Jakarta, EDITOR.ID,- Hoho Alkaf adalah Kepala Desa fenomenal yang namanya sedang kesohor di dunia maya. Pengikutnya di akun medsos mencapai jutaan dan membuatnya meraih pundi-pundi uang dari bisnis digital. Nama asli Hoho Alkaf adalah Welas Yuni Nugroho. Ia dikenal sebagai kepala desa (Kades) Purwasaba di Banjarnegara, Jawa Tengah, yang memiliki nama panggung Hoho Alkaf.
Sosoknya sempat viral lantaran penampilannya yang nyentrik dan sangar karena sekujur tubuhnya dipenuhi gambar tato. Siapa sangka, Kades Hoho pernah viral karena membangun sejumlah fasilitas desa menggunakan uang pribadinya.
Mulai dari menyumbang “mobil ambulan” untuk mengangkut warganya yang mengalami sakit tapi tak mampu sampai membangun jalan mulus menggunakan uang pribadinya. Sosoknya pun viral di media sosial. Ia mempunyai penggemar jutaan di sejumlah media sosial Tiktok, Youtube hingga FB. Darisana Kades Hoho Alkaf memiliki penghasilan lumayan besar jauh dari gajinya sebagai Kepala Desa sebesar Rp2,7 juta.
Hoho Alkaf menjabat sebagai Kades sejak 2019 dan dikenal karena dedikasinya dalam pembangunan desa. Tubuhnya dipenuhi dengan sekitar 30 motif tato, dimulai sejak masa SMA.
Ia merupakan anak dari pengusaha konstruksi, Siswoyo Siswoharsono, dan pernah menjadi pengusaha konstruksi sebelum menjabat Kades. Menjadi sorotan publik dan viral di berbagai media sosial karena penampilannya yang nyentrik dan kepemimpinannya yang luar biasa.
Di sebuah lahan luas di Desa Purwasaba, Banjarnegara, deru mesin penggiling pakan bercampur dengan kokok ayam petelur.
Di atas hamparan kandang berkapasitas ribuan ekor ayam itu, berdiri seorang lelaki berkulit legam bertato, telanjang. Padaha, ia adalah sosok ASN desa.
Hoho Alkaf, Kepala Desa Purwasaba, yang belakangan jadi bahan perbincangan publik.
dengan gaya santai membuka alokasi Dana Desa 2025. “20 persen untuk ketahanan pangan. Kita menambah ternak ayam petelur. Ada 3.000 ekor, anggarannya sekitar Rp 308 juta,” ujarnya.
Dari Kontraktor ke Balai Desa
Hoho Alkaf, 40 tahun, terpilih sebagai Kepala Desa Purwasaba pada 2019. Latar belakangnya jauh dari birokrasi.
Ia tumbuh sebagai anak seorang kades sekaligus anggota DPRD Banjarnegara, almarhum Siswoyo Siswo Harsono.
Sebelum mencalonkan diri, Hoho berkecimpung di dunia kontraktor dan usaha penyewaan alat berat.
Meski lahir dari keluarga berpolitik, Hoho bukan tipe pejabat berpenampilan konvensional. Tubuhnya dihiasi lebih dari 30 tato, yang ia ukir sejak masa SMA.
“Saya suka seni tato, tidak ada hubungannya dengan moral atau niat jahat,” katanya suatu kali.
Dalam kultur birokrasi desa yang umumnya rapi dan normatif, penampilan Hoho tentu mencolok.
Namun itulah paradoks Hoho: citra keras yang dibalut gestur nyeleneh, tapi dengan keputusan-keputusan yang menyentuh kebutuhan warga.
Rogoh Kocek untuk Desa
Jejak rekam Hoho sebagai kades bukan hanya soal unggahan viral. Sejak awal menjabat, ia sering mengorbankan harta pribadinya untuk infrastruktur desa. Pada 2020, ia mengaspal jalan penghubung antar-dusun sepanjang 800 meter dengan uang sendiri.
Tahun berikutnya, ia menghibahkan mobil pribadi untuk ambulans desa.
“Masyarakat kecil terbebani kalau harus bayar transportasi ke rumah sakit. Saya serahkan mobil, lengkap dengan surat-suratnya,” ujarnya.
Pendapatan resmi kades yang hanya sekitar Rp 3 juta, ditambah hasil tanah desa, jelas tak cukup menutupi gaya kepemimpinan semacam itu.
Hoho mengaku terbiasa hidup mapan sebelum menjabat, sehingga pengabdian menjadi pilihannya kini. “Dulu saya dimanja. Sekarang saya mau belajar tulus untuk masyarakat,” katanya.
Sorotan dan Spekulasi
Popularitas Hoho menimbulkan spekulasi. Ada yang menduga unggahan video yang teratur dan gaya komunikasinya yang lugas merupakan strategi politik untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi.
“Semua sudah direncanakan, target pendeknya bupati,” tulis seorang warganet.
Hoho tidak membantah, tidak pula mengiyakan. Ia hanya menegaskan, “Yang penting saya kerja dulu. Urusan lain nanti.”
Penampilan bertato pun menjadi isu. Apakah seorang kepala desa pantas berpenampilan seperti itu?
Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, Eko Prasetyanto, menyebut tak ada aturan yang melarang. Tato, katanya, adalah urusan etika dan budaya, bukan syarat administratif.
Antara Citra dan Kerja Nyata
Di tengah hiruk-pikuk komentar warganet, Hoho tetap sibuk di kandang ayam dan kolam lele.
Ia tahu, warganya lebih membutuhkan jalan aspal, ketahanan pangan, dan lapangan kerja ketimbang klarifikasi panjang soal tato atau masa lalu.
Kepala desa bertato ini mungkin memang tengah menulis babak baru kepemimpinan desa.
Entah sebagai strategi komunikasi atau pengabdian tulus, sosok Hoho Alkaf kini menjadi simbol: bahwa pemimpin bisa tampil nyentrik, tapi tetap ditakar dari kerja nyata. (*)












