Pelajar SD NTT Akhiri Hidupnya Karena Orang Tua Tak Mampu Belikan Buku Rp 10.000 Tulis Surat Memilukan ke Sang Bunda

Tragedi ini terjadi karena korban merasa tak dapat dipenuhi oleh ibunya, MGT (47) seorang janda yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak, karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.

Pelajar SD NTT Akhiri Hidupnya Karena Orang Tua Tak Mampu Belikan Buku Rp 10.000, Tulis Surat ke Sang Bunda Memilukan

Ngada, NTT, EDITOR.ID – Sebuah tragedi memilukan menimpa seorang pelajar Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban diduga mengakhiri hidupnya karena putus asa tidak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000. Sebelum mengakhiri hidupnya pelajar SD tersebut sempat menulis surat untuk ibunya.

Tragedi ini terjadi karena korban merasa tak dapat dipenuhi oleh ibunya, MGT (47) seorang janda yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak, karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.

Sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli alat tulis (buku dan pena), namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena ibunya tidak memiliki uang.

Peristiwa ini mengundang duka mendalam, terlebih setelah ditemukan sepucuk surat yang ditujukan kepada ibunya. Korban sempat menyampaikan permintaan sederhana untuk dibelikan buku dan pena, tapi orang tuanya menolak permintaan itu karena alasan ekonomi.

Ditulis dalam bahasa daerah (Bahasa Bajawa/Ngada), surat tersebut berisi ungkapan pamit kepada ibunya agar tidak mencari atau merindukannya lagi, serta permintaan maaf.

Di akhir surat, korban menyertakan gambar dirinya sedang menangis.

Korban ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh dekat kediamannya pada awal Februari 2026.

“Kertas ti mama Reti mama Jalo zeR mama molo Jao galo mata mae waerita le mama Mama jao Galomaka mes woe rita nece gaengao el Molo mama 10000”

Begitulah isi surat yang ditulis oleh YBS (10), seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditemukan meninggal dunia.

Surat tulisan tangan tersebut menjadi saksi bisu kisah sendu mengenai beban hidup yang dirasakan anak tersebut.

YBS ditemukan meninggal gantung diri pada Kamis (29/1/2026) setelah kecewa permintaannya tidak bisa dipenuhi.

YBS diketahui meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya sebelum mengakhiri hidup.

Kertas ti mama Reti / mama Jalo zeR / mama molo Jao: Ini adalah ungkapan perpisahan dan pesan yang ditujukan kepada ibunya (Mama).

Galo mata mae: Kemungkinan berarti “mata melihat” atau “mama lihat” (dalam dialek setempat).

Waerita le mama: Kemungkinan berarti “cerita ke mama”.

10000: Konteks surat ini berkaitan dengan keinginan anak tersebut untuk membeli buku tulis dan pena seharga Rp 10.000 namun tidak mampu, yang diduga menjadi salah satu faktor beban pikiran YBS.

Di lingkungan sekolah dan sekitarnya, korban dikenal sebagai anak yang pintar, sopan, dan berperilaku baik. Ia juga disebut rajin belajar dan tidak pernah bermasalah dengan teman maupun guru.

Kasus ini memicu keprihatinan nasional dan menjadi perhatian serius pemerintah serta DPR.

Kejadian ini disorot sebagai “tamparan bagi negara” mengingat pendidikan dan alat tulis adalah hak dasar anak.

Kasus ini memunculkan perhatian luas terhadap kondisi sosial dan ekonomi keluarga, serta tantangan yang dihadapi anak-anak di daerah dengan keterbatasan akses dan dukungan.

Pihak berwenang masih melakukan pendalaman untuk mengetahui latar belakang peristiwa tersebut, sementara berbagai pihak menekankan pentingnya perlindungan, pendampingan, dan perhatian lebih terhadap kesehatan mental anak serta pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan.

Menteri Sosial dan pejabat terkait telah menyampaikan duka mendalam dan menyoroti perlunya evaluasi terhadap penyaluran bantuan pendidikan agar kasus serupa tidak terulang.

Kasus ini telah menyita perhatian publik dan pihak kepolisian di NTT masih melakukan penanganan lebih lanjut. (*)

Leave a Reply