JAKARTA, EDITOR.ID,- Pasar modal Indonesia dihebohkan oleh rumor besar mengenai rencana pengambilalihan saham pengendali PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Pemilik PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), Samsudin Andi Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam, dikabarkan akan mengambil alih 62,25% saham BYAN milik orang terkaya Indonesia, Dato’ Low Tuck Kwong.
Kabar yang beredar di media sosial dan kalangan investor ini menyebutkan bahwa nilai transaksi untuk akuisisi kepemilikan tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$5,5 miliar (dengan asumsi kurs Rp18.070 per dolar AS).
Lonjakan Signifikan Saham BYAN dan JARR
Rumor panas ini langsung memicu reaksi masif di pasar modal, mengerek naik harga saham BYAN serta sejumlah saham afiliasi Jhonlin Group lainnya.
Pada pembukaan perdagangan Selasa (18/8), saham BYAN melonjak 17,71% atau 2.550 poin ke level Rp16.950 per saham. Kenaikan ini menyusul performa sehari sebelumnya di mana saham BYAN melesat 20% atau 2.400 poin.
Pada perdagangan Jumat (14/8/2026) lalu, saham emiten batu bara raksasa ini juga sudah melonjak 19,01% ke level Rp14.400.
Aksi borong oleh investor asing turut mewarnai lonjakan ini. Pada Jumat (14/8), investor asing mencatatkan net buy saham BYAN senilai total Rp2.013.450.000, dengan broker asing utama meliputi DP (DBS Vickers Sekuritas Indonesia) dan YU (CGS International Sekuritas Indonesia).
Secara rinci, terdapat empat perusahaan sekuritas yang mencatatkan net buy saham BYAN di atas Rp100 juta pada tanggal tersebut:
-
LG — Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk: Rp3.279.587.500
-
IH — Indo Harvest Sekuritas: Rp1.431.542.500
-
DP — DBS Vickers Sekuritas Indonesia: Rp1.199.045.000
-
YU — CGS International Sekuritas Indonesia: Rp1.175.202.500
-
XC — Ajaib Sekuritas Asia: Rp403.962.500
Tidak hanya BYAN, saham emiten perkebunan dan biodiesel milik Jhonlin Group, yakni PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), ikut melesat 19,40% ke level Rp2.400 per saham pada pembukaan perdagangan Selasa (18/8), setelah sehari sebelumnya naik 6,63%.
Di tengah pusaran rumor tersebut, JARR mengumumkan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin (21/9). Manajemen menyatakan pemanggilan dan mata acara rapat akan diumumkan pada 28 Agustus 2026 melalui situs web e-RUPS, BEI, dan situs resmi perseroan, sesuai dengan ketentuan POJK No. 15/POJK.04/2020.
Pertemuan di Kutai Kartanegara dan Pertimbangan Struktur Saham
Spekulasi akuisisi ini semakin menguat setelah beredarnya foto pertemuan antara Haji Isam, pemegang saham pengendali Bayan Resources Dato’ Low Tuck Kwong, serta pendiri Republikorp Norman Joesoef.
Ketiganya tertangkap basah tengah meninjau area operasional tambang BYAN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (15/8/2026).
Perlu diketahui, Norman Joesoef merupakan chairman Republikorp yang bergerak di bidang industri pertahanan strategis dan teknologi militer.
Berdasarkan data kepemilikan saham BYAN, komposisi saham saat ini dikuasai oleh Low Tuck Kwong sebesar 40,25%, putrinya Elaine Low sebesar 22%, PT Sumber Suryadaya Prima 10%, serta sejumlah perusahaan asal Korea Selatan masing-masing 4% (Korea East-West Power, Korea Western Power, Korea Southern Power, Korea Midland Power, Korea South-East Power), Lim Chai Hock 3,26%, dan Jenny Quantero 2,98%.
Jika ditotalkan, kepemilikan Low Tuck Kwong dan putrinya (Elaine Low) memang mencapai sekitar 62,25%, angka yang persis menyamai porsi saham yang dikabarkan akan diakuisisi.
Kendati demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari korporasi. Manajemen Jhonlin Group maupun pihak internal saat dimintai konfirmasi oleh IDXChannel masih enggan memberikan tanggapan.
Rencana pengambilalihan ini secara hukum masih sebatas rumor, dan struktur transaksi serta realisasi pastinya belum mendapat kepastian.
Kinerja Keuangan BYAN dan Profil Bisnis Haji Isam
Di tengah isu panas ini, BYAN mencatatkan kinerja keuangan yang solid. Sepanjang semester I 2026, perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$410,25 juta (sekitar Rp7,41 triliun), naik 17,46% dari US$349,24 juta (sekitar Rp6,31 triliun) pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan BYAN juga tumbuh 7,29% menjadi US$1,74 juta (sekitar Rp31,45 triliun).
Di sisi lain, ekspansi bisnis Haji Isam terus menjadi sorotan publik. Selain memperkuat portofolio lewat Jhonlin Group di sektor batubara, logistik, perkebunan, dan biodiesel (JARR), pengusaha asal Batulicin, Kalimantan Selatan ini secara agresif mendiversifikasi bisnisnya ke sektor mineral.
Pada Mei 2026 lalu, Haji Isam resmi mengakuisisi 21,11% saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) yang bergerak di bidang nikel senilai Rp936,65 miliar.
Jika dikalkulasikan, total kapitalisasi pasar dari emiten-emiten di bawah kendali Haji Isam yang tercatat di BEI—seperti PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) sebesar Rp43,89 triliun, JARR Rp18,55 triliun, PACK Rp10,09 triliun, dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) Rp1,76 triliun—jika ditotal mencapai Rp74,29 triliun.
Angka ini masih jauh jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar BYAN yang menembus kisaran Rp480 triliun (kapitalisasi kelompok usaha Haji Isam baru sekitar 15,5% dari nilai pasar BYAN).












