, Sukarno mengijinkan demonstrasi-demonstrasi untuk merespon keinginan-keinginan rakyat. Salah satu kekuatan Sukarno bahwa beliau tidak pernah berjalan di luar apa yang diinginkan oleh rakyat Indonesia.

Dalam keadaan yang kurang bahkan tidak kondusif seperti ini, AS berulang menekankan pentingnya membangun hubungan diplomatik yang baik antara AS dan Indonesia, demikian sebaliknya. Untuk itu, AS menegaskan seharusnya Pemerintah Indonesia dapat memperbaiki situasi yang telah berkembang dan yang tampak telah menjadi berbahaya…

Pertanyaan reflektif dan evaluatif buat kita semua,apakah menjadi lebih baik bila Sukarno memutuskan hubungan diplomatik antara Indonesia dgn AS? Atau AS harus mengurangi bahkan tdk melakukan intervensi atas Pemerintah Indonesia?. Atau pihak lain (pihak ketiga) di luar Indonesia dan AS tidak mengambil keuntungan dari konflik laten dan manifes ini?

Sebuah kelompok yang menyebut dirinya “Gerakan 30 September” atau GESTOK (penyebutan Sukarno) menyatakan telah menggagalkan sebuah “kudeta para Jenderal” di Indonesia. Benarkah demikian?

Memorandum untuk Presiden Johnson mencatat bahwa Gerakan 30 September telah direncanakan oleh Dewan Revolusi dipimpin oleh Untung yang memiliki “latar belakang polisi militer dan dilatih di AS”.

Dewan Revolusi jelas mengabaikan Sukarno, “mengandaikan Sukarno sudah meninggal atau benar-benar berhalangan tetap”.

Kelompok 30 September menyatakan bahwa komplotan jenderal-jenderal tersebut diduga diilhami oleh AS. Tujuan jangka pendek Gerakan 30 September jelas adalah penyingkiran segala peranan politik dari elemen-elemen AD anti-komunis dan sebuah perubahan di dalam kepemimpinan AD.

Nampaknya mungkin bahwa Sukarno sudah tahu sebelumnya gerakan tersebut dan tujuannya.

Pertanyaan reflektif dan evaluatif buat kita semua, apa makna pernyataan Sukarno berikut bagi bangsa Indonesia menanggapi Gestok?
1)Keblingernya para pimpinan PKI,
2)Subverrsi Nekolim, dan
3)Oknum yang tidak bertanggungjawab.

Berdasarkan memorandum Blouin untuk McNaughton (sumber: Washington National Record Center, RG 330) diuraikan bahwa Situasi di Indonesia pasca Gestok (istilah yang digunakan Sukarno) penuh gejolak, dan Presiden Sukarno kelihatannya sedang membuat usaha besar untuk menjaga persatuan nasional berhadapan dengan antagonisme yang berkembang antara AD dan kelompok-kelompok yang mendukung Gerakan 30 September.

Dalam memorandum ini juga disebutkan bahwa Jenderal Suharto, yang memiliki kontrol kuat situasi atas militer di dan sekitar Jakarta, dalam pidatonya melalui radio mengumumkan tentang peranan AU dalam terus membuat langkah besar membangun dukungan publik bagi AD.

National Archives and Records Administration, RG 59 mengungkapkan bahwa Kedubes AS melaporkan tentang implikasi-implikasi dari kudeta 30 September yang tidak sukses, mengesankan bahwa AD memiliki sebuah kemungkinan untuk bergerak melawan PKI.

Kedubes menyatakan “sekarang atau tidak sama sekali” dan memperkirakan bahwa “perjuangan susah payah membersihkan Indonesia dari efek Sukarno dan NASAKOM sudah mulai,” namun akan jadi salah “mengasumsikan proses akan selesai dengam mudah atau cepat”.

Pertanyaan reflektif dan evaluatif buat kita semua, siapa sesungguhnya yang berada di balik peristiwa Gestok ini? AS, AD, Komintern Uni Sovyet atau siapa lagi?

Apakah peristiwa ini terjadi karena kepentingan utama AS untuk meluluhlantakkan Sukarno dan NASAKOM? Dengan demikian AS bisa intervensi dan menguasai Indonesia.

Lebih tragis lagi, terjadinya perang saudara, baik laten maupun manifes dalam peristiwa Gestok ini, apakah tidak bertentangan dengan cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa (kebangsaan Indonesia) yang telah diperjuangkan oleh SUKARNO. Lalu, mengapa ada pemutarbalikkan fakta sejarah?

Peristiwa Gestok telah menempatkan PKI dan elemen-elemen pro-Komunis pada posisi defensif.
Informasi dari Kedubes AS di Indonesia tampaknya merasa begitu yakin bahwa akan terjadi kemungkinan pergantian kekuasaan dari tangan Sukarno ke seorang tokoh yang diharapkan dapat membawa perubahan dalam bentuk kebijakan nasional.

Pernyataan Kedubes AS berikut semakin memastikan kemungkinan adanya keterlibatan AS dalam peristiwa Gestok, “masalah kuncinya adalah bila AS dpt membantu membentuk perkembangan menjadi keuntungan.

Sejumlah strategi lain dimainkan AS utk memenangkan situasi konflik laten dan manifes seputar Gestok, diantaranya:
a)menghindari keterlibatan terang-terangan dalam perjuangan untuk kekuasaan, secara terselubung menunjukkan dengan jelas untuk membantu orang-orang kunci di dalam AD seperti Nasution dan Soeharto,
b)menjaga dan jika mungkin memperluas kontak dengan militer,
c) menghindari gerakan-gerakan yang mungkin dapat menciptakan ketidakpercayaan kepada AS,
d)menyebarluaskan cerita pengkhianatan dan kebrutalan PKI dengan menggunakan tangan AD dan tanpa dapat teridentifikasi bahwa hal tersebut merupakan upaya AS,
e)penegasan bahwa Moskow dan Peking berada di dalam konflik dasar mengenai Indonesia, dan menyebut bahwa Uni Sovyet mungkin merasa dirinya lebih sejalan dgn AS.

Dalam kondisi politik dalam negeri yang sedemikian buruk, tampaknya Sukarno masih berupaya memantapkan kembali status quo dengan membangkitkan bahaya imperialis yang mengeksploitasi perbedaan-perbedaan Indonesia dan meredam kebencian AD terhadap PKI demi menjaga persatuan nasional.

Pertanyaan reflektif dan kritis dari kita semua yang masih punya kesadaran yang kuat akan pentingnya Kebangsaan Indonesia, mengapa Nekolim berupaya keras untuk mengeksploitasi situasi feliks yang sedang dihadapi bangsa Indonesia?

Bahkan, apa maksud memberikan dukungan pada orang-orang kunci AD untuk dapat menguasai situasi? Dan mengapa Sukarno tidak melakukan perlawanan, apalagi bila dikaitkan dengan pembangkangan yang dilakukan oleh prajurit terhadap diri Sukarno sebagai Panglima Tertinggi ABRI?

Apa yang ada dalam pemikiran dan intuisi spiritual Sukarno bila beliau mengatakan satu kata LAWAN terhadap pihak-pihak yang berseberangan dengann kebijakan dan kebijaksanaannya?

PERINGATAN GESTOK

Peringatan Gestok menjadi momentum yang baik dan bijaksana bagi seluruh masyarakat bangsa untuk meluruskan fakta sejarah bahwa telah terjadi pengkhianatan atas cita-cita revolusi Indonesia: “membangun Sosialisme Indonesia tanpa penindasan manusia atas manusia, tanpa penindasan bangsa atas bangsa”.

Sesungguhnya, Sukarno “mungkin tahu betul” siapa-siapa para pelaku pengkhianatan dalam peristiwa Gestok ini.

Tapi, sikap kenegarawanan Sukarno dalam penyelesaian Peristiwa Gestok adalah tidak mengijinkan para pihak-pihak bersiteru untuk saling melawan karena dapat merusak perjuangan dan melemahkan potensi bangsa.

Jenderal Sabur, Sekjen KOTI mengutip apa yang dikatakan oleh Sukarno. “Sukarno memperingatkan para militer jangan masuk perangkap dan taktik (mungkin imperalis atau neokolonialis) menimbang aktivitas-aktivitas untuk melemahkan bangsa”.

Pada akhirnya, semakin bijaksanalah kita semua, bangsa Indonesia bila mau merefleksikan makna terdalam dari Peristiwa Gestok lewat pesan yang pernah disampaikan Bung Karno: “Tetaplah bersatu padu membangun negeri ini tanpa pertumpahan darah…

Hai Anakku….Simpan segala yang kau tahu. Jangan ceritakan berita dan sakitku kepada rakyat…Biarkan aku menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu? Ini aku lakukan demi persatuan-kesatuan dan keutuhan bangsa. Jadikan deritaku ini sebagai saksi bahwa kekuasaan presiden sekalipun ada batasnya, karena kekuasaan dan kekuatan langsung ada di tangan rakyat…Dan di atas segala-galanya adalah kuasa Tuhan Yang Maha Esa. MERDEKA!!!

Namun, perlu kita sadari bersama, sebaliknya apa yang terjadi ketika Pasca Gestok, Sukarno mengeluarkan instruksi hanya dengan satu kata, LAWAN demi mempertahankan kekuasaannya, maka pasti akan terjadi PERTUMPAHAN DARAH DAN PERANG SAUDARA…

Dan inilah yang dinanti-nantikan oleh Nekolim. Indonesia terpecah belah, sehingga mudah dan dapat dikuasai.

Itulah bukti bahwa seorang Sukarno sungguh layak dan pantas dijuluki Negarawan dan Bapak Bangsa. ….dengan mengamini pesan Sukarno… berakhir sudahlah peziarahan batin kita untuk sementara waktu memperingati Gerakan Satu Oktober.

Namun demikian, sebelum saya mengakhiri refleksi ini, izinkan saya menyampaikan semua hal ini untuk Bapak Bangsa yang masih hidup dalam jiwa kita semua, dan menyampaikan kepada Ir. Joko Widodo, Presiden RI sebagai Kepala Negara, pewaris Ajaran dan Pemikiran Sukarno, bahwa demi rekonsiliasi nasional dan bukan didasarkan atas rasa dendam.

Kita merindukan perlu diterbitkannya kembali UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang sebelumnya sudah pernah terbit dengan UU No.27 Tahun 2004 yang selanjutnya telah dibatalkan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi No.006/PUU-IV/2006.

UU KKR sangat perlu dipertimbangkan penerbitannya untuk mengungkap pelanggaran HAM berat di masa lalu. Dengan demikian, tidak akan ada lagi penyelewengan sejarah, pengkhianat-pengkhianat bangsa, perseteruan politik, sikap saling mencurigai sebagai sesama anak bangsa, dan upaya-upaya asing untuk memecahbelah persatuan-kesatuan bangsa dan negara INDONESIA.

SALAM PANCASILA?Merdeka!!!
Dr. Antonius Dieben Robinson Manurung, M.Si.
Ketua Umum DPP Gerakan Pembumian Pancasila

Disampaikan saat menjadi Keynote Speaker Peringatan GESTOK 1 Oktober 2021

Leave a Reply