Jakarta, EDITOR.ID,- Usai diminta mundur oleh Dewan Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengundang puluhan kiai sepuh dan ulama kharismatik Nahdlatul Ulama (NU). Namun anehnya Gus Yahya tak mengundang Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dan Sekjen PBNU Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul. Ada apa.
Berdasarkan surat undangan resmi PBNU bernomor 4773/PB.23/B.I.01.08/99/11/2025 yang beredar, acara bertajuk “Silaturahim Alim Ulama” ini diselenggarakan pada pukul 19.30 WIB di Gedung PBNU Lantai 8, Jl. Kramat Raya No. 164, Jakarta.
Surat undangan tertanggal 22 November 2025 tersebut ditandatangani langsung oleh KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU. Tak ada tanda tangan Sekjen PBNU Gus Ipul.
Menanggapi ketidakhadiran kiai Akhyar dan Gus Ipul, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf menyebut jajaran tanfidziyah diwakili langsung oleh dirinya.
Itu sebabnya, surat undangan yang ditujukan kepada 76 alim ulama Indonesia langsung ditandatangani oleh dirinya sendiri. Namun begitu, ia memastikan bahwa kegiatan Silaturahmi Alim Ulama yang digelar di Kantor Pusat PBNU Jakarta, pada Minggu (23/11/2025) merupakan inisiatif tanfidziyah.
Untuk diketahui, tanfidziyah adalah bagian pelaksana organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Dalam struktur, tanfidziyah terdiri dari ketua umum, wakil ketua umum, sekretaris jenderal, beberapa wakil sekretaris jenderal, bendahara umum, dan beberapa bendahara.
Gus Yahya juga menyebut bahwa kegiatan Silaturahmi Alim Ulama ini digelar sebagai bentuk momentum PBNU memperoleh nasihat dan arahan dari para kiai sepuh di tengah santernya isu pemakzulan Ketua PBNU.
“Pertemuan ini sebetulnya adalah inisiatif tanfidziyah PBNU dalam hal ini yang saya wakili dengan mengundang para kiai-kiai karena kami ingin mendapatkan masukan, nasehat arahan-arahan para kiai di dalam situasi saat ini. Sehingga undangannya memang saya tanda tangani sendiri sekadar untuk menghadirkan para kiai,” kata Gus Yahya dalam konferensi pers di Kantor Pusat PBNU, Jakarta, Minggu (23/11) malam.
Meski begitu, Gus Yahya mengaku dalam kegiatan itu dirinya mengundang seluruh pihak secara umum. Tak dibeberkan jelas alasan ketidakhadiran Rais Aam dan Gus Ipul, Gus Yahya hanya menegaskan bahwa tak ada pihak memihak di dalam tubuh PBNU.
Gus Yahya menyatakan PBNU merupakan komunitas yang tunggal atas para kiai-kiai di tanah air. “Tapi kami mengundang secara umum, ya tidak bisa, karena sebetulnya kenyataannya diantara para kiai-kiai ini tidak ada pihak memihak. Semuanya ini adalah komunitas kiai ini semuanya komunitas yang tunggal sebetulnya dari para kiai ini. Tidak ada pihak memihak,” ujar Gus Yahya.
Gus Yahya Menolak Mundur
Gus Yahya menegaskan tidak akan mundur dari jabatannya sebagai Ketum PBNU. Hal itu disampaikan Yahya merespons Risalah rapat harian Syuriah PBNU yang minta dia mengundurkan diri dari jabatannya.
“Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur (dari Ketum PBNU). Karena saya mendapatkan amanah dari muktamar untuk lima tahun, pada muktamar ke-34 lalu,” kata Yahya di Surabaya Minggu (23/11/2025).
Kakak mantan menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Staquf menegaskan akan menyelesaikan jabatannya sebagai Ketum PBNU sesuai mandat muktamar.
“Saya mendapatkan mandat lima tahun dan akan saya jalani lima tahun. Insya Allah saya sanggup. Maka saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur,” tegasnya.
Sebelumnya beredar risalah rapat harian Syuriah PBNU memutuskan Yahya Cholil Staquf harus mundur dari Ketum PBNU dalam waktu tiga hari sejak diterimanya risalah itu. Jika dalam tenggat itu tidak mengundurkan diri, Syuriah akan memberhentikannya.
Risalah itu ditandatangani Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, diputuskan dalam rapat yang dihadiri 37 Pengurus Harian Syuriah di Hotel Aston City Jakarta pada 20 November 2025.
“Musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam memutuskan: KH Yahya Cholil Staquf harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam waktu 3 (tiga) hari terhitung sejak diterimanya keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU,” tulis poin keputusan dalam risalah tersebut.
“Jika dalam waktu 3 (tiga) hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” lanjutnya.
Berdasarkan risalah, desakan pengunduran diri itu terkait undangan narasumber jaringan zionisme internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) yang dianggap melanggar nilai dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah serta bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama.
Selain itu, berkaitan dengan adanya indikasi pelanggaran dalam tata kelola keuangan di lingkungan PBNU.
Gus Nadir: Ada Konflik Internal di PBNU, Karena Pengurus Sudah Tak Sejalan
Sebelumnya, Akademisi sekaligus ulama muda NU di Australia, Nadirsyah Hosen atau yang akrab disapa Gus Nadir menilai, kondisi organisasi tengah mengalami persoalan serius, terutama terkait hubungan pucuk pimpinan PBNU dengan sejumlah pengurus inti. Gus Nadir menyinggung adanya konflik internal yang membuat organisasi berjalan tidak semestinya.
Dalam kritiknya, Gus Nadir menyebut hubungan antara Gus Yahya dengan pengurus lain tidak berjalan harmonis. Ia menyinggung hubungan Gus Yahya dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Bendahara Umum (Bendum) Gudfan Arif Ghofur yang sudah tidak sejalan sejak lama.
Bahkan, Gus Yahya juga disebut tidak menjalin hubungan harmonis dengan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. “Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am,” kata Gus Nadir dalam unggahan pada media sosial Instagram, Minggu (23/11).
Menurutnya, ketidakharmonisan tersebut telah menghambat sinergi organisasi yang seharusnya berjalan kolektif dan sesuai mekanisme AD/ART. Gus Nadir juga menyoroti ketidaksinkronan antara pucuk pimpinan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU. Ia memaparkan bahwa persoalan bukan hanya terjadi pada level Ketua Umum, tetapi juga merembet kepada posisi lain dalam struktur PBNU.
“Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am (yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum). Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum,” paparnya.
Gus Yahya Gelar “Silaturahmi Ulama” Tak Undang Kiai Akhyar dan Gus Ipul
Menyusul beredarnya risalah itu, PBNU mengumpulkan semua pengurus wilayah di Surabaya pada Sabtu (22/11) malam. Rapat koordinasi penting itu digelar di Hotel Novotel Samator, Surabaya, Jawa Timur atas undangan Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Husni dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Faisal Saimima.
Hari ini, Minggu (23/11), Ketum PBNU Yahya mengundang puluhan kiai dan alim ulama untuk menghadiri “Silaturahmi Alim Ulama” di Gedung PBNU lantai 8 di Jl Kramat Raya Nomor 164 Jakarta. Acara dijadwalkan mulai 19.30 WIB.
Dalam undangan bernomor 4773/PB.23/B.I.01.08/99/11/2025 itu ada 76 nama yang masuk daftar undangan. Mereka terdiri dari tokoh-tokoh sepuh NU, ulama kharismatik, hingga intelektual NU. Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) tak masuk daftar.
Daftar Ulama yang Diundang Gus Yahya
Sedikitnya 76 nama alim ulama terkemuka dari berbagai daerah tercantum dalam lampiran undangan. Daftar ini mencakup tokoh-tokoh sepuh, ulama kharismatik, hingga intelektual NU. Beberapa nama besar yang tercantum antara lain:
Nyai Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid
KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus)
Habib Luthfi bin Yahya
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj
Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin
KH. Mutawakkil Alallah
KH. Ulin Nuha Arwani
KH. Azaim Ibrahimy
KH. Abdullah Ubab Maimoen
Dr. KH. Abdul Ghafur Maimoen
Namun dari seluruh nama yang diundang, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar tidak ada dalam daftar. Biasanya, dalam tradisi Nahdlatul Ulama, acara yang menghimpun para ulama besar turut melibatkan Rais Aam sebagai pimpinan tertinggi Syuriyah.
Daftar Lengkap Undangan Silaturahim Alim Ulama
Berikut daftar lengkap kyai yang diundang oleh Gus Yahya malam ini di Gedung PBNU:
KH. Taufiqurrahman Subkhi
KH. Abu Yazid Al-Busthami
Nyai Hj. Shinta Nuriyah A. Wahid
KH. Fuad Nurhasan
KH. Abdullah Kafabihi Mahrus
KH. Ahmad Sadid Jauhari
KH. Imam Buchori Cholil
Prof. Dr. KH. Abd A’la Basyir
KH. Athoilah Sholahuddin Anwar
KH. Zuhri Zaini
KH. Syafi Sampang
KH. Abdul Hakim Mahfudz
KH. Ubaidillah Shodaqoh
KH. Syu’ada Cilacap
KH. Ahmad Haris Shodaqoh
KH. Muhtadi Dimyathi
KH. Ahmad Nadhif Abdul Mujib, Lc., MA.
KH. Abdul Latif Malik
Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., MA.
KH. Muhammad Romli
KH. Ali Akbar Marbun
KH. Ubaidillah Ruhiat
KH. Aziz Masturo
KH. Jirjis Ali Maksum
Prof. Dr. KH. Machasin, MA
Dr. KH. Mu’tashim Billah, M.Pd.I.
Syaikh H. Hasanoel Basri HG
Tgk. Faisal Aceh
Prof. Dr. KH. Zainal Abidin
KH. Abdullah Ubab Maimoen
Dr. KH. Abdul Ghafur Maimoen, MA.
KH. Nurul Huda Djazuli
KH. Mudatsir Badrudin
KH. Agus Ali Masyhuri
KH. Husni Zuhri Lumajang
KH. Abdul Hamid Abdul Qodir Kediri
KH. Azaim Ibrahimy
KH. Abdul Matin Jawahir Tuban
KH. Abdussalam Shohib
KH. Abdurrahman Kausar
KH. Fahim
KH. Moch Chozien Adenan
KH. Fahmi Hadziq
Habib Luthfi bin Ahmad Al-Attas
KH. Zuhrul Anam
Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid
Dr. KH. M. Afifudin Dimyathi, Lc., MA.
KH. Faiz Syukron Makmun, Lc., MA.
KH. Idris Hamid
Habib Lutfi Bin Yahya
KH. Muhammad Nuh Ad-Dawami
KH. A. Mustofa Bisri
KH. Anwar Manshur
KH. Ubaidillah Faqih
KH. Zaim Lasem
KH. Bahaudin Nasution
TGH. LM Turmudzi Badaruddin
KH. Halwani
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
KH. Zakky Mubarok
KH. Ali Kholil Kaltim
Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin
KH. Mutawakkil Alallah
KH. Ulin Nuha Arwani
KH. Aniq Muhammadun
KH. A. Mu’adz Thohir
KH. Abdul Wahab Abdul Gafur, Lc.
KH. Abdul Kadir Makarim
KH. Muhammad Musthofa Aqiel Siroj
KH. Akhmad Said Asrori
KH. Aunullah A’la Habib, Lc.
KH. Nurul Yaqin Ishaq
KH. Adib Rofiuddin Izza
KH. Zamzami Amin
KH. Husein Muhammad
Dr. KH. Nur Taufiq Sanusi, MA. ****












