Melawan lupa: Unej Pernah Ajarkan Mahasiswa Keahlian Menulis, Jurnalistik dan PR

Ternyata dalam prakteknya Humas bukan sekedar membagi press release. Atau menerima tamu untuk berbagi informasi, motrek demo mahasiswa atau dosen sekaligus mengorek apa yang mereka maui. Juga bukan hanya menata acara berbagai upacara kampus. Humas tempat saya bekerja malah jadi tempat curhat.

Ilustrasi Kampus Universitas Jember

Jember, Jatim, EDITOR.ID,- Kampus Universitas Jember (Unej) di Tegalboto, Jember menjadi kawah candradimuka untuk melahirkan sarjana intelektual yang juga memiliki kemampuan analitis, kritis dan praktek nyata di lapangan. Sehingga banyak alumni Unej yang sukses menjadi tokoh besar di republik ini. Sebut saja Wakil Ketua Mahkamah Agung (MA) Non Yudisial Suharto yang merupakan alumni FH Unej.

Mantan Kepala Humas Universitas Jember Imam Soebagio

Juga Direktur Penyidikan Kejaksaan Agung (Kejagung) Dr Abdul Qohar yang merupakan Alumni FH Unej Angkatan 1988.

Yang menarik, Unej juga melahirkan banyak lulusan yang terjun di dunia profesi jurnalistik seperti Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Akhmad Munir. Kemudian Lutfi Hakim Ketua PWI Jatim. Ada juga Edi Winarto mantan jurnalis MNC TV yang mendirikan media sendiri bernama EDITOR.ID.

Edi Winarto adalah sosok wartawan salah satu kader didikan Imam Soebagio, mantan wartawan Majalah Mingguan TEMPO yang juga Kepala Humas Unej di tahun 1990-an.

Dalam sebuah kisahnya yang akan dijadikan buku, Imam Soebagio menceritakan pengalamannya mengajarkan dunia jurnalistik dan PR kepada beberapa mahasiswa Unej yang berminat menimba ilmu jurnalistik dan PR di Unej. Berikut kisahnya.

Ternyata dalam prakteknya Humas bukan sekedar membagi press release. Atau menerima tamu untuk berbagi informasi, motrek demo mahasiswa atau dosen sekaligus mengorek apa yang mereka maui. Juga bukan hanya menata acara berbagai upacara kampus. Humas tempat saya bekerja malah jadi tempat curhat.

Kedekatan saya sebagai Humas kampus dengan mahasiswa membuat mereka tak segan curhat. Ada yang curhat adanya dosen killer atau menanyakan bagaimana memperoleh beasiswa atau penurunan SPP. Tidak sedikit yang minta dicarikan pekerjaan untuk membantu kelancaran kuliahnya selama di Jember.

Kalau uang atau akses ke dunia kerja saya katakan bukan ranah saya. Saya hanya bisa memberikan ketrampilan sebagai profesi untuk masuk dunia kerja. Saya tawarkan kepada mahasiswa ketrampilan menulis untuk jurnalistik, komunikasi dan marketing. Respon mahasiswa positif, maka saya buatlah PPR.

Rencana membuka PPR (Pelatihan Public Relations) saya laporkan kepada Pembantu Rektor III Drs. Sanjaya. Beliau setuju. Saya juga minta dukungan agar sertifikat kelulusan ditandatangani Rektor.

“Ngomongo nang Pak Rektor”, kata Pak Sanjaya memberi semangat.

Kepada Rektor Prof.Simanhadi saya bilang kalau sertifikat yang ditandatangi Rektor akan jadi nilai tambah bagi mahasiswa. Rektor setuju.

Sejak angkatan pertama peminat antusias. Peserta dibatasi 32 mahasiswa dimaksudkan agar pelatihan menjadi efektif. Selain menghitung kapasitas bus untuk acara studi banding.

Sejak pertengahan 1995 sampai saya pensiun bulan Maret 2002 PPR oleh Humas Universitas Jember telah mencetak sedikitnya 1.200 mahasiswa semester akhir. Alhamdulilah PPR tidak sia-sia mencetak tenaga yang dibutuhkan.

Pelatihan diadakan 4 hari dalam seminggu, Senin sampai Kamis siang hari selama satu bulan. Disini diajarkan menulis (berita, opini, artikel), Master of Ceremoni, Komunikasi (teknik wawancara n lobby), Protokol, Marketing dan fotografi.

Beberapa pengajar diantaranya Drs. Habibullah dan Agung Pramono mantan wartawan Jawa Pos, Drs. Hartono Djulianto, Drs. Agus Riyanto, Dra. Sri Djunaidah, staf Humas pemilik Radia Suara Kartika.

Sebagai penutup diadakan studi banding ke Surabaya. Diantaranya berkunjung ke TVRI, SCTV, berbagai redaksi harian, PT PAL, HM Sampurna, Dispen Polda Jatim. Saat mengunjungi Dispen Koarmatim (Komando Armada Kawasan Timur) mahasiswa diterima Panglima Koarmatin Laksda TNI Gofar Suwarno. Apa pasal. Ternyata Jenderal bintang dua ini arek Jember lulusan SMA I.

Salah satu didikan dari Imam Soebagio yang setelah lulus kuliah di Unej tahun 1993 langsung terjun ke dunia wartawan adalah Edi Winarto.

Uniknya Edi Winarto benar-benar mengikuti jejak sang seniornya Imam Soebagio. Edi Winarto merintis awal karir sebagai wartawan dengan bergabung ke Harian Suara Indonesia (dibawah naungan manajemen Jawa Pos Group). Media yang juga pernah menjadi tempat mengabdi Imam Soebagio guru dari Edi Winarto.

Enam bulan Edi Winarto melakukan peliputan di wilayah Surabaya. Karena prestasi jurnalistiknya bagus, pimpinan Suara Indonesia Nany Wijaya mengirimnya ke Jakarta untuk membuka jaringan bagi Suara Indonesia di Jakarta. Disana Edi Winarto bekerja di Biro Jawa Pos Jakarta namun bertugas membesarkan Suara Indonesia di Jakarta.

Dua tahun bekerja di Suara Indonesia, Edi Winarto “dibajak” gabung di Media Indonesia, korannya bos media Surya Paloh tepatnya pada tahun 1995. Saat itu Edi Winarto dipimpin mantan Pemred Tempo Bambang Harimurty dan Redpel Media Indonesia Imam Anshori Saleh. Di Media Indonesia, Edi Winarto menimba ilmu kepada Djafar Assegaf Pemimpin Umum Media Indonesia, Wartawan Senior dan Dubes Vietnam.

Setelah itu Edi Winarto melompat bekerja di Harian Merdeka yang dipimpin BM Diah dan Tribuana Said sebagai Pemrednya pada tahun 1997-1998.

Keluar dari Harian Merdeka, Edi Winarto mendirikan koran sendiri. Namanya Harian Jakarta pada 1999. Setelah itu Edi Winarto diajak pengusaha media besar Peter F Gontha bergabung di media televisi Quick Financial TV dan TV Swara DPR. Disana Edi Winarto belajar dunia Broadcast dari Lola Amaria (jurnalis ABC TV Australia), Sabar Hutapea (SCTV) dan Don Bosco (RCTI). Saat itu media-media TV seperti Lativi, Metro TV dll belum lahir. Media TV baru ada SCTV, RCTI, TPI, dan ANTV.

Selama berkiprah di Quick Financial TV dan TV Swara DPR, Edi Winarto sempat diangkat sebagai Staf Khusus Anggota Komisi I DPR RI yang juga Sekretaris Panja RUU Penyiaran Soebagio Anam dari Fraksi PDIP. Disana Edi Winarto membantu Ketua Komisi I DPR Paulus Widiyanto dan Soebagio Anam menyusun draft RUU Penyiaran.

Setelah tiga tahun di Quick Financial TV dan TV Swara DPR, selanjutnya Edi Winarto bergabung menjadi Koordinator Liputan di TPI yang kemudian menjelma menjadi MNC TV. Pada tahun 2012 Edi Winarto mengundurkan diri demi untuk mendirikan dan mengelola TV lokal di Bekasi dan Jawa Tengah. Edi Winarto juga membantu sahabatnya Rawin Murdiki menyiapkan dan membangun jaringan TV lokal. Edi Winarto sempat menjadi staf khusus Plt Gubernur DKI Jakarta Soni Sumarsono.

Kesan Edi Winarto terhadap sosok Imam Soebagio beliau adalah Bapak, Guru yang benar-benar mengayomi, ulet dan tipe pekerja keras tak pernah menyerah dalam kondisi apapun. “Saya pernah memiliki pekerjaan besar dengan beliau menggelar Seminar Nasional di Unej dengan tema Generasi Bangsa Mandiri dengan mengundang Menteri Pemuda dan Olah Raga saat itu Akbar Tanjung,” ujar Edi Winarto.

“Pada saat itu kami dan panitia tidak memiliki dana dan tidak mendapat suporting dari kampus. Tapi Pak Imam Soebagio tidak kenal menyerah. Beliau terus memberikan motivasi kepada kami agar berangkat ke Jakarta untuk menemui Menpora Akbar Tanjung,” ujar Edi Winarto mengenang kisahnya semasa menjadi mahasiswa.

Akhirnya dengan bekal uang pribadi dan uang saku dari Pak Imam Soebagio, Edi Winarto bersama mahasiswa bertiga yakni Heri Wibowo, Puji Astuti dan Endang berangkat ke Jakarta menemui Akbar Tanjung. “Selama di Jakarta kami menginap di rumah saudara karena tidak memiliki bekal yang cukup, yang penting mimpi kami terwujud bisa bertemu pak Menpora Akbar Tanjung, kejadian ini sekitar tahun 1991 an,” ungkap kisah Edi Winarto.

“Tapi akhirnya kami berhasil mengundang narasumber untuk hadir di kota kecil Jember diujung timur pulau Jawa. Setidaknya saat itu kami berhasil memperkenalkan kampus Unej kepada Bapak Menteri Akbar Tanjung dimana saat kami audience dengan pak Menteri saat itu kampus Unej belum banyak dikenal di pentas nasional,” aku Edi Winarto. (tim)

Leave a Reply