Di akhir suratnya, KH. Wawan menyampaikan bahwa pemimpin sejati adalah yang menjaga harmoni umat, bukan yang menciptakan kegaduhan dari simbol semata.
“Kami hanya ingin pemerintah lebih adil dalam bersikap dan tidak memancing luka lama dengan langkah yang tidak sensitif,” pungkasnya.
Selama ini antara Kang Dedi Mulyadi selalu berseberangan dengan misi tokoh-tokoh FPI Jawa Barat. Karakter dan gaya kepemimpinan Kang Dedi Muyadi yang terus menjaga kelestarian budaya Sunda, sangat berseberangan dengan mereka yang ingin Jawa Barat menanamkan nuansa-nuansa Islam dan ajaran Syariat Islam di Jawa Barat dalam kehidupan masyarakat secara kaffah sesuai asalnya. Sehingga terjadi perbedaan pendapat dalam hal menjalankan amalan dan ibadah religi sesuai keyakinan masing-masing. (tim)












