Kiai Miftachul Akhyar, Sosok Ulama Adaptif Digital

EDITOR.ID, Surabaya,- Kiai Miftachul Akhyar dikenal sebagai sosok ulama sederhana dan berakhlak tinggi. Kesederhanaan Kiai Miftah yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu.

Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan camilan kepada tamunya. “Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni,” demikian kesaksian Pengurus Wilayah Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jatim Ahmad Karomi.

Karomi mengutip penuturan Gus Tajul Mafakhir, bahwa ayah Kiai Miftah merupakan karib KH M Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang.

Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebon Dalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar.

“Tepatlah kiranya pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. KH Abdul Ghoni dalam pandangan Abah Thoyib Krian merupakan salah satu kiai ampuh yang ditutupi oleh keindahan akhlak.

Acapkali KH Abdul Ghoni mengadukkan wedang, menyuguhkan dan mempersilakan kepada tamunya. Nah, lelaku sae inilah yang oleh KH Miftachul Akhyar tetap dilestarikan,” ujar Karomi.

Sosok Miftachul Akhyar juga dikenal sebagai Kiai yang adaptif dengan teknologi digital. Di awal sambutan yang disampaikan KH Miftachul Akhyar selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah terkait distrupsi teknologi.

Dan hal tersebut hendaknya menyadarkan semua kalangan khususnya para ulama untuk bisa terus memberikan pencerahan terhadap umat.

“Situasi kondisi yang mungkin bisa disebut sebagai zaman disrupsi teknologi yang saat ini merupakan sebagai kewajiban kita sebagai pewaris anbiya, untuk bisa memberikan pencerahan pada umat sekaligus tanggung jawab kita sebagai mitra pemerintah,” kata kiai yang juga Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.

Tidak semata berwacana, Kiai Miftah, sapan akrabnya sudah memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan Islam khas pesantren yang lembut dan moderat.

Yang terbaru selama pandemi adalah dengan menggelar pengajian kitab secara virtual. Tidak berlebihan kalau Pengasuh Pondok Pesantren Miftahussunnah, Kedung Tarukan, Surabaya ini disebut sebagai kiai yang adaptif dengan perkembangan teknologi.

Hal tersebut dibuktikan dengan mengedukasi masyarakat melalui ngaji virtual melalui channel ‘Multimedia KH. Miftachul Akhyar’. Beberapa kitab induk pesantren yang disajikan secara ajeg hingga saat ini dalam channel tersebut adalah kitab hadist berjudul Jami’usshaghir karya Jalaluddin al-Suyuti.

“Kajian ini diselenggarakan setiap Sabtu pukul 16.00 WIB,” kata Ahmad Karomi yang hingga saat ini ia ikut aktif sebagai salah seorang jamaah pengajian.

Leave a Reply