Kisah Ponpes Khoziny yang Memilukan! Jerit Histeris Para Ibu Cari Putra Tercinta, 54 Santri Masih Hilang Tertimbun, 10 Tewas

Diantara sejumlah ibu santri terlihat histeris dan ambruk saat mendengar kabar musibah robohnya bangunan musala dan melihat proses evakuasi di hari-hari pertama setelah kejadian, terutama saat mereka menanti informasi mengenai anak-anak mereka yang masih terjebak di reruntuhan.

Petugas Tim SAR Mengevakuasi Jasad Korban

Jakarta, EDITOR.ID,- Suasana Ponpes Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur sungguh memilukan. Jeritan histeris dan suara menyayat penuh kesedihan terdengar disana sini dari para ibu yang mencari putra tercintanya. Tangisan ini membuat suasana kian mencekam. Ortu santri tak membayangkan bagaimana nasib anaknya yang baru berusia belasan tahun harus tertimpa dalam timbunan beton seberat ratusan ton.

Orang tua cemas, panik dan sebagian pasrah, apalagi putra tercinta belum juga ditemukan. Mereka sudah tak punya harapan selama 3 hari menunggu. Bahkan diantaranya sudah ikhlas jika putra mereka meninggal dalam insiden tersebut. Diduga masih ada 54 santri belum ditemukan karena masih terjebak di reruntuhan beton seberat puluhan ton. Hingga kini jumlah korban tewas terus bertambah menjadi 10 santri.

Ibu Santri Histeris Putranya Tak Ditemukan

Diantara sejumlah ibu santri terlihat histeris dan ambruk saat mendengar kabar musibah robohnya bangunan musala dan melihat proses evakuasi di hari-hari pertama setelah kejadian, terutama saat mereka menanti informasi mengenai anak-anak mereka yang masih terjebak di reruntuhan.

Tangisan histeris para wali santri, khususnya ibu, menjadi saksi bisu atas ketegangan dan kepedihan yang terjadi setelah musibah tersebut.

Musibah terjadi pada Senin (29/9/2025) sore, saat bangunan musala Al-Khoziny ambruk saat santri sedang shalat Ashar berjamaah. Ratusan santri dilaporkan berada di dalam musala ketika ambruk. Hal ini menimbulkan kepanikan, dan para ibu santri menunjukkan emosi yang sangat kuat setelah mendengar berita musibah tersebut.

Tim SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akhirnya menyerah usai bekerja siang malam selama 3 hari tanpa istirahat demi menyelamatkan para korban yang terjebak timbunan. Putusan akhirnya Tim SAR dan BPBD terpaksa akan membersihkan beton dengan alat berat. Konsekuensinya, para korban dianggap sudah tak terselamatkan.

Pembersihan Beton dan Puing Dilakukan Secara Hati-Hati

Namun Tim SAR dan BPBD tetap melakukan pembersihan dan evakuasi dengan sangat hati-hati. Setelah beberapa puing dan reruntuhan beton raksasa berhasil disingkirkan, Tim SAR dan BPBD akhirnya berhasil menemukan satu persatu jasad bocah-bocah tak bersalah disela-sela reruntuhan beton.

Satu jenazah kembali ditemukan di balik reruntuhan bangunan pada Jumat pagi. Hingga saat ini, total ada 10 korban yang meninggal dunia.

Berdasarkan data BPBD, ada empat lagi jenazah yang ditemukan. Jenazah dibawa ke RS untuk proses identifikasi.

“Tim pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR) gabungan kembali menemukan empat korban dalam kondisi meninggal dunia. Keempat jenazah itu segera dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya untuk identifikasi dan penanganan lebih lanjut,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya, Jumat (3/10/2025).

Penemuan jenazah ini menambah data korban meninggal. Maka total korban meninggal saat ini sebanyak 10 orang.

“Penemuan jenazah itu sekaligus menambah data jumlah korban meninggal dunia menjadi sepuluh orang sejak hari pertama kejadian,” katanya.

Di sisi lain, jumlah korban yang masih dalam proses pencarian ada sebanyak 54 orang. Data ini didasari dari daftar absensi santri yang dirilis oleh pihak pondok pesantren.

Satu Korban Ditemukan, Kemungkinan Masih Ada Banyak Korban

Sebelumnya, Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit mengatakan satu korban itu terevakuasi pada pukul 10.17 WIB. Sehingga hari ini total ada tiga korban yang terevakuasi.

Petugas hingga saat ini terus melakukan proses evakuasi. Alat berat telah membersihkan dua lantai bangunan itu. Tersisa satu lantai yang targetnya dibersihkan.

“Kemungkinan lebih banyak (korban) yang akan ditemukan. Karena posisi saat ini kan untuk yang menggunakan alat kita sendiri sudah tinggal satu layer ya,” tutur Nanang dilansir detikJatim.

Dua Santri Ditemukan Tewas di Tempat Wudhu

Sebelumnya Tim SAR gabungan kembali menemukan dua korban jiwa dalam proses evakuasi pada Jumat (3/10/2025) pagi.

Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas RI, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, selaku SAR Mission Coordinator (SMC), menyebut kedua korban ditemukan di area tempat wudhu.

Proses evakuasi dilakukan secara manual tanpa bantuan alat berat karena lokasi yang masih bisa dijangkau.

“Pagi ini sekitar pukul 07.30 WIB kita berhasil mengekstraksi (mengevakuasi) satu santri, kemudian satu lagi pukul 07.36 WIB. Keduanya kita ekstraksi dari tempat wudu,” kata Bramantyo di Posko SAR Gabungan.

Ia menyebut dua korban ditemukan tertimpa runtuhan bangunan di area wudu. Kondisi dua korban saat ditemukan sudah meninggal dunia.

“Dua-duanya santri laki-laki. Kami angkat dari tempat wudu. Yang jelas kondisinya sudah meninggal,” ujar Bramantyo.

Selain itu, sejak pagi, tim SAR masih terus berupaya mengangkat puing-puing bangunan dengan alat berat crane untuk membuka akses pencarian korban di antara reruntuhan.

Bramantyo menyebut ada beberapa titik yang terindikasi terdapat korban lain, namun proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati.

“Kami upayakan sore atau malam ini bisa membuka peluang evakuasi lagi. Kalau yang pagi tadi, evakuasi dilakukan dengan peralatan perorangan Basarnas, bukan alat berat,” ujarnya.

Polisi Indentifikasi Korban

Di tempat yang sama, Kapolres Sidoarjo Kombes Christian Tobing mengatakan dua jasad korban yang baru ditemukan pagi tadi langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur untuk proses identifikasi lebih lanjut.

“Sudah langsung mulai dilaksanakan identifikasi. Jenazah dikirim ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk proses postmortem,” kata Christian.

Hingga kini tim DVI Polda Jawa Timur telah mengumpulkan seluruh data DNA keluarga santri yang masuk dalam daftar pencarian. Proses pencocokan antemortem dan postmortem sedang dilakukan untuk memastikan identitas para korban.

Korban Tewas Dimakamkan Ortunya di Jember

Rafi Catur Okta Mulya (17) menjadi salah satu korban meninggal dunia peristiwa bangunan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo ambruk.

Rafi sebenarnya berasal Kecamatan Sawahan Kota Surabaya, namun pihak keluarga ingin memakamkan buah hati tercinta mereka di kota kelahiran sang ayah, yakni di Desa Tanggal Kulon, Kecamatan Tanggul, Jember, Jawa Timur, Kamis (2/10/2025).

Rumah duka keluarga korban di Jember didatangi beberapa kerabat, untuk mengucapkan bela sungkawa atas tewasnya santri putra ini.

Mulyono, ayah Rafi, mengatakan putranya yang meninggal dunia baru pertama kalinya mondok.

Bahkan baru tiga bulan belajar di lembaga pendidikan agama ini.

“Baru saja lulus SMP kemarin, dan baru kemarin ini mondok, mungkin mau bulan ketiga,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Menurutnya, korban meningal dunia karena tertimpa bangunan pondok saat menyelamatkan dua temannya.

Meski sempat dirawat di rumah sakit, kata dia, nyawanya putranya tetap tidak tertolong.

“Meninggalnya kemarin malam. Korban tiba di Jember pada pukul 05.00 WIB pagi. Memilih dimakamkan di Jember karena saya aslinya sini,” ungkapnya.

Selama masih hidup, Mulyono mengungkapkan putranya terkenal pendiam tidak pernah nongkrong keluar rumah.

“Aktivitasnya hanya di pondok. Sebelumnya tidak pernah mondok, begitu lulus SMP, lanjut SMK sambil mondok di Ponpes Al Khoziniy. Jadi baru pertama kali mondok,” paparnya.

Sementara ketika di rumah, Mulyono mengatakan putranya senantiasa membantu ibunya menjaga warung peracangan.

“Tidak pernah keluar rumah, aktifitas lain mungkin di musala. Teman-temannya mungkin sering ke rumah, tetapi anaknya ketika diajak keluar selalu tidak mau,” kenangnya.

Sebelumnya bangunan bertingkat tiga lantai, termasuk musala, di asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, ambruk, Senin (29/9) sore.

Saat kejadian, diketahui ada ratusan santri sedang melaksanakan salat Asar berjemaah di gedung yang masih dalam tahap pembangunan tersebut.

Hingga Jumat pagi tercatat sudah 110 orang korban telah dievakuasi. Dari jumlah itu, tujuh di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Semantara 103 lainnya dipastikan selamat namun mengalami luka-luka. Diperkirakan masih ada puluhan orang yang terjebak di reruntuhan. (*)

Leave a Reply