Industri Rokok Runtuh, Menkeu Sumpah Akan Kejar Rokok Ilegal Asal China

Purbaya soal Cukai Rokok: Tinggi Amat, Firaun Lu?

Ilustrasi Produksi Rokok Kretek

Jakarta, EDITOR.ID,- Industri rokok di tanah air sebagai salah satu penyumbang pajak terbesar di penerimaan APBN sedang tidak baik-baik saja akibat hantaman peredaran rokok ilegal. Bahkan dikabarkan produsen rokok terbesar di Indonesia Gudang Garam, yang telah melantai di pasar saham dengan kode GGRM ikut terimbas.

Dalam laporan keuangan GGRM semester I tahun 2025, meski meraih untung sebesar Rp 117,1 miliar. Laba tersebut anjlok 87,3% jika dibandingkan semester I tahun 2024 yang sebesar Rp 925,5 miliar.

Isu Rumahkan Pegawai Dibantah

Bahkan Gudang Garam sempat diterpa isu telah merumahkan 800 karyawannya di pabriknya di Tuban. Namun kabar tersebut langsung dibantah pihak manajemen.

Kabar PHK Massal karyawan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) tengah viral di media sosial. Kabar tersebut diungkap melalui sebuah video yang tersebar di internet.

Sebuah video yang diunggah akun @adion._87 memperlihatkan momen haru saat karyawan yang mengenakan seragam merah dan biru bertuliskan PT Gudang Garam didera kabar PHK Massal. Video tersebut memperlihatkan ketika mereka dikumpulkan dalam satu aula.

Kabar tersebut langsung dibantah manajemen PT Gudang Garam Tbk. GGRM memastikan kabar beredarnya isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di pabrik Tuban, Jawa Timur, tidak benar. Informasi yang viral di media sosial itu ditegaskan hoaks. Manajemen menyampaikan, sampai saat ini kegiatan operasional di pabrik Tuban tetap berjalan normal dan kondusif.

Menkeu Turun Tangan Bertekad Selamatkan Industri Rokok

Keresahan jutaan buruh pabrik rokok dan ancaman penurunan pendapatan dari industri rokok ini mendapat perhatian serius dari Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, menteri baru pengganti Sri Mulyani.

Purbaya bersumpah akan mengejar para pelaku yang selama ini melakukan peredaran rokok secara ilegal.

“Pasar mereka saya lindungi, dalam pengertian, yang online-online, yang (rokok) palsu itu saya larang… Hati-hati mereka yang palsu-palsu, akan kita mulai kejar satu-satu!,” janji Purbaya pada media briefing di Kementerian Keuangan, sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia, Sabtu (20/9/2025).

Rokok Ilegal Asal China Bunuh Industri Rokok Tanah Air

Purbaya melihat ada sejumlah rokok ilegal dari China yang masuk ke Indonesia. Praktik tersebut ia klaim terus menekan sampai membunuh industri rokok dalam negeri. Ia berjanji akan menindak tegas rokok ilegal atau palsu demi menjaga industri rokok dalam negeri.

Purbaya mengatakan industri rokok sudah menyumbang triliunan rupiah melalui cukai selama ini. Menurutnya, sudah sewajarnya pemerintah melindungi dengan menindak peredaran rokok ilegal.

Menkeu akan menjaga kinerja industri rokok yang mengalami penurunan. Purbaya mengatakan akan segera berkunjung ke Jawa Timur untuk lihat langsung kondisi industri rokok.

Selain, isu peredaran rokok ilegal, Pak Menkeu juga berbicara soal tarif cukai di balik menurunnya kinerja industri dalam negeri.

Purbaya mengaku kaget ketika pertama kali menjabat sebagai menteri keuangan per Senin (8/9). Ia heran karena rata-rata tarif cukai rokok saat ini tembus 57%.

Ia menilai ada kebijakan yang aneh dalam urusan cukai rokok, karena tarif tinggi. Sampai pada akhirnya, Purbaya paham tarif cukai sengaja dibuat tinggi untuk menekan jumlah perokok.

“(Tapi) Ada cara mengambil kebijakan yang agak aneh untuk saya. Saya tanya, ‘Cukai rokok gimana? Sekarang berapa rata-rata?’ ‘Lima puluh tujuh persen.” ‘Wah, tinggi amat. Firaun lu?’ Kira-kira gitu, banyak banget ini,” kata Purbaya.

Menkeu berjanji akan mencari cara demi melindungi para pengusaha rokok lokal dan tenaga kerjanya. Termasuk bagaimana menerapkan tarif cukai yang manusiawi. Namun demikian, Purbaya tak mengungkap secara detail soal rencananya terkait tarif cukai itu.

“Nanti saya lihat lagi, saya belum ketemu sama.. saya belum menganalisis dengan dalam lah seperti apa sih cukai rokok itu,” sebut Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/9/2025) beberapa waktu lalu.

Pita Cukai Palsu

Dia sempat menyinggung permainan oknum soal pita cukai rokok palsu. Purbaya mengaku perlu mendalami persoalan ini, khususnya potensi tambahan penerimaan negara apabila penindakan dilakukan.

“Katanya ada yang main-main, di mana main-mainnya? Kalau misalnya saya beresin, saya bisa hilangkan cukai-cukai palsu, berapa pendapatan saya? Dari situ nanti saya bergerak ke depan, kalau mau diturunkan seperti apa, kalau mungkin naik seperti apa,” sebut Purbaya.

Ketika ditanya apakah ada kemungkinan dirinya menurunkan tarif cukai rokok, Purbaya tak mau berangan-angan. Dirinya menyatakan perlu melakukan studi dan analisis khusus.

“Tergantung hasil studi dan analisis yang saya dapatkan dari lapangan,” sebut Purbaya.

Cukai Rokok Tidak Naik 2025

Dalam catatan detikcom Cukai Hasil Tembakau (CHT) tidak naik tahun ini. Namun, Harga Jual Eceran (HJE) rokok naik dan berlaku mulai 1 Januari lalu.

HJE rokok 2025 tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 97 Tahun 2024 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau Berupa Sigaret, Cerutu, Rokok Daun Atau Klobot dan Tembakau Iris. Beleid itu masih diteken oleh Sri Mulyani Indrawati yang saat itu menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Sri Mulyani cukup ekspansif dalam menaikkan cukai rokok. Tarif cukai hasil tembakau (CHT) terakhir naik rata-rata 10% pada 2023 dan 2024.

Laba dan Pendapatan Gudang Garam Anjlok

Mengutip laporan keuangan PT Gudang Garam Tbk yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan laba tersebut karena pendapatan GGRM hingga Juni 2025 turun 11,4% jadi Rp 44,3 triliun dari perolehan Juni 2024 yang sebesar Rp 50,01 triliun.

Biaya pokok pendapatan juga turun menjadi Rp 40,5 triliun. Maka laba kotor GGRM hingga Juni 2025 turun menjadi Rp 3,7 triliun dari Juni 2024 yang sebesar Rp 5,06 triliun.

Laba usaha GGRM hingga semester pertama juga anjlok signifikan menjadi Rp 513,7 miliar dari Juni 2024 yang sebesar Rp 1,613 triliun.

Penurunan tersebut karena pendapatan lainnya turun jadi Rp 148,7 miliar, sedangkan penurunan beban usaha hanya 5% jauh lebih kecil dari penurunan pendapatan dan menjadi Rp 3,4 triliun. Sementara itu, beban lainnya malah naik jadi Rp 2,3 miliar, dan perusahaan membukukan rugi kurs Rp 1,7 miliar dari sebelumnya mencatat laba Rp 39,3 miliar.

Total aset GGRM hingga semester I tahun ini juga menyusut jadi Rp 79,8 triliun dari aset akhir tahun 2024 yang sebesar Rp 84,9 triliun.

Pada perdagangan hari ini saham GGRM turun 3,24% menjadi Rp 8.950 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp 17,22 triliun. Sejak awal tahun saham GGRM telah turun 32%, dalam setahun terakhir turun 43%, tiga tahun terakhir terkoreksi 66% dan dalam lima tahun terakhir turun 82%. Sementara itu dari rekor harga tertinggi yang pernah dicatatkan perusahaan di Rp 100.975 per saham pada 4 Maret 2019 silam, saat ini saham GGRM telah jatuh 91,13%. (*)

Leave a Reply