Sering kali kita melihat sales-sales yang bekerja membagikan brosur di jalan, akan tetapi tak seorang pun ingin menyempatkan waktunya untuk mengulurkan tangannya agar dapat mengambil brosur tersebut.
Padahal dengan kita menyempatkan waktu kurang dari semenit untuk mengambilnya, sama dengan menambahkan catatan amal baik kita. Covid-19 telah menjadi cobaan yang harus kita lewati bersama-sama.
Jika satu individu hanya fokus pada dirinya sendiri, maka semua cobaan ini takkan bisa terselesaikan. Contohnya pada sholat jamaah di masjid, jika kita berfokus pada diri kita sendiri tanpa saling mengingatkan jamaah lainnya untuk mematuhi peraturan, kita juga akan terkena imbasnya.
Tak luput dari pandangan ketika kita melihat seseorang terjatuh dan minta tolong, masih saja banyak warga yang ragu untuk mendekat. Mereka khawatir dengan keselamatan diri mereka sendiri.
Kita juga sering melihat melihat seorang pengemis meminta-minta, entah itu di jalanan ataupun di sekitar rumah kita, tak sedikit juga orang yang mengkhawatirkan diri mereka ketika ingin memberikan uang kepada mereka dari tangan ke tangan.
Manusia akan berfikir dua kali untuk mendekati orang yang bagi mereka mengancam, dan itu memang sifat dasar manusia.
Lalu, bagaimanakah nasib mereka yang kurang beruntung? Apakah hal ini akan terus seperti ini tanpa ada kemajuan?
Pasti kita semua mengetahui bahwa ada sanksi denda bagi orang-orang yang tidak memakai masker ketika ke luar rumah. Bahkan jika ada razia masker, baik pengendara mobil maupun pejalan kaki yang tidak memakai masker tidak akan bisa lolos jika tidak membayar denda.
Bagi orang-orang yang kurang beruntung, membeli masker baru bukanlah hal mudah. Uang yang mereka punya hanya cukup, bahkan sering kurang, untuk membeli makanan.
Akan tetapi, peraturan ini mutlak dan pemberi sanksi memberikan sanksi denda tidak pandang bulu. Suatu hari, ada seorang buruh sapu jalanan sedang menyapu jalan di bawah terik panas matahari.
Nasib baik pun belum berpihak padanya, dan alhasil ia mendapatkan sanksi denda uang karna tidak memakai masker ketika bekerja. Lalu, ia menceritakan alasan mengapa ia tidak memakai masker ketika itu. Si pemberi sanksi tak mau tahu dan tetap meminta sanksi denda kepadanya.
Dengan berat hati ia memberikan upah yang sudah ia kumpulkan selama seminggu. Dari sini, sebagai petugas pemberi sanksi sudah benar sikapnya itu.
Lalu, bagaimana sikap manusia ke sesama manusia?
Apakah hati nurani kita masih tega untuk bersikap seperti itu di depan orang-orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan kita?












