Kegilaan Neo Geopolitik Trump

Kebijakan berupa “Executive Order 14257” itu juga dikenakan kepada semua mitra dagang AS dan ditandatangani oleh Presiden Trump pada 2 April 2025 yang menyebutnya sebagai "Liberation Day”.

Oleh : F Harry Sampurno Ph.D Penulis : Deputy Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementrian BUMN 2015-Sekarang Doktor (Ph.D) in Strategic / Militer Industries Universitas of Iowa, USA April 1999
  • Serangan Udara Skala Besar (Saturasi) setelah sistem pertahanan udara canggih S-300VM dan Buk-M2E menjadi tidak berfungsi. F-35 dan F-18 yang dipandu EA-18 (jamming jarak dekat) melakukan pemboman kurang dari 30 menit, dengan target Bukit El Volcán (pusat komunikasi radar), Pangkalan Udara La Carlota dan kompleks militer Fuerte Tiuna (tempat tinggal Maduro).
  • Sementara helikopter AH-64, MH-6 dan AH-1Z melaksanakan penembakan menjaga perimeter dan menghancurkan baterei Buk-M2E dan kendaraan lapis baja yang membawa Pantsir-S1.

    1. Operasi Kecepatan Tinggi (Delta Force) dilakukan oleh unit elit Delta Force (JSOC) dgn CH-47 dan MH-60 yang terbang sangat rendah untuk menghindari deteksi radar yang mungkin masih aktif di luar kota dan mengantisipasi penggunaan MANPAD Igla-S.

    Ekstraksi Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang sangat presisi dari sisi tempat dan lokasi mengakibatkan gugurnya sekitar 30 orang pasukan pengawal pengamanan Presiden Maduro dan disebutkan juga ada beberapa orang pasukan atau agen AS yang terluka dalam pertempuran jarak dekat di kediaman Presiden. Presiden Maduro dan istrinya langsung diterbangkan keluar dari Venezuela dan berakhir di kantor DEA kota New York.

    Sesuai dengan pernyataan Jenderal Dan Caine (Kepala Staf Gabungan AS) bahwa seluruh operasi ini melibatkan lebih dari 150 pesawat yang terintegrasi, menciptakan “kejutan total” yang membuat militer Venezuela tidak memiliki waktu untuk bereaksi sama sekali.

    “Keberhasilan” ini kemudian membawa ke kegilaan yang ketiga.

    Kegilaan ketiga adalah serangan membabibuta brutal terhadap negara Iran ditengah perundingan atau negosiasi yang dilakukan Jared Kushner dan Steve Witkoff dengan Menlu Iran melalui perantara Menlu Oman. Perundingan sudah mencapai ronde kedua dan selesai tanggal 27 Februari ketika draft kesepakatan dibawa pulang masing2 delegasi ke AS dan Iran untuk mendapatkan persetujuan final dari kepala negara masing2.

    Tetiba pada tanggal 28 Februari 2026 di awal bulan ramadan, hari Sabtu pagi sekitar pukul 09.40 waktu setempat terdengar ledakan besar di komplek perumahan (Beit Rahbari) kepala negara dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamanei di Teheran.

    Serangan itu menandai dimulainya Operasi Epic Fury (Amerika Serikat) dan Operasi Roaring Lion (Israel) yang diumumkan secara resmi pada hari Sabtu, 28 Februari 2026. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump yang menyatakan dimulainya kampanye militer besar-besaran untuk melumpuhkan infrastruktur nuklir, rudal balistik, dan komando militer Iran di berbagai kota di Iran, termasuk Teheran, Qom, dan Isfahan.

    Serangan pertama Roaring Lion oleh jet tempur Israel dengan target kepemimpinan (decapitation strike) berdasarkan intelijen krusial CIA yang melacak pergerakan dan keberadaan Khamenei secara real-time, sementara Epic Fury oleh AS berfokus pada target militer dan infrastruktur strategis.

    Jet tempur Israel dilaporkan menjatuhkan sekitar 30 bom presisi (termasuk rudal balistik yang diluncurkan dari udara seperti Sparrow) ke kompleks kediaman tersebut di distrik Pasteur, Teheran.

    Dalam 24 jam pertama, Israel mengklaim telah menjatuhkan lebih dari 1.200 amunisi dan menyerang sekitar 500 target strategis menggunakan lebih dari 200 jet tempur.

    Satuan tugas Scorpion Strike dari CENTCOM menggunakan drone (one-way attack drones) berbiaya rendah untuk pertama kalinya dalam pertempuran. Sebelum dan selama serangan fisik, dilakukan serangan siber skala besar yang melumpuhkan jaringan komunikasi di seluruh Iran.

    Berikut adalah rincian alutsista yang dikerahkan pada hari pertama serangan:

    • B-2 Spirit (Stealth Bomber): untuk menjatuhkan bom pemusnah bunker

    • B-1B Lancer: sebagai “truk bom” dengan kapasitas angkut hingga 75.000 pon amunisi dalam misi nonstop lebih dari 30 jam dari pangkalan di AS.

    • F-22 Raptor: dari pangkalan udara Ovda di Israel selatan untuk menjalankan misi superioritas udara dan mengawal pesawat serang.

    • F-35 Lightning II: Israel F-35I Adir, USAF F-35A dan Korps Marinir F-35C dari kapal induk USS Abraham Lincoln untuk misi penghancuran pertahanan udara musuh (SEAD).

    • F-15E Strike Eagle & F-16CJ Fighting Falcon: untuk serangan presisi dan penekanan radar pertahanan udara.

    • A-10 Thunderbolt II: untuk dukungan udara dekat dan menyerang target darat.

    • EA-18G Growler: peperangan elektronik yang melumpuhkan sistem radar dan komunikasi Dalam 36 jam pertama, lebih dari 3.000 amunisi digunakan oleh pasukan AS dan Israel :

    • Tomahawk Land Attack Missile (TLAM): Ditembakkan dari setidaknya 14 kapal perusak dan kapal selam di Teluk Persia dan Laut Arab

    • GBU-57 (MOP): Bom berpemandu presisi seberat 30.000 pon yang dirancang khusus untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah yang sangat dalam.

    • JASSM (Joint Air-to-Surface Standoff Missile): Rudal jelajah siluman yang ditembakkan dari jarak jauh di luar jangkauan pertahanan udara Iran.

    • JDAM (Joint Direct Attack Munition): Kit pemandu yang mengubah bom “bodoh” menjadi bom pintar berpemandu GPS untuk serangan presisi.

    • PrSM (Precision Strike Missile): Ditembakkan dari sistem darat HIMARS di pangkalan regional untuk menargetkan peluncur rudal Iran.

    • LUCAS One-Way Attack Drones: Drone bunuh diri berbiaya rendah yang digunakan secara massal untuk menjenuhkan sistem pertahanan udara Iran.

    Laporan menyebutkan adanya korban jiwa di kalangan warga sipil, termasuk insiden tragis yang menghantam sekolah dasar di Minab yang menewaskan banyak anak-anak dan juga para orang tuanya yang datang untuk menolong.

    Tetapi gugurnya pemimpin tertinggi dan banyak petinggi militer dan sipil Iran pada hari pertama, sama sekali tidak mengurangi kemampuan Iran untuk bereaksi sangat cepat dengan membalas serangan ke Israel dan semua pangkalan AS di wilayah teluk persia.

    AS-Israel merasa sudah menguasai udara Iran tanpa perlawanan (air superiority). Hampir semua kota besar dan 5000 lokasi strategis berhasil dibom dan dihancurkan AS-Israel tetapi Iran secara asimetrik meluncurkan ribuan balistik misil jarang dekat maupun sedang dan drones dalam 100 gelombang ke Israel dan seluruh pangkalan militer dan aset AS di UAE, Qatar, Bahrain, Kuwait, Irak dan Arab Saudi. Gencatan Senjata terjadi setelah 40 hari peperangan brutal dan perundingan tanggal 11 April berakhir tanpa hasil.

    Walaupun perundingan pertama di Islamabad tanggal 11 april 2026 belum membuahkan hasil, semoga perundingan kedua yang masih diperantarai oleh Pakistan bisa membuahkan hasil atau memperpanjang gencatan senjata. Tentu seluruh dunia berharap tidak terjadi perang lagi dan perdamaian di kawasan Teluk Persia bisa langgeng.

    Leave a Reply