Oleh : Rakhmatulloh Ellen Natrisna
Penulis Adalah Mahasiswi Semester 3 di Universitas Airlangga.

Sejak pertama kali kemunculan virus Covid-19 di Wuhan pada penghujung tahun 2019, masyarakat di Indonesia masih belum menunjukkan inisiatif untuk mencegah virus tersebut masuk ke Indonesia.
Bahkan di beberapa daerah masih menerima wisatawan luar negri datang ke Indonesia untuk berlibur.
Barulah ketika Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus Covid-19 pada awal bulan Maret lalu, masyarakat seketika panic dan menjadi siap siaga sebisa mungkin menghindari bahaya virus Covid-19.
Tak jarang kita menjumpai berita tentang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) para pekerja. Banyak pula took-toko dan fasilitas-fasilitas ditutup karenanya.
Tempat-tempat beribadah seperti masjid, gereja, pura, dan lain sebagainya pun terkena imbasnya.
Alhasil, kita tidak dapat beribadah maksimal di tempat ibadah kita masing-masing. Seorang filosofi bernama John L. Esposito, menerbitkan buku yang berjudul “Religion and Globalization: World Religions in Historical Perspectiveâ€, dan di dalam buku tersebut menuliskan jika abad ke-21 merupakan kebangkitan dan globalisasi agama.
Seperti yang kita ketahui, bagi seluruh dunia, agama menjadi kekuatan yang sangat penting dan menyebar. Penyebaran tersebut terjadi dalam diri kita masing-masing maupun lingkungan sekitar kita.
Lalu, bagaimana cara kita beribadah dan mendapatkan pahala di tengah pandemi ini?
Virus Covid-19 telah memakan banyak korban. Dilansir dari www.liputan6.com, terhitung hingga tanggal 17 November 2020 bahwa warga yang positif corona berjumlah 474.455, sembuh 398.636, dan meninggal 15.393.
Meskipun pasien positif corona meningkat, namun jika dibandingkan dengan jumlah pasien yang sembuh Sangat terlihat jelas bahwa Indonesia mengalami kemajuan.
Tanpa partisipasi rakyat yang mematuhi protocol dan kerjasama pemerintah, maka semua ini tidak akan terwujud. Meskipun begitu, kita masih dapat melihat kekhawatiran masyarakat akan kemunculan virus ini disekitar kita.
Presiden Joko Widodo juga telah meminta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk menegur setiap kepala daerah yang tidak mematuhi protokol kesehatan.
Di awal kemunculan Corona, satgas penanganan Covid-19 sudah mulai memberikan sosialisasi melalui media internet maupun masyarakat mengenai virus tersebut. Kita juga akan menjumpai Satpol PP maupun polisi yang bertugas membubarkan massa yang berkerumun di tempat umum.
Bisa dikatakan pekerjaan sukarelawan seperti menjadi petugas medis, Satpol PP, gugus tugas Covid-19, dan pekerjaan-pekerjaan mulia lainnya, semata-mata dilakukan dengan niat ingin mencari pahala sekaligus menjadi warga Indonesia yang membanggakan bagi tanah air tercinta karena telah berjuang demi masa depan Indonesia.












