Kegilaan Neo Geopolitik Trump

Kebijakan berupa “Executive Order 14257” itu juga dikenakan kepada semua mitra dagang AS dan ditandatangani oleh Presiden Trump pada 2 April 2025 yang menyebutnya sebagai "Liberation Day”.

Oleh : F Harry Sampurno Ph.D Penulis : Deputy Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementrian BUMN 2015-Sekarang Doktor (Ph.D) in Strategic / Militer Industries Universitas of Iowa, USA April 1999

Oleh : F Harry Sampurno Ph.D
Penulis : Deputy Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementrian BUMN 2015-2019
Alumnus Doktor (Ph.D) in Strategic / Militer Industries Universitas of Iowa, USA April 1999

EDITOR.ID,- Ini belum akhir zaman, tetapi kegilaan dari seorang Donald Trump Presiden dari negara dengan ekonomi terbesar dunia, militer terkuat di dunia, menjadi pengingat dan pelajaran bahwa demokrasi liberal bisa mengobrak abrik hampir semua tatanan dunia yang dibuat setelah Perang Dunia Kedua.

Ada tiga hal yang ingin disoroti dalam tulisan kali ini yaitu Perang Tarif, Penculikan Kepala Negara Venezuela dan Serangan dan perang brutal terhadap Iran.

Kegilaan yang pertama, bak petir disiang bolong, AS tetiba mengenakan tarif seenaknya terhadap barang yang diimpor dari dua negara tetangga terdekatnya yaitu Canada dan Mexico yang sebenarnya terikat dalam perjanjian USMCA yang mengganti NAFTA sejak 1 Juli 2020.

Kebijakan berupa “Executive Order 14257” itu juga dikenakan kepada semua mitra dagang AS dan ditandatangani oleh Presiden Trump pada 2 April 2025 yang menyebutnya sebagai “Liberation Day”.

Namun sebenarnya peta baru geoekonomi ini lebih mengkonfirmasikan kekacauan geopolitik yang dimulai dengan invasi unilateral AS ke Afghanistan dan Irak yang disusul dengan pergolakan di berbagai negara timur tengah, perang Nagorno Karabakh, Sahel, Rusia-Ukraina sampai dengan Israel menghancur-leburkan Gaza dan Libanon yang masih berlangsung dan terakhir serangan brutal AS-Israel kepada Iran.

Tentu saja sangat banyak dugaan ataupun analisis dampaknya terhadap Indonesia, tetapi kita akan melihat bagaimana sebenarnya struktur ekspor Indonesia dan intensitas teknologi (kedalaman) ekspor Indonesia ke AS.

Secara umum ekspor Indonesia masih sangat dangkal berasal dari SDA dengan nilai tambah rendah, sedangkan yang berasal dari sektor manufaktur dengan nilai tambah sedang-tinggi masih sangat terbatas.

Sedangkan khusus ekspor kita ke AS memang meningkat dari tahun ke tahun sejak 1998 dan menunjukkan neraca surplus dan makin besar mencapai US$ 14 milyar pertahun sejak tahun 2021.

Adapun jenis komoditas ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2024 dengan nilai lebih dari US$ 400 juta adalah mesin dan perlengkapan listrik sebesar US$ 1,2 milyar, alas kaki US$ 658 juta, pakaian dan asesorisnya US$ 1,1 milyar, minyak sawit US$ 507 juta dan perabotan/alat penerangan US$ 410 juta.

Walaupun hampir seluruh ekspor ke AS sudah berupa produk manufaktur atau pengolahan, namun intensitas teknologinya rendah dan tentunya nilai tambahnya juga rendah.

Akhirnya Indonesia setuju menandatangi Agreement on Reciprocal Trade (ART), dengan AS pada tanggal 20 Februari 2026 yang menurunkan tarif dari 32% menjadi 19%. Tapi pada hari yang sama Mahkamah Agung AS membatalkan seluruh kebijakan tarif yang dibuat Trump, sehingga Trump membuat lagi kebijakan baru dimana tarif menjadi 15%.

Dengan berbekal data-data diatas, jelas pengenaan tarif yang tinggi di AS akan berpengaruh dalam jangka pendek terhadap kinerja ekspor kita dan tentunya pada perkembangan industri kita sendiri. Namun yang lebih penting daripada tarif, adalah meneliti dan mengetahui seberapa penting ekspor kita terhadap ekonomi dan atau pengusaha importir di AS sendiri.

Kedepannya kita perlu mendorong program pendalaman atau intensitas teknologi dari produk yang kita ekspor. Walaupun sudah dalam bentuk produk manufaktur tetapi jika masih berteknologi rendah yang biasanya bersifat padatkarya, maka akan lebih mudah bagi importir di AS memindahkan lokasi produksinya ke negara lain yang dikenakan tarif lebih rendah.

Jika produknya sudah berteknologi menengah tinggi, biasanya adalah “intermediate goods” yang bernilai tambah lebih tinggi dan tingkat elastisitas relatif rendah sehingga lebih sulit untuk dipindahkan. Tetapi kondisi ini lebih menjadi sasaran bagi AS untuk ditarik kembali atau dipindahkan ke AS sendiri karena dengan nilai tambah yang lebih tinggi, maka bisa dikerjakan dengan biaya SDM yang tinggi di AS.

Tsunami tarif oleh AS memperjelas peta geoekonomi sejak berakhirnya “Perang Dingin” yang ditandai dengan bubarnya Uni Soviet tahun 1991. Pergeseran geoekonomi sudah dirasakan saat terjadinya Krisis Keuangan Asia 97-98, Global Financial Crisis 2008, Great Recession 2007-2009 dan Pandemic COVID 2020-2021.

Kegilaan yang kedua, walaupun bisa menduga, dunia tetap saja terkejut ketika Amerika Serikat (AS) benar-benar melakukan agresi militer terhadap kedaulatan negara lain dan pelanggaran hukum internasional dengan melakukan penculikan terhadap Presiden Venezuela dan istrinya di pagi buta tanggal 3 Januari 2026 di Caracas, Venezuela.

Presiden Donald Trump mengklaim Operasi Absolute Resolve adalah puncak dari Operasi Southern Spear ini sebagai “pertunjukan kekuatan militer paling presisi” yang dilakukan untuk membantu dan mengawal agen DEA dan FBI yang melaksanakan perintah pengadilan untuk menangkap Presiden Maduro yang dituduh dan dipersangkakan menyelundupkan narkoba ke wilayah AS.

Venezuela sebenarnya mempunyai alutsista dan kemampuan pertahanan yang cukup modern. Pesawat tempur Venezuela itu bukan kaleng-kaleng yaitu Sukhoi Su-30MK2 buatan Rusia yang dipersenjatai rudal air-to-surface Kh-31, dan pesawat tempur terlaris F-16 Fighting Falcon (Block 15) yang walau dibeli dari AS pada era 1980-an, tetapi masih dioperasikan dengan bantuan suku cadang dari pasar gelap atau modifikasi Israel (rudal Python).

Ada juga berbagai pesawat lain pendukung seperti Hongdu K-8 Karakorum pesawat latih tempur ringan buatan China yang sering digunakan untuk patroli wilayah dan serangan darat ringan.

Untuk pengawasan udara, Venezuela mengoperasikan berbagai lapisan radar mulai dari P-18-2M (NATO: Spoon Rest) buatan Rusia dengan sinyal VHF yang dikenal memiliki kemampuan untuk mendeteksi pesawat siluman (stealth).
Kemudian JYL-1 & JY-27 buatan Tiongkok yang digunakan untuk pengawasan wilayah udara jarak jauh dan peringatan dini.

Pertahanan udaranya berupa sistem baterai rudal juga memiliki radar khusus 9S15M2 Bill Board dan 9S32ME Grill Pan (S-300VM) yang cukup canggih serta 9S18M1E Snow Drift (Buk-M2E) yang lebih mobile.

Sedangkan untuk pertahanan titik adalah Pantsir-S1 Radar dual-band (EHF/UHF) yang bisa bergerak dengan cepat, digunakan untuk mendeteksi ancaman kecil seperti drone atau bom pintar yang mendekati pangkalan udara.

Jadi mengapa semua alutsita tersebut seperti lumpuh tanpa daya menghadapi “Operation Absolute Resolve” yang menurut AS berhasil dilaksanakan hanya dalam waktu 2 jam 20 menit ?

Secara garis besar operasi militer ini dilaksanakan dalam 4 bagian atau tahapan sebagai berikut :

  1. Pengalihan perhatian di Laut Karibia (Operation Southern Spear)

  2. Mematikan Radar Total (Operation Absolute Resolve) dan melakukan serangan siber terhadap infrastruktur energi atau penggunaan bom pulsa elektromagnetik (EMP) skala kecil untuk mematikan sistem radar dan komunikasi militer secara instan.

Leave a Reply