Mengungkap Paspor Palsu Atas Nama Marius Fortelni Memakai Foto Jeffrey Epstein

Temuan ini termasuk Epstein Fails yang rilis ke publik, lima hari setelah tenggat waktu yang diberikan kepada Departemen Kehakiman untuk merilis semua dokumen yang tidak diklasifikasikan ke publik, akhirnya mengungkap skandal jaringan seks Epstein. Paspor palsu ini ditemukan dalam brankas di rumah mewah Epstein di Manhattan saat penggeledahan FBI tahun 2019, bersamanya juga ditemukan uang tunai senilai $70.000 dan 48 butir berlian.

New York, EDITOR.ID – Dari jutaan berkas dokumen yang dirilis oleh Departemen Kehakiman AS (DOJ), Jeffrey Epstein memang memiliki paspor Austria palsu atas nama Marius Robert Fortelni.

Temuan ini termasuk Epstein Fails yang rilis ke publik, lima hari setelah tenggat waktu yang diberikan kepada Departemen Kehakiman untuk merilis semua dokumen yang tidak diklasifikasikan ke publik, akhirnya mengungkap skandal jaringan seks Epstein.

Paspor palsu ini ditemukan dalam brankas di rumah mewah Epstein di Manhattan saat penggeledahan FBI tahun 2019, bersamanya juga ditemukan uang tunai senilai $70.000 dan 48 butir berlian

Lebih detail lagi, sampul paspor bergambar paspor Austria yang sudah kadaluarsa menampilkan foto Jeffrey Epstein masih muda, tetapi atas nama Marius Fortelni, diterbitkan pada 21 Mei 1982 oleh Direktorat Polisi Federal Wina dan mencantumkan pekerjaan sebagai “Manager” tempat lahir di Wina, Austria, dan tempat tinggal di Dammam, Arab Saudi.

Stempel pada paspor menunjukkan bahwa dokumen tersebut digunakan untuk masuk ke beberapa lokasi antara tahun 1982 hingga 1983, termasuk London (Inggris), Prancis (Paris dan Nice), Malaga (Spanyol), dan Arab Saudi.

Penyelidik FBI menemukan bahwa Marius Fortelni yang asli yang identitasnya digunakan oleh Jeffrey Epstein.

Mengulik biografinya di about.me. Pria itu dilaporkan sebagai warga negara Austria yang membangun bisnis real estat yang sukses di Afrika Barat dan Arab Saudi.

Marius Fortelni memiliki usia yang hampir sama dengan Epstein (tahun lahir pada paspor adalah 1954, selisih satu tahun dari tahun lahir asli Epstein).

Fortelni pindah ke New York pada tahun 1980-an, dan mendirikan agen real estatnya sendiri pada tahun 2000. Alamat terakhirnya yang diketahui berada di Palm Beach, Florida, tempat ia pindah pada tahun 2016.

Menurut email yang disertakan dalam rilis hari Selasa, Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Selatan New York mengetahui tentang paspor palsu tersebut pada tahun 2020.

FBI mengungkapkan bahwa para agen berupaya menghubungi Fortelni untuk menanyakan apakah ia mengetahui mengapa paspor dari negara asalnya, dengan namanya dan alamat tempat tinggal lamanya, bisa memiliki foto Jeffrey Epstein dan disimpan di brankas pribadi Epstein.

Hingga rilis dokumen terbaru, upaya media untuk menghubungi Fortelni melalui nomor bisnisnya di Florida belum membuahkan hasil segera.

Namun, komunikasi internal pemerintah menunjukkan bahwa pihak berwenang memang berupaya mengonfirmasi apakah Fortelni menyadari pencurian atau penggunaan identitasnya tersebut.

Munculnya paspor ini juga memicu teori spekulatif lainnya, termasuk klaim dari mantan pejabat Gedung Putih bahwa Epstein mungkin “memiliki keterkaitan dengan intelijen” sehingga ia dianggap berada di atas wewenang penegak hukum biasa pada masa itu.

Konteks temuan paspor palsu ini memicu spekulasi luas mengenai keterlibatan Epstein dengan badan intelijen asing, dan FBI hingga saat ini mengklaim masih menyelidiki konteks penggunaannya serta kemungkinan kaitan Epstein dengan intelijen (Mossad/KGB), mengingat dokumen tersebut memungkinkannya bepergian dengan identitas tersembunyi.

Tim pengacara Epstein mengeklaim bahwa paspor tersebut bukan digunakan untuk perjalanan rutin, melainkan sebagai “perlindungan diri” untuk ditunjukkan kepada potensi penculik atau teroris jika ia bepergian ke daerah berbahaya, melainkan sebagai tindakan pengamanan (safety measure).

Mereka berpendapat bahwa paspor itu dimaksudkan untuk ditunjukkan kepada penculik, pembajak, atau teroris jika terjadi insiden kekerasan saat bepergian ke daerah berbahaya di Timur Tengah pada tahun 1980-an.

Jaksa AS mengungkapkan bahwa paspor tersebut digunakan oleh Epstein untuk masuk ke beberapa negara, termasuk Arab Saudi.

Sementara DOJ mengetahui keberadaan paspor ini sejak tahun 2020, namun tidak jelas bagaimana tepatnya Epstein memperolehnya.

Jaksa penuntut menilai Epstein menggunakan paspor palsu ini sebagai bukti bahwa Epstein memiliki sumber daya dan koneksi untuk menggunakan identitas palsu guna melarikan diri ke luar negeri, yang menjadi alasan utama penolakan jaminan pembebasannya.

Investigasi hingga saat ini masih terus berlangsung memungkinan paspor ini digunakan dalam skema intelijen asing, bahkan ada spekulasi terkait keterlibatan intelijen Rusia.

FBI dan jaksa penuntut terus menganalisis dokumen dan bukti fisik, termasuk paspor ini, sebagai bagian dari penyelidikan berkelanjutan terhadap rekan konspirator (co-conspirators) dan jaringan Epstein.

Temuan paspor palsu ini memicu spekulasi yang luas termasuk laporan dari media yang mengutip mantan agen MI6.

Bahwa Epstein mungkin terlibat dalam skema intelijen asing, termasuk potensi keterlibatan dengan intelijen Rusia atau badan intelijen lainnya.

Beberapa laporan menyoroti “perjalanan” Epstein ke Rusia dan hubungan dengan tokoh-tokoh tertentu.

Pihak Kremlin (Rusia) telah menepis klaim yang menyebutkan bahwa Epstein adalah agen intelijen Rusia, menyebutnya sebagai isu palsu yang tidak berdasar.

Investigasi FBI memang terus berlanjut (per awal 2026) terkait jaringan Epstein, dan paspor Marius Fortelni menjadi bukti material penting yang diselidiki dalam konteks kemungkinan penggunaan alias untuk aktivitas ilegal atau intelijen.

Spekulasi mengenai keterlibatan intelijen asing (termasuk Rusia) memang ada di media, namun bukti kuat yang secara definitif mengaitkannya masih terus dikembangkan. .

Singkatnya, paspor Marius Fortelni adalah bukti fisik utama yang masih dianalisis sebagai bagian dari penyelidikan komprehensif atas jaringan internasional dan aktivitas rahasia Jeffrey Epstein hingga awal 2026. (*)

Leave a Reply