Guru Besar UGM Bela Jokowi: Tak Mungkin Ijazah Palsu Beliau Kuliah, Ujian dan Yudisium Semua Ada Bukti

Soal Dugaan Ijazah Palsu, Beberkan Pernah Kuliah, Ujian, hingga Wisuda

Wisuda Jokowi

Jakarta, EDITOR.ID,- Guru Besar Hukum Pidana Universitas Gadjah Mada (UGM) Marcus Priyo Gunarto menilai tidak dasarnya tuduhan yang menyasar terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ihwal pemalsuan ijazah. Menurut Marcus, ada dua tindakan pemalsuan dalam ranah hukum pidana, yakni membuat palsu dan memalsukan.

“Membuat palsu, artinya dokumen asli tidak pernah ada. Namun pelaku membuat surat atau akta dalam hal ini ijazah, seolah-olah itu ada dan asli padahal sebelumnya tidak pernah ada. Itu namanya membuat palsu,” kata Marcus dalam website resmi UGM, Kamis (10/4/2025).

Tuduhan ijazah palsu itu dilontarkan Rismon Hasiholan Sianipar. Pasalnya, Rismon menyebut, Jokowi telah melakukan tindakan pemalsuan ijazah dan skripsi.

Soal tindakan memalsukan, lanjut Marcus, dalam hal ini ijazah atau skripsi yang dulunya pernah ada, tetapi mungkin rusak atau hilang, kemudian membuat dokumen baru seolah-olah itu adalah asli.

“Dua duanya adalah kejahatan, dan ada ancaman pidana. Ini tidak jelas yang dituduhkan, memalsukan atau membuat palsu,” papar Marcus Priyo Gunarto.

Dari kemungkinan dua tuduhan yang berpotensi dialamatkan ke Jokowi dan UGM dinilai Marcus sangat lemah.
Pasalnya, dokumen-dokumen yang dimiliki Fakultas Kehutanan UGM memiliki banyak data pendukung yang menunjukkan bahwa Jokowi pernah kuliah, pernah ujian, dan pernah ikut yudisium.

“Yang bersangkutan pernah wisuda, dan ada berita acara yang menunjukkan peristiwa tersebut, maka ijazah memang pernah ada. Bisa dibuktikan dan dapat ditemukan di Fakultas Kehutanan,” tegas Marcus Priyo Gunarto.

Soal bukti fisik skripsi atau ijazah menggunakan huruf time new roman atau memiliki kemiripan dengan font tersebut, kata Marcus, seharusnya tidak hanya melihat dari skripsi atau ijazah milik Jokowi semata, tetapi membandingkan dengan skripsi dan ijazah dengan lulusan Fakultas Kehutanan UGM lain.

“Apakah kemudian yang memiliki kemiripan, lalu dianggap palsu semua? Itu kesimpulan bukan seorang akademisi. Karena skripsi maupun ijazah banyak ditemukan di UGM dengan menggunakan huruf time new roman atau huruf yang hampir mirip dengannya,” cetus Marcus Priyo Gunarto.

Marcus juga menyesalkan jika masih ada pihak yang melontarkan isu dan menuduh bahwa UGM melindungi Jokowi terkait kepemilikan ijazah dan skripsi palsu. Dia menegaskan, tuduhan tersebut sangat keliru.

“Jika kemudian ada dugaan bahwa UGM melakukan perlindungan atau perbuatan seolah-olah hanya untuk kepentingan Joko Widodo, itu sangat salah dan gegabah,” tandas Marcus Priyo Gunarto. (tim)

Leave a Reply